Profil Ronald dela Rosa, Eks Kepala Kepolisian Filipina yang DIburu ICC



KONTAN.CO.ID - Senator Filipina Ronald dela Rosa menjadi perbincangan setelah namanya dikaitkan dengan penyelidikan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) terkait perang narkoba era mantan Presiden Rodrigo Duterte.

Pada Rabu (13/5), suasana Gedung Senat Filipina sempat memanas ketika suara tembakan terdengar di area kompleks parlemen.


Mengutip Reuters, dalam situasi tersebut dela Rosa meminta publik turun tangan untuk mencegah aparat menyerahkannya ke ICC.

Dela Rosa dituduh terlibat dalam dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan saat memimpin Kepolisian Nasional Filipina dalam operasi perang narkoba Duterte.

Namun, ia membantah keterlibatan dalam pembunuhan ilegal.

Baca Juga: Nasib Duterte: ICC Nyatakan Mantan Presiden Filipina Layak Diadili

Peran Ronald dela Rosa dalam Perang Narkoba Filipina

Saat Rodrigo Duterte mulai menjabat Presiden Filipina pada Juni 2016, Ronald dela Rosa ditunjuk sebagai kepala Kepolisian Nasional Filipina atau Philippine National Police (PNP).

Sebelumnya, dela Rosa dikenal sebagai kepala polisi di Kota Davao City, basis politik utama Duterte.

Ia mendapat mandat luas untuk menerapkan model pemberantasan kriminal ala Davao ke seluruh Filipina.

Program anti-narkoba nasional itu dikenal dengan nama “Project Double Barrel”. Operasi tersebut menargetkan netralisasi pelaku narkoba di seluruh negeri.

Tak lama setelah kebijakan itu dijalankan, angka kematian meningkat tajam.

Kepolisian Filipina mencatat lebih dari 2.000 orang tewas hanya dalam beberapa bulan pertama sejak Duterte dilantik pada 2016.

Sebagian besar kematian disebut terjadi dalam baku tembak antara polisi dan tersangka narkoba.

Pemerintah Filipina secara resmi mengakui lebih dari 6.200 orang tewas dalam operasi anti-narkoba sepanjang pemerintahan Duterte pada 2016-2022.

Baca Juga: Trump Ajak CEO Citigroup Jane Fraser ke China, Sepenting Apa Sosoknya?

Pernyataan Kontroversial Ronald dela Rosa

Selama menjabat sebagai kepala polisi, dela Rosa beberapa kali melontarkan pernyataan keras terkait perang narkoba.

Dalam sejumlah pidato, ia berjanji akan “menghancurkan” bandar narkoba dan memperingatkan adanya pembunuhan atas nama perang terhadap narkotika.

Salah satu pernyataannya yang paling kontroversial adalah ketika ia menyebut aparat akan membuat pelaku “melawan balik” jika mereka tidak melawan saat operasi berlangsung.

Pernyataan-pernyataan tersebut kemudian ikut dimasukkan dalam dokumen penyelidikan ICC terhadap Rodrigo Duterte.

Sebulan setelah menjabat sebagai kepala PNP, dela Rosa juga pernah meminta para pecandu narkoba untuk membunuh bandar narkoba dan membakar rumah mereka.

Baca Juga: Profil El Jardinero, Otak Kartel CJNG yang Diringkus di Meksiko

Karier Politik Ronald dela Rosa

Setelah pensiun dari kepolisian, Ronald dela Rosa sempat menjabat kepala Bureau of Corrections atau lembaga pemasyarakatan Filipina.

Ia kemudian maju dalam pemilihan senator pada 2019 dan berhasil meraih lebih dari 19 juta suara.

Pada pemilu Mei 2025, dela Rosa kembali memenangkan kursi Senat untuk periode kedua.

Belakangan, ia kembali muncul di sidang Senat Filipina setelah sempat menghilang dari publik sejak November lalu.

Kehadirannya berkaitan dengan dinamika politik menjelang proses pemakzulan Wakil Presiden Sara Duterte, putri Rodrigo Duterte.

Baca Juga: Profil El Mencho, Bos Kartel Meksiko yang Tewas dalam Operasi Militer

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News