Program E20 Diyakini Dongkrak Serapan Hasil Pertanian Nasional



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rencana percepatan implementasi program bahan bakar E20 dinilai bakal membawa dampak positif bagi sektor hulu pertanian di dalam negeri. 

Anggota Komisi XII DPR RI, Beniyanto Tamoreka menilai, kebijakan bauran bioetanol 20% tersebut bakal memberikan dampak berganda bagi industri dari hulu sampai hilir.

"Kami melihat program ini akan memberikan multiplier effect yang sangat besar. Permintaan terhadap singkong, tebu, jagung, sorgum, dan komoditas lainnya tentu akan meningkat," ujarnya melalui keterangan tertulis, Selasa (30/6/2026).


Beniyanto mengatakan, kebijakan E20 ini menjadi langkah strategis demi menggerakkan ekonomi pedesaan melalui kepastian serapan pasar yang jelas.

Baca Juga: Multi Indocitra (MICE) Bidik Kenaikan Pendapatan High Single Digit pada Tahun 2026

Menurutnya, peningkatan kebutuhan bioetanol nasional yang diproyeksikan mencapai 4 juta kiloliter (KL) untuk mendukung Program E20 diyakini menjadi stimulus besar bagi industri bioenergi domestik.

"Apalagi pemerintah mendorong pengembangannya melalui pola kemitraan inti-plasma. Model seperti ini akan memberikan kepastian pasar bagi petani, memperkuat industri pengolahan di daerah, sekaligus menciptakan nilai tambah ekonomi yang lebih besar," katanya.

Legislator dari Fraksi Partai Golkar tersebut menuturkan, daerah-daerah yang memiliki potensi pertanian besar di Indonesia berpeluang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru apabila ekosistem dari hulu ke hilir digarap optimal.

Menurutnya, kepastian pasar merupakan faktor penting untuk menarik investasi, memberikan keyakinan kepada petani dan pelaku usaha, serta mempercepat terbentuknya ekosistem industri bioetanol yang berkelanjutan.

Sebelumnya, Kementerian ESDM mencatat, kebutuhan bioetanol murni untuk mendukung implementasi E20 mencapai sekitar 4 juta kiloliter (KL) per tahun. 

Perhitungan tersebut didasarkan pada konsumsi bensin nasional yang mencapai sekitar 40 juta KL per tahun. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, pemerintah mendorong perguruan tinggi memperkuat riset dan inovasi dalam pengolahan bahan baku bioetanol berbasis komoditas lokal. 

Pemerintah juga membuka peluang kerja sama antara dunia pendidikan, industri, dan masyarakat melalui skema kemitraan inti-plasma guna mengembangkan tanaman penghasil bioetanol seperti tebu, singkong, dan jagung. 

"Saya mengajak pihak-pihak perguruan tinggi bersama berkolaborasi pada Program E20. Negara akan menjadi offtaker atau penjamin pasar karena E20 membutuhkan 4 juta kiloliter. Ini bisa kita bangun dengan pola plasma inti bersama rakyat. Offtakernya jauh lebih jelas karena negara, daripada kita terus mengimpor dari Amerika atau Eropa," kata Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, Minggu (28/6/2026).

Baca Juga: Program B50 Bakal Rilis 1 Juli, Grup Sawit Raksasa dan Pertamina Paling Diuntungkan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News