KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kedaulatan pangan tidak cukup hanya dengan mengejar peningkatan produksi. Kemampuan petani memperoleh keuntungan yang layak dan meningkatkan produktivitas menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan sektor pertanian. Hal ini mengemuka dalam Indonesia
Petani MAJU Summit 2026 yang digelar Syngenta Indonesia pada 22 September 2026.
Forum tersebut mempertemukan pemerintah, legislator, peneliti, industri, dan petani untuk membahas penguatan riset, inovasi, dan kolaborasi di sektor pertanian.
Baca Juga: Beberapa Aset Sederhana Ini Jadi Kunci Jutawan Baru, Anda Bisa Jadi Orang Kaya lo Bagi industri pertanian, inovasi perlu diarahkan bukan sekadar menghasilkan teknologi baru, tetapi membantu petani meningkatkan hasil dan efisiensi usaha tani. “Inovasi harus dimulai dari kebutuhan petani,” ujar Eryanto dari Syngenta Indonesia dalam keterangannya, Kamis (24/9/2026). Syngenta menempatkan peningkatan profitabilitas sebagai salah satu dari empat pilar Petani MAJU, bersama percepatan inovasi, keberlanjutan, dan kolaborasi. Pendekatan ini dinilai penting karena peningkatan produksi belum otomatis meningkatkan keuntungan petani jika masih dibebani biaya input dan tantangan usaha tani. Dari sisi pembangunan nasional, Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas Leonardo A.A. Teguh Sambodo menegaskan pertanian tetap memiliki peran penting dalam perekonomian Indonesia. “Negara kita negara agraris dan pertanian tidak akan pernah mati,” kata Teguh.
Baca Juga: Upaya Mendorong PSN Wanam Jadi Pusat Cadangan Pangan Nasional Sementara itu, Anggota Komisi IV DPR RI Endang Setyawati Thohari menekankan pentingnya penelitian dan inovasi menjadi fondasi kebijakan pertanian. Menurutnya, hasil riset perlu dihubungkan dengan kebutuhan nyata di lapangan agar memberikan dampak yang terukur bagi petani. Penguatan inovasi menjadi salah satu cara untuk menjaga produktivitas dan daya tahan usaha tani. Syngenta menyatakan pendekatan
farmer-centric menjadi bagian dari program Petani MAJU, dengan menempatkan petani sebagai bagian dari proses pengembangan solusi pertanian. Festival Padi Petani MAJU 2026 berlangsung pada 22–24 September 2026 dan mengangkat empat pilar tersebut.
Forum ini melibatkan sejumlah pemangku kepentingan, termasuk Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN Puji Lestari, Principle Scientist sekaligus Head Rice Genetic Design & Validation Unit International Rice Research Institute (IRRI) Inez Slamet-Loedin, serta perwakilan petani H. Sardi.
Baca Juga: Standar SNI Vape Dinilai Jadi Kunci Pengawasan dan Perlindungan Konsumen Bagi sektor pangan, penguatan produktivitas dan profitabilitas petani pada akhirnya menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan produksi. Dengan demikian, kedaulatan pangan tidak hanya menyangkut kecukupan pasokan, tetapi juga memastikan kegiatan produksi tetap layak secara ekonomi bagi petani. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News