KONTAN.CO.ID- JAKARTA. Program konversi Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) bakal dipercepat oleh BPI Danantara. Langkah ini dinilai akan menjadi peluang bagi emiten-emiten yang memiliki lini bisnis pengembangan PLTS maupun terkait rantai pasok di dalamnya. Dalam berita sebelumnya, Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia Rosan Roeslani menyatakan, konversi PLTD menjadi PLTS dianggap strategis lantaran tidak hanya meningkatkan efisiensi biaya operasional, melainkan juga memangkas ketergantungan terhadap bahan bakar fosil yang rentan terhadap fluktuasi harga global. Percepatan konversi PLTD ke PLTS menjadi bagian dari upaya lebih besar dalam mendorong transisi energi bersih. Program ini juga dapat menekan beban subsidi energi dalam jangka panjang sekaligus meningkatkan ketahanan energi nasional. Sebagai informasi, terdapat beberapa emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang memiliki lini bisnis berupa pengembangan PLTS untuk kebutuhan komersial. Baca Juga: Bitcoin Tangguh di Tengah Gejolak Global, Emas dan Saham Tertekan Salah satunya adalah PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang melalui anak usahanya yaitu PT Daya Sukses Makmur Selaras membentuk perusahaan patungan bernama PT Trina Mas Agra Indonesia (TMAI) dengan berkolaborasi bersama Trina Solar Co. Ltd dann PT PLN Indonesia Power Renewable. TMAI telah membangun pabrik sel dan modul surya di Kendal, Jawa Tengah, dengan nilai investasi lebih dari Rp 1,5 triliun dan mampu menghasilkan panel surya berdaya 720 Wp per panel. Selain itu, ada PT Indika Energy Tbk (INDY) yang merambah bisnis PLTS dengan mengakuisisi proyek sewa daya PLTS senilai Rp 31 miliar dari PT Tripatra Multi Energi (TIME) pada akhir Oktober 2025. Aset PLTS tersebut berada di empat lokasi yaitu Semarang, Grati, Bali, dan Surabaya. PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) juga telah berekspansi ke bisnis PLTS dengan menggarap proyek PLTS Terapung di Batam yang berkapasitas 46 MWp dan ditargetkan beroperasi pada tahun ini. Emiten lainnya, yaitu PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) melalui anak usahanya PT Medco Power Indonesia turut berkecimpung di industri PLTS dengan mengoperasikan PLTS berkapasitas 25 MWp di Bali Timur pada pertengahan Juni 2025. Di samping itu, terdapat PT Futura Energi Global Tbk (FUTR) yang berencana membangun PLTS berkapasitas 130 MWp di Bali dengan menggandeng investor dari China. Saat ini proyek tersebut sedang dalam proses studi kelayakan. Emiten pertambangan pelat merah, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) juga memiliki portofolio proyek PLTS komersial. Di antaranya adalah PLTS di Kawasan Industri Cilegon dan PLTS di ruas Jalan Tol Bali-Mandara. Tak hanya itu, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) juga telah melakukan diversifikasi bisnis dengan mengembangkan PLTS di kawasan Kalimantan Tengah. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, percepatan konversi PLTD ke PLTS patut dilakukan di tengah menanjaknya harga minyak dunia sebagai bahan bakar penggerak PLTD. Program percepatan ini tentu tidak bisa dilakukan Danantara sendirian. Dibutuhkan keterlibatan pihak swasta yang juga memiliki modal kuat dan kompetensi di bidang energi terbarukan, khususnya PLTS. Hal inilah yang akan membuka peluang bagi emiten-emiten pengembang PLTS maupun manufaktur komponen PLTS untuk terlibat dalam proyek tersebut. "Harus ada sinergi dengan berbagai perusahaan untuk menyukseskan program konversi tersebut," kata dia, Selasa (24/3). Jika emiten benar-benar dilibatkan dalam program ini, maka mereka membutuhkan modal yang kuat mengingat biaya investasi awal untuk pembangunan PLTS tergolong besar. Bukan tidak mungkin, emiten memerlukan dukungan dari investor yang fokus pada sektor berkelanjutan sebagai mitra pengembangan PLTS. Nafan menambahkan, program konversi PLTD ke PLTS bakal diminati oleh emiten-emiten jika dibarengi oleh kemudahan regulasi pembangunan dan pengoperasian PLTS dari pemerintah, terutama yang berkaitan dengan kebijakan tarif listrik dan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) komponen pembangkit tersebut. Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas Fath Aliansyah menimpali, program konversi PLTD ke PLTS di atas kertas akan menjadi sentimen positif bagi emiten pengembang dan produsen PLTS untuk meningkatkan kinerjanya secara jangka panjang. Walau demikian, emiten perlu menimbang segala risiko yang bisa timbul ketika terlibat dalam proyek tersebut. "Emiten harus bisa memastikan perputaran arus kasnya akan seperti apa dan berapa kebutuhan dananya untuk pengembangan proyek tersebut," ungkap dia, Selasa (24/3). Sementara itu, Pengamat Pasar Modal dan Co-Founder AP Trading Insight Singapore Kiswoyo Adi Joe mengatakan, meski punya potensi besar, konversi PLTD menjadi PLTS bukan perkara mudah. Pasalnya, PLTS bukan termasuk pembangkit baseload yang dapat beroperasi terus-menerus selama 24 jam penuh. Produksi listrik PLTS sangat ditentukan oleh kondisi sinar matahari pada siang hari dan kemampuan baterai dalam menyimpan energi surya agar pembangkit tersebut bisa beroperasi di malam hari. Belum lagi, saat ini PLN masih berhadapan dengan kondisi kelebihan pasokan listrik. Alhasil, setiap pembangunan pembangkit baru harus dilakukan secara hati-hati sekalipun statusnya sebagai pengganti pembangkit lama. Dari sisi investasi, Kiswoyo memandang investor perlu mencermati lebih dalam subsektor PLTS. Pasalnya, sejauh ini belum ada emiten yang mampu menghasilkan kontribusi pendapatan besar dari lini bisnis PLTS. Sebagian besar emiten baru menjadikan proyek PLTS sebagai bentuk diversifikasi bisnis. "Investor masih melihat sektor PLTS sebagai pilihan jangka panjang, namun bukan sebagai driver utama kinerja emiten," kata dia, Selasa (24/3). Memang, sebenarnya ada emiten yang punya spesialisasi sebagai manufaktur produk panel surya, yaitu PT Sky Energy Indonesia Tbk (JSKY). Namun, nasib JSKY dipenuhi ketidakpastian lantaran sahamnya disuspensi BEI sejak pertengahan 2022. Emiten ini juga berhadapan dengan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) pada September 2023 lalu. Kiswoyo menyebut, dari sekian emiten yang memiliki lini bisnis PLTS, DSSA dipandang memiliki potensi menjanjikan secara jangka panjang. Keberadaan pabrik panel surya dan dukungan dari Grup Sinar Mas akan memudahkan DSSA untuk terlibat dalam berbagai proyek pembangunan PLTS. Di lain pihak, Fath menyebut TOBA memiliki potensi besar di sektor PLTS seiring transformasi bisnis yang mulai terefleksi pada kinerja keuangan. Agenda transformasi bisnis TOBA terlihat progresnya dari segmen waste management dan turunannya. "PLTS menjadi salah satu yang akan dikejar (TOBA), namun kontribusinya belum signifikan saat ini," tandas dia. Baca Juga: Pasca-Lebaran, IHSG Diproyeksi Masih Bergejolak Dipengaruhi Ketegangan Global
Program Konversi PLTD ke PLTS Dipercepat, Begini Dampaknya Bagi Emiten
KONTAN.CO.ID- JAKARTA. Program konversi Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) bakal dipercepat oleh BPI Danantara. Langkah ini dinilai akan menjadi peluang bagi emiten-emiten yang memiliki lini bisnis pengembangan PLTS maupun terkait rantai pasok di dalamnya. Dalam berita sebelumnya, Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia Rosan Roeslani menyatakan, konversi PLTD menjadi PLTS dianggap strategis lantaran tidak hanya meningkatkan efisiensi biaya operasional, melainkan juga memangkas ketergantungan terhadap bahan bakar fosil yang rentan terhadap fluktuasi harga global. Percepatan konversi PLTD ke PLTS menjadi bagian dari upaya lebih besar dalam mendorong transisi energi bersih. Program ini juga dapat menekan beban subsidi energi dalam jangka panjang sekaligus meningkatkan ketahanan energi nasional. Sebagai informasi, terdapat beberapa emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang memiliki lini bisnis berupa pengembangan PLTS untuk kebutuhan komersial. Baca Juga: Bitcoin Tangguh di Tengah Gejolak Global, Emas dan Saham Tertekan Salah satunya adalah PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang melalui anak usahanya yaitu PT Daya Sukses Makmur Selaras membentuk perusahaan patungan bernama PT Trina Mas Agra Indonesia (TMAI) dengan berkolaborasi bersama Trina Solar Co. Ltd dann PT PLN Indonesia Power Renewable. TMAI telah membangun pabrik sel dan modul surya di Kendal, Jawa Tengah, dengan nilai investasi lebih dari Rp 1,5 triliun dan mampu menghasilkan panel surya berdaya 720 Wp per panel. Selain itu, ada PT Indika Energy Tbk (INDY) yang merambah bisnis PLTS dengan mengakuisisi proyek sewa daya PLTS senilai Rp 31 miliar dari PT Tripatra Multi Energi (TIME) pada akhir Oktober 2025. Aset PLTS tersebut berada di empat lokasi yaitu Semarang, Grati, Bali, dan Surabaya. PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) juga telah berekspansi ke bisnis PLTS dengan menggarap proyek PLTS Terapung di Batam yang berkapasitas 46 MWp dan ditargetkan beroperasi pada tahun ini. Emiten lainnya, yaitu PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) melalui anak usahanya PT Medco Power Indonesia turut berkecimpung di industri PLTS dengan mengoperasikan PLTS berkapasitas 25 MWp di Bali Timur pada pertengahan Juni 2025. Di samping itu, terdapat PT Futura Energi Global Tbk (FUTR) yang berencana membangun PLTS berkapasitas 130 MWp di Bali dengan menggandeng investor dari China. Saat ini proyek tersebut sedang dalam proses studi kelayakan. Emiten pertambangan pelat merah, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) juga memiliki portofolio proyek PLTS komersial. Di antaranya adalah PLTS di Kawasan Industri Cilegon dan PLTS di ruas Jalan Tol Bali-Mandara. Tak hanya itu, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) juga telah melakukan diversifikasi bisnis dengan mengembangkan PLTS di kawasan Kalimantan Tengah. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, percepatan konversi PLTD ke PLTS patut dilakukan di tengah menanjaknya harga minyak dunia sebagai bahan bakar penggerak PLTD. Program percepatan ini tentu tidak bisa dilakukan Danantara sendirian. Dibutuhkan keterlibatan pihak swasta yang juga memiliki modal kuat dan kompetensi di bidang energi terbarukan, khususnya PLTS. Hal inilah yang akan membuka peluang bagi emiten-emiten pengembang PLTS maupun manufaktur komponen PLTS untuk terlibat dalam proyek tersebut. "Harus ada sinergi dengan berbagai perusahaan untuk menyukseskan program konversi tersebut," kata dia, Selasa (24/3). Jika emiten benar-benar dilibatkan dalam program ini, maka mereka membutuhkan modal yang kuat mengingat biaya investasi awal untuk pembangunan PLTS tergolong besar. Bukan tidak mungkin, emiten memerlukan dukungan dari investor yang fokus pada sektor berkelanjutan sebagai mitra pengembangan PLTS. Nafan menambahkan, program konversi PLTD ke PLTS bakal diminati oleh emiten-emiten jika dibarengi oleh kemudahan regulasi pembangunan dan pengoperasian PLTS dari pemerintah, terutama yang berkaitan dengan kebijakan tarif listrik dan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) komponen pembangkit tersebut. Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas Fath Aliansyah menimpali, program konversi PLTD ke PLTS di atas kertas akan menjadi sentimen positif bagi emiten pengembang dan produsen PLTS untuk meningkatkan kinerjanya secara jangka panjang. Walau demikian, emiten perlu menimbang segala risiko yang bisa timbul ketika terlibat dalam proyek tersebut. "Emiten harus bisa memastikan perputaran arus kasnya akan seperti apa dan berapa kebutuhan dananya untuk pengembangan proyek tersebut," ungkap dia, Selasa (24/3). Sementara itu, Pengamat Pasar Modal dan Co-Founder AP Trading Insight Singapore Kiswoyo Adi Joe mengatakan, meski punya potensi besar, konversi PLTD menjadi PLTS bukan perkara mudah. Pasalnya, PLTS bukan termasuk pembangkit baseload yang dapat beroperasi terus-menerus selama 24 jam penuh. Produksi listrik PLTS sangat ditentukan oleh kondisi sinar matahari pada siang hari dan kemampuan baterai dalam menyimpan energi surya agar pembangkit tersebut bisa beroperasi di malam hari. Belum lagi, saat ini PLN masih berhadapan dengan kondisi kelebihan pasokan listrik. Alhasil, setiap pembangunan pembangkit baru harus dilakukan secara hati-hati sekalipun statusnya sebagai pengganti pembangkit lama. Dari sisi investasi, Kiswoyo memandang investor perlu mencermati lebih dalam subsektor PLTS. Pasalnya, sejauh ini belum ada emiten yang mampu menghasilkan kontribusi pendapatan besar dari lini bisnis PLTS. Sebagian besar emiten baru menjadikan proyek PLTS sebagai bentuk diversifikasi bisnis. "Investor masih melihat sektor PLTS sebagai pilihan jangka panjang, namun bukan sebagai driver utama kinerja emiten," kata dia, Selasa (24/3). Memang, sebenarnya ada emiten yang punya spesialisasi sebagai manufaktur produk panel surya, yaitu PT Sky Energy Indonesia Tbk (JSKY). Namun, nasib JSKY dipenuhi ketidakpastian lantaran sahamnya disuspensi BEI sejak pertengahan 2022. Emiten ini juga berhadapan dengan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) pada September 2023 lalu. Kiswoyo menyebut, dari sekian emiten yang memiliki lini bisnis PLTS, DSSA dipandang memiliki potensi menjanjikan secara jangka panjang. Keberadaan pabrik panel surya dan dukungan dari Grup Sinar Mas akan memudahkan DSSA untuk terlibat dalam berbagai proyek pembangunan PLTS. Di lain pihak, Fath menyebut TOBA memiliki potensi besar di sektor PLTS seiring transformasi bisnis yang mulai terefleksi pada kinerja keuangan. Agenda transformasi bisnis TOBA terlihat progresnya dari segmen waste management dan turunannya. "PLTS menjadi salah satu yang akan dikejar (TOBA), namun kontribusinya belum signifikan saat ini," tandas dia. Baca Juga: Pasca-Lebaran, IHSG Diproyeksi Masih Bergejolak Dipengaruhi Ketegangan Global