KONTAN.CO.ID - Presiden Prabowo Subianto melantik Prof. Dr. Satyawan Pudyatmoko, S.Hut., M.Sc. sebagai Kepala Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN) di Istana Negara, Jakarta, Kamis, 15 Oktober 2026. Pelantikan ini disiarkan melalui live streaming di kanal YouTube Sekretariat Presiden. Sebelum dipercaya memimpin badan tersebut, Satyawan memiliki rekam jejak panjang sebagai akademisi, peneliti konservasi satwa liar, dan pejabat di bidang kehutanan. Pengangkatan Satyawan dilakukan melalui Keputusan Presiden RI Nomor 43/M Tahun 2026 tentang Pengangkatan Kepala dan Wakil Kepala BPGMN. Pembentukan badan yang berada langsung di bawah Presiden ini diarahkan untuk memperkuat pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sekaligus meningkatkan pengelolaan ekosistem gambut dan mangrove di Indonesia.
Riwayat Pendidikan Satyawan Pudyatmoko
Satyawan lahir di Boyolali, Jawa Tengah, pada 9 Agustus 1971. Ia merupakan Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan keahlian di bidang pengelolaan satwa liar, konservasi sumber daya hutan, dan ekologi. Mengutip informasi dari UGM Press dan riwayat akademisnya, Satyawan menempuh pendidikan dasar di SD Negeri Samiran 1, Boyolali, hingga 1985. Ia kemudian bersekolah di SMP Negeri 1 Teras sampai 1987 dan melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 1 Boyolali hingga lulus pada 1990. Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, Satyawan melanjutkan studi di Fakultas Kehutanan UGM, Yogyakarta. Ia mengambil Jurusan Konservasi Sumber Daya Hutan dan meraih gelar Sarjana Kehutanan (S.Hut.) pada 1995. Pada tahun yang sama, Satyawan mulai bekerja sebagai staf pengajar di fakultas tempatnya menempuh pendidikan sarjana. Ia kemudian melanjutkan studi magister di Georg-August-Universität Göttingen, Jerman, dengan bidang Tropical and International Forestry. Penelitian tesisnya membahas ekologi burung raja udang di Taman Nasional Baluran, Jawa Timur. Setelah menuntaskan pendidikan magister, Satyawan meneruskan studi doktoral di universitas yang sama dan meraih gelar doktor pada 2005. Disertasinya mengkaji ekologi banteng Jawa (
Bos javanicus) di Taman Nasional Baluran, termasuk penggunaan habitat satwa tersebut. Penelitian ini menjadi bagian dari pengembangan keahliannya dalam memahami perilaku satwa liar dan pengelolaan konservasi di kawasan taman nasional.
Baca Juga: Nuzran Joher Ketua Ombudsman RI, Ini Jejak Karier dan Pendidikannya Perjalanan Karier Akademis di UGM
Sejak menjadi staf pengajar pada 1995, Satyawan menjalankan kegiatan pendidikan dan penelitian yang berkaitan dengan kehutanan serta konservasi satwa liar. Ia juga aktif mengikuti berbagai seminar konservasi, baik sebagai pembicara maupun peserta. Dalam perjalanan akademisnya, Satyawan pernah menduduki sejumlah jabatan struktural di Fakultas Kehutanan UGM. Jabatan tersebut meliputi Kepala Laboratorium Satwa Liar dan Ketua Jurusan Konservasi Sumber Daya Hutan. Pada 2008, ia dipercaya menjadi Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, Kemahasiswaan, dan Alumni untuk periode 2008–2012. Pengalaman tersebut berlanjut ketika ia terpilih sebagai Dekan Fakultas Kehutanan UGM pada 2012 untuk masa jabatan 2012–2016. Satyawan kemudian dikukuhkan sebagai Guru Besar Fakultas Kehutanan UGM pada 25 Februari 2020 dengan bidang keahlian Ilmu Pengelolaan Satwa Liar. Dalam pidato pengukuhannya yang berjudul
Merawat Hubungan Manusia–Satwa Liar, ia menyoroti pentingnya pendekatan konservasi yang turut memperhitungkan aspek sosial dan ekonomi masyarakat. Selain mengajar dan menjalankan penelitian, Satyawan aktif dalam jejaring ilmuwan internasional. Ia menjadi anggota International Union of Forest Research Organizations (IUFRO) serta Wild Cattle Specialist Group di bawah International Union for Conservation of Nature (IUCN). Ia juga terlibat dalam jejaring alumni kehutanan Göttingen atau GAFORN. Satyawan turut menghasilkan publikasi ilmiah mengenai konservasi satwa liar. Di antaranya, penelitian tentang pengaruh ternak yang berkeliaran terhadap keberadaan dan perilaku mamalia liar di Taman Nasional Baluran yang diterbitkan dalam jurnal
Mammalian Biology pada 2017. Pada 2018, ia juga terlibat dalam penelitian berjudul
Towards Sustainable Coexistence: People and Wild Mammals in Baluran National Park, Indonesia yang terbit di jurnal
Forest Policy and Economics. Kajian tersebut membahas upaya membangun hubungan yang berkelanjutan antara masyarakat dan mamalia liar.
Dari BRGM hingga Dirjen KSDAE
Setelah lebih dari dua dekade berkarier di perguruan tinggi, Satyawan mulai mendapat penugasan dalam pengelolaan kebijakan lingkungan di tingkat nasional. Pada April 2021, ia dilantik sebagai Deputi Bidang Perencanaan dan Evaluasi Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM). Penugasan ini berkaitan dengan perencanaan program serta evaluasi kegiatan restorasi gambut dan rehabilitasi mangrove. Dalam posisi tersebut, Satyawan terlibat dalam upaya pemulihan ekosistem gambut yang rusak dan rehabilitasi kawasan mangrove. Ia juga berpartisipasi dalam pembahasan pengelolaan mangrove berkelanjutan, termasuk pengembangan lanskap pesisir dan peluang mata pencaharian bagi masyarakat. Kariernya berlanjut ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Pada 2 Mei 2023, Satyawan dilantik sebagai Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE). Jabatan tersebut tetap diembannya setelah urusan kehutanan berada di bawah Kementerian Kehutanan. Sebelum dilantik sebagai Kepala BPGMN pada 15 Oktober 2026, ia masih tercatat menjabat sebagai Dirjen KSDAE.
Tugas Baru Satyawan Pudyatmoko sebagai Kepala BPGMN
Pengalaman Satyawan di bidang akademis, konservasi, serta restorasi gambut dan mangrove menjadi bagian dari perjalanan profesionalnya sebelum memimpin BPGMN. Badan baru tersebut dibentuk untuk memperkuat pengelolaan ekosistem gambut dan mangrove secara nasional. Selain mendukung pencegahan karhutla, pengelolaan kedua ekosistem ini berkaitan dengan upaya menjaga fungsi lingkungan dan keberlanjutan kawasan pesisir. Dengan pengalaman sebelumnya di BRGM dan Kementerian Kehutanan, Satyawan kini mengemban tanggung jawab di tingkat nasional untuk memimpin BPGMN. Penunjukannya menandai kelanjutan perjalanan kariernya dari dunia akademis menuju pengelolaan kebijakan konservasi dan lingkungan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News