KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri asuransi umum mengalami tekanan profitabilitas hingga semester I-2026. Kondisi ini terlihat dari data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang menunjukkan, rasio
return on equity (ROE) industri asuransi umum turun menjadi 12,7% secara tahunan atau
year on year (YoY) pada semester I-2026. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan ROE pada periode yang sama tahun lalu sebesar 20,0%. Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Budi Herawan mengatakan, penurunan ROE terutama dipengaruhi tekanan profitabilitas industri. Hal ini tercermin dari data di periode yang sama, menunjukkan laba setelah pajak asuransi umum tercatat turun 32,3% menjadi Rp 5,41 triliun, sedangkan ekuitas justru meningkat 6,8%.
Baca Juga: OCBC Proyeksi Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,2% pada 2026, Ini Peluang Investasinya Budi mengatakan, kondisi tersebut dipengaruhi kenaikan klaim bruto sebesar 23,3%, sementara premi mengalami kontraksi 1,6%. Akibatnya, hasil underwriting turun 18,1% dan hasil investasi juga melemah 5,6%. Tekanan terhadap profitabilitas juga terlihat dari kenaikan
combined ratio industri asuransi umum dari 85,2% menjadi 93,6%. Rasio tersebut menunjukkan semakin besarnya tekanan terhadap
margin underwriting. Budi menyebut, sejumlah lini bisnis seperti asuransi kredit dan properti masih menghadapi kenaikan klaim yang cukup signifikan. Di sisi lain, fluktuasi pasar keuangan juga berpotensi mempengaruhi hasil investasi perusahaan asuransi. "Apabila tekanan ini berlanjut tanpa diimbangi perbaikan premi dan efisiensi, tentu berpotensi menahan pemulihan ROE hingga akhir tahun," ujar Budi kepada Kontan, Selasa (3/11/2026). Meski demikian, Budi melihat peluang perbaikan ROE masih terbuka pada semester II-2026. Peluang tersebut didukung potensi membaiknya pertumbuhan premi seiring aktivitas ekonomi, penyaluran kredit, serta meningkatnya kebutuhan perlindungan asuransi. Namun, perbaikan ROE akan sangat bergantung pada kemampuan perusahaan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan premi dan beban klaim.
Baca Juga: Bank Mandiri Perluas Bisnis Bullion, Investasi Emas Mulai 0,02 Gram Bisa Lewat Livin’ "Fokusnya bukan sekadar mengejar pertumbuhan bisnis, tetapi memastikan bisnis yang diperoleh memberikan hasil underwriting yang sehat dan berkelanjutan," jelasnya. Untuk mengantisipasi tekanan profitabilitas, Budi mengatakan, perusahaan asuransi perlu semakin disiplin dalam melakukan seleksi risiko dan
underwriting. Industri juga perlu memperkuat pengendalian klaim, mengevaluasi kecukupan premi serta ketentuan pertanggungan sesuai regulasi, dan mengoptimalkan program reasuransi. Selain itu, efisiensi operasional dan pengelolaan investasi dengan memperhatikan likuiditas serta kesesuaian aset dan kewajiban menjadi hal penting. Di tengah tuntutan penguatan permodalan, perusahaan juga perlu meningkatkan produktivitas ekuitasnya. Budi menegaskan, penguatan profitabilitas harus berjalan beriringan dengan kemampuan perusahaan menjaga kesehatan keuangan. "Bagi AAUI, yang terpenting bukan hanya meningkatkan ROE dalam jangka pendek, tetapi menjaga keseimbangan antara profitabilitas, solvabilitas, dan kemampuan memenuhi kewajiban kepada pemegang polis," pungkasnya. Sementara itu, Pengamat Asuransi Irvan Rahardjo menilai, penurunan ROE industri asuransi umum merupakan dampak dari tekanan ganda, yakni pendapatan premi yang stagnan atau terkoreksi di tengah lonjakan beban klaim dan penurunan hasil investasi. Irvan mencatat, total klaim industri asuransi umum melonjak 29,2% menjadi Rp 27,35 triliun pada semester I-2026, dari Rp 21,17 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan paling tajam terjadi pada lini asuransi properti, dengan klaim meningkat 75,8%.
Baca Juga: Mizuho Leasing Indonesia Membalik Rugi Jadi Laba Rp 2,48 Miliar per Kuartal III-2026 Sementara itu, perolehan premi industri asuransi umum turun 0,5% menjadi Rp 58,19 triliun. Kontraksi terutama terjadi pada lini bisnis properti yang turun 13,6% serta reasuransi. Di sisi investasi, hasil investasi industri asuransi umum juga turun 5,6% secara tahunan menjadi Rp 3,64 triliun.
Menurut Irvan, peluang perbaikan ROE hingga akhir 2026 masih menghadapi tantangan berat. Tren kenaikan klaim dan volatilitas pasar modal diperkirakan masih menekan profitabilitas industri. "Tren rasio klaim yang melonjak tajam serta tingginya volatilitas pasar modal diproyeksikan akan terus menekan ROE industri asuransi umum hingga akhir tahun 2026," kata Irvan. Ia menambahkan, tekanan tersebut diperparah oleh lonjakan rasio klaim pada lini asuransi kredit dan properti yang mempersempit margin keuntungan operasional secara signifikan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News