Program rehabilitasi lada tidak terasa, produksi kian turun



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Produksi dan ekspor komoditas lada sedang terpuruk. Program pemerintah akan pembagian bibit dan rehabilitasi lada dinilai masih kurang.

Ketua Umum Dewan Rempah Indonesia Gamal Nasir menyampaikan tahun ini pemerintah telah mengadakan bantuan bibit lada, namun realisasinya masih belum terasa.

Kementerian Pertanian pada tahun ini mengadakan 3,2 juta bibit lada yang bakal diserahkan gratis kepada petani di Bangka Belitung. Namun menurut Gamal, kenyataannya tidak bulat mencapai angka target dan belum terlihat hasilnya.


"Hasilnya baru bisa terlihat 4-7 tahun lagi, sedangkan bantuan intensifikasinya belum terlihat, hanya bagi bibit tahun ini maka hasilnya belum terlihat," jelasnya saat dihubungi Kontan.co.id, Kamis (20/12).

Tanaman lada memang tengah terpuruk karena minimnya minat petani dan bantuan untuk tingkatkan produktivitas komoditas ini. Untuk saat ini hasil tanam lada baru bisa mendulang 1 ton per ha dan jauh dari potensi dengan bibit unggul di 1,5 - 2 ton per ha.

Direktur Tanaman Semusim dan Rempah Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Agus Wahyudi menyampaikan pihaknya sebenarnya sudah berupaya melakukan perluasan tanam dan perbaikan pola tanam petani setempat.

"Kita berupaya tingkatkan produktivitasnya menjadi 1,5 - 2 ton agar petani bisa mendapatkan keuntungan dan bila harga bisa dibuat stabil di Rp 80.000 per kg," katanya.

Harga lada memang kian terpuruk, pada kuartal III lalu, harga lada hitam dari sentra produksi Lampung dihargai Rp 35.000 - Rp 40.000 per kilogram, sedangkan harga lada putih dari Bangka Belitung sebesar Rp 50.000 - Rp 60.000 per kg.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News