Properti Residensial Masih Prospektif,Karawang Green Village Catat Kenaikan Penjualan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sektor properti residensial dinilai masih mampu mempertahankan daya tariknya di tengah tekanan ekonomi dan pelemahan nilai tukar rupiah. Hal ini tercermin dari meningkatnya minat konsumen terhadap hunian di Karawang Green Village 3 (KGV3) pada kuartal II-2026.

Direktur Citanusa Group Anton Suwandi mengatakan, peningkatan tersebut terlihat dari rasio penjualan terhadap jumlah calon pembeli (closing rate) yang naik dari sekitar 20% pada kuartal I 2026 menjadi hampir 30% pada kuartal II 2026.

"Di tengah berbagai tantangan ekonomi, kami justru melihat adanya peningkatan kepercayaan konsumen terhadap sektor properti. Hal ini terlihat dari peningkatan closing rate terhadap jumlah kunjungan konsumen, yang naik dari 20% pada kuartal pertama menjadi hampir 30% pada kuartal kedua 2026," ujar Anton dalam keterangannya, Kamis (2/7/2026).


Menurutnya, kenaikan tersebut menunjukkan masyarakat masih memandang properti sebagai instrumen investasi jangka panjang sekaligus kebutuhan hunian yang memiliki prospek pertumbuhan nilai.

Baca Juga: REI Minta Kemendagri Dorong Pemda Pangkas BPHTB demi Dongkrak Penjualan Rumah

Anton menilai, tren tersebut sejalan dengan kondisi pasar properti nasional. Berdasarkan Survei Harga Properti Residensial Bank Indonesia Triwulan I 2026, penjualan rumah tipe menengah masih mencatatkan pertumbuhan, menandakan permintaan pada segmen middle market tetap kuat.

Kondisi tersebut dinilai relevan dengan produk yang dikembangkan KGV3 yang menyasar keluarga muda dan masyarakat kelas menengah melalui hunian dengan kisaran harga Rp300 juta hingga Rp600 juta.

Selain peningkatan penjualan, Citanusa Group juga mencatat kenaikan harga salah satu produk hunian di KGV3. Tipe Cattapa berukuran 32/60 misalnya, mengalami kenaikan harga dari Rp350 juta pada 2025 menjadi Rp380 juta pada 2026 atau meningkat sekitar 9% dalam setahun.

Menurut Anton, kenaikan harga tersebut mencerminkan bahwa properti residensial masih mampu mencatatkan apresiasi nilai di tengah berbagai tantangan ekonomi.

Ia mengatakan, prospek kawasan Karawang Timur turut menjadi salah satu faktor yang menopang permintaan. Kawasan tersebut berkembang sebagai pusat industri sekaligus didukung pembangunan infrastruktur, seperti Jalan Tol Layang Jakarta-Cikampek (MBZ).

Baca Juga: Pengembang Perkuat Nilai Proyek Lewat Fasilitas Kawasan

Selain itu, rencana perpanjangan layanan KRL Commuter Line hingga Cikampek yang masuk dalam Rencana Strategis Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) juga dinilai berpotensi meningkatkan nilai kawasan.

"Jika rencana perpanjangan layanan KRL hingga Cikampek terealisasi, KGV3 berpotensi berkembang menjadi kawasan hunian berorientasi transit (transit oriented development/TOD). Lokasinya hanya sekitar lima menit dari Stasiun Kosambi yang berada di koridor perpanjangan KRL," kata Anton.

Ia menambahkan, kemudahan akses transportasi massal diperkirakan akan meningkatkan mobilitas penghuni sekaligus menjadi nilai tambah bagi kawasan hunian tersebut.

Di sisi lain, KGV3 juga mengusung konsep kawasan ramah keluarga (kids friendly) dengan menyediakan berbagai fasilitas seperti kolam renang, taman bermain, playground, jogging track, hingga area rekreasi anak.

Menurut Anton, insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) untuk pembelian rumah juga masih menjadi salah satu faktor yang mendukung permintaan hunian residensial pada tahun ini.

Dengan kombinasi insentif pemerintah, pengembangan infrastruktur, serta prospek kenaikan nilai aset, Citanusa Group optimistis permintaan hunian di segmen menengah masih akan bertahan hingga akhir 2026.

Baca Juga: Kinerja Ciputra Development (CTRA) Terdampak Perlambatan Pasar Properti

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News