KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) diproyeksikan tetap bergerak positif hingga penutupan tahun 2026. Pertumbuhan perseroan bakal disokong oleh kombinasi bisnis distribusi bahan bakar minyak (BBM) serta penjualan lahan di kawasan industri Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE) Gresik. Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menilai prospek kinerja AKRA hingga akhir tahun berada dalam jalur yang konstruktif.
Realisasi penjualan lahan JIIPE sebesar 58 hektare (ha) pada semester I-2026 yang ditambah dengan target 40 ha pada periode Agustus–September akan membawa pencapaian full year mendekati batas atas guidance perusahaan. "Dual growth engine dari distribusi BBM yang bersifat recurring dan JIIPE land sales yang project-based saling melengkapi," ujar Wafi kepada Kontan, Rabu (12/8/2026).
Baca Juga: Prospek dan Rekomendasi Saham AKRA Usai Raih Lonjakan Laba 21% pada Semester I-2026 Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas, menambahkan bahwa perolehan laba bersih AKRA sepanjang semester I-2026 telah mencerminkan solidnya operasional perseroan. Laba bersih di paruh pertama tahun ini bahkan sudah mencapai sekitar 59% dari total pencapaian laba bersih sepanjang 2025. Sejalan dengan riset Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Hasan Barakwan, yang mencatat laba bersih semester I-2026 AKRA melesat 21,2% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp 1.43 triliun. Dari sisi top line, riset INA Sekuritas Indonesia memperlihatkan bahwa segmen kawasan industri dan utilitas menjadi mesin pertumbuhan paling moncer setelah pendapatan segmen ini melonjak 102% YoY menjadi Rp 1.7 triliun. Untuk paruh kedua 2026, Sukarno memproyeksikan pendorong kinerja akan datang dari berlanjutnya penjualan lahan JIIPE serta pemulihan operasional tenant-tenant besar. "Pertumbuhan utilitas dan harga minyak yang lebih tinggi juga berpotensi menopang kinerja di semester II-2026," tutur Sukarno.
Baca Juga: Laba AKR Corporindo (AKRA) Naik 21% Jadi Rp 1,43 Triliun per Semester I-2026 Dari sisi profitabilitas, lonjakan permintaan utilitas dari tenant skala besar di JIIPE dinilai memegang peranan kunci terhadap ekspansi margin AKRA ke depan. Wafi menjelaskan bahwa margin bisnis distribusi BBM cenderung sensitif terhadap kebijakan harga dan dinamika kompetisi. Sebaliknya, segmen utilitas kawasan industri menawarkan margin yang lebih stabil dan terprediksi berkat kontrak jangka panjang. "Kenaikan permintaan utilitas dari tenant besar, terutama data center dengan power consumption signifikan, bisa jadi margin driver powerful karena lebih stabil daripada komoditas BBM yang volatil," kata Wafi. Pengembangan fasilitas smelter PT Freeport Indonesia serta pengoperasian pabrik Xinyi Glass turut memperkuat prospek recurring income utilitas AKRA, yang ditargetkan mencapai Rp 1 triliun pada 2026 dan naik menjadi Rp 2 triliun pada 2027. Di samping kawasan industri, aksi ekspansi AKRA di proyek Floating Storage Regasification Unit (FSRU) LNG senilai USD 319 juta hingga USD 500 juta menjadi perhatian jangka panjang investor. Wafi memaparkan bahwa proyek FSRU bakal mentransformasi AKRA menjadi infrastruktur midstream berbasis tarif (fee-based recurring), meski kontribusi fisiknya baru akan terasa sekitar tahun 2029.
Baca Juga: Ekspansi AKR Corporindo (AKRA) Bangun Kapal FSRU, Ini Buka Peluang Pertumbuhan Baru Mengenai dampaknya terhadap dividen, kombinasi proyek FSRU dan JIIPE dinilai positif untuk menjaga kesinambungan pembagian dividen jangka panjang. Namun, Wafi memberi catatan khusus untuk periode jangka pendek. "Dividen jangka pendek perlu dimonitor apakah capex FSRU terlalu menekan free cash flow," tegasnya. Meski prospeknya benderang, investor tetap perlu mencermati sejumlah tantangan operasional hingga akhir tahun. Sukarno menyebutkan bahwa volatilitas harga minyak dan komoditas, tekanan margin pada bisnis distribusi BBM, serta risiko fluktuasi nilai tukar rupiah dapat menjadi penahan laju kinerja. Selain itu, risiko perlambatan investasi industri juga berpotensi memengaruhi konsistensi penjualan lahan JIIPE. Senada, Wafi menyoroti tantangan eksekusi belanja modal FSRU di tengah era suku bunga BI Rate sebesar 5,75%, serta tren pelemahan rupiah yang berisiko mengerek biaya distribusi BBM berbasis impor.
Atas dasar pertimbangan kinerja operasional yang kuat, pertumbuhan JIIPE, serta prospek utilitas yang makin solid, Sukarno menaikkan estimasi pendapatan FY26 AKRA menjadi Rp 60.9 triliun dan laba bersih menjadi Rp 3.14 triliun. Sukarno mempertahankan rekomendasi
buy untuk saham AKRA dengan target harga Rp 1.700 per saham.
Baca Juga: AKR Corporindo (AKRA) Akan Tebar Dividen Interim Rp 50 per Saham Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News