KONTAN.CO.ID - Evan Spiegel sepertinya akan tetap dikenal sebagai CEO termuda di dunia teknologi. Tidak sekadar muda, dirinya juga sukses membuat Snapchat mendunia. Evan Thomas Spiegel adalah salah satu tokoh paling berpengaruh di dunia teknologi modern sebagai pendiri dan CEO Snap Inc., perusahaan di balik aplikasi populer Snapchat yang fiturnya saat ini ditiru banyak kompetitor. Bermula dari ide sederhana saat kuliah, Spiegel sukses mengubah tren media sosial secara total.
Perjalanan Karier Evan Spiegel
Evan Spiegel lahir pada 4 Juni 1990 di Los Angeles, California, Amerika Serikat. Sejak muda, ia sudah menarik minat pada desain dan teknologi dengan mengikuti kursus desain di berbagai institusi. Spiegel tercatat pernah belajar desain di sejumlah sekolah, seperti Otis College of Art and Design dan Art Center College of Design, sebelum masuk ke Stanford University untuk belajar desain produk. Mengutip The Newsmen, karier Spiegel mulai menanjak ketika ia bersama teman kuliahnya Bobby Murphy dan Reggie Brown mengembangkan sebuah aplikasi pesan cepat dengan fitur unik berupa pesan yang hilang otomatis. Ide ini pertama kali mereka wujudkan sebagai proyek kelas di Stanford dan diberi nama Picaboo sebelum akhirnya dikenal sebagai Snapchat pada tahun 2011. Tak butuh waktu lama, Snapchat dengan cepat menarik perhatian dunia teknologi dan pengguna sosial media karena pendekatan baru dalam berkomunikasi. Pada 2012, Snapchat berhasil merangkul 1 juta pengguna aktif harian. Spiegel memutuskan untuk meninggalkan pendidikan formalnya di Stanford demi fokus mengembangkan Snapchat secara penuh. Spiegel bersama Bobby Murphy akhirnya mengubah struktur perusahaan menjadi Snap Inc. pada 2016 dan membuka peluang pertumbuhan lebih luas seperti perangkat keras (Spectacles) serta fitur augmented reality (AR) yang inovatif. Baca Juga: Kisah Sukses Lukas Podolski, Eks Arsenal yang Kini Bangun Kerajaan KebabPeran Besar di Snap Inc.
Logo Snap Inc. terpampang di New York Stock Exchange (NYSE) saat perusahaan tersebut resmi melantai di pasar saham (IPO) pada 2017.
© Foto oleh REUTERS