Profil Lengkap Alexei Miller, Bos Gazprom di Tengah Krisis Gas



KONTAN.CO.ID - Alexei Miller dipastikan tetap memimpin raksasa gas Rusia, Gazprom, selama lima tahun ke depan. Keputusan ini diambil setelah dewan direksi memperpanjang kontraknya.

Penunjukan kembali Miller sekaligus menegaskan bahwa sosok lama di lingkar kekuasaan energi Rusia itu masih memegang kendali atas perusahaan gas terbesar negara tersebut.

Berikut profil, perjalanan karier, serta dinamika Gazprom di bawah kepemimpinan Miller.

Masuk Lingkaran Kekuasaan Kremlin


Alexei Miller lahir di Leningrad, yang kini bernama Saint Petersburg, sekitar 64 tahun lalu.

Karier awalnya berkaitan dengan pemerintahan kota tersebut pada era transisi pasca-Uni Soviet.

Mengutip catatan Reuters, ia bekerja di kantor wali kota bagian hubungan internasional pada periode 1991-1996. Menariknya, departemen itu kala itu dipimpin oleh Vladimir Putin, yang kemudian naik menjadi presiden Rusia.

Kedekatan profesional inilah yang kerap disebut sebagai fondasi kepercayaan politik yang menopang karier Miller di sektor energi negara.

Baca Juga: Gaji CEO Citigroup Jane Fraser Naik Jadi US$42 Juta, Ini Penyebabnya

Mengambil Alih Gazprom

Pada 2001, hanya setahun setelah Putin terpilih sebagai presiden, Miller ditunjuk memimpin Gazprom.

Gazprom merupakan salah satu produsen gas alam terbesar di dunia, baik dari sisi produksi maupun cadangan.

Di bawah kepemimpinannya, negara Rusia kembali memperkuat kendali atas Gazprom. Perusahaan tersebut dipastikan memonopoli ekspor gas alam melalui jaringan pipa.

Kemampuan Gazprom tersebut yang memberi Moskow pengaruh besar terhadap pasar energi regional, khususnya Eropa.

Kritikus Kremlin berulang kali menuduh Rusia menggunakan Gazprom sebagai “senjata energi”, terutama dalam hubungan dengan negara tetangga seperti Ukraina yang sempat menjadi jalur transit utama gas Rusia ke Eropa.

Pemerintah Rusia membantah tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa kebijakan energi mereka bersifat komersial, bukan politik.

Baca Juga: Jejak Roman Abramovich, Oligarki Rusia yang Mengubah Chelsea Jadi Raksasa

Penurunan Tajam Nilai Pasar Gazprom

Pada masa kejayaannya, Gazprom pernah menjadi salah satu perusahaan paling bernilai di dunia. Pada tahun 2007 misalnya, kapitalisasi pasar perusahaan ini melampaui US$ 330 miliar, menjadikannya perusahaan terbesar ketiga secara global saat itu.

Setahun kemudian, Miller bahkan menyatakan optimisme bahwa nilai perusahaan bisa menembus US$ 1 triliun dalam tujuh hingga delapan tahun. Sayangnya, kenyataan menunjukkan sebaliknya.

Pada November 2023, nilai Gazprom merosot drastis menjadi sekitar US$ 43 miliar. Nilai itu bahkan lebih kecil dibanding anak usaha minyaknya, Gazprom Neft.

Penurunan ini terjadi setelah ekspor gas Rusia anjlok ke level terendah sejak runtuhnya Uni Soviet.

Penurunan tajam tersebut dipicu oleh konflik Rusia-Ukraina sejak Februari 2022, ketika Rusia mengirim pasukan ke wilayah Ukraina. Sanksi Barat dan berkurangnya permintaan Eropa membuat ekspor gas pipa Rusia jatuh drastis.

Pada tahun terakhir, ekspor gas melalui pipa ke Eropa hanya sekitar 18 miliar meter kubik. Angka ini jauh di bawah level 175-180 miliar meter kubik per tahun yang dicapai pada 2018 dan 2019.

Baca Juga: Profil Daniel Ek dan Perjalanan Membangun Spotify dari Nol

Tetap Memimpin di Tengah Tekanan

Perpanjangan masa jabatan Alexei Miller menandakan bahwa Kremlin masih mempercayakan masa depan Gazprom kepada figur lama, bahkan ketika perusahaan menghadapi perubahan geopolitik dan pasar energi global yang besar.

Setelah ini, tantangan utama Gazprom adalah mencari pasar baru, menyesuaikan strategi ekspor.

Lebih lanjut, Miller wajib mempertahankan posisi Rusia sebagai pemain utama energi dunia di tengah tekanan internasional.

Baca Juga: Joan Laporta Mundur dari Presiden Barcelona, Ini Profil dan Jejak Kariernya

Selanjutnya: Cuaca Sumsel Minggu (15/2): Hujan Ringan Dominasi, Waspada Petir di PALI!

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: