Prospek AUD dan NZD Dibayangi Efek dari Ketergantungan Ekspor dengan China



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Ketergantungan perdagangan Australia dan Selandia Baru terhadap China menjadi salah satu risiko eksternal yang perlu diperhatikan dalam melihat prospek dolar Australia (AUD) dan dolar Selandia Baru (NZD).

Perubahan permintaan dari negara tersebut berpotensi memengaruhi kedua mata uang melalui jalur ekspor yang berbeda, seiring perbedaan komoditas unggulan masing-masing negara.

Berdasarkan data Bloomberg pada Selasa (13/10/2026) pukul 17.00 WIB, pasangan AUD/USD berada di level 0,697, melemah 0,17% secara harian


Baca Juga: Beda Arah Kebijakan Bank Sentral, Begini Prospek Valas Komoditas AUD, NZD dan CAD

Sementara itu, pairing NZD/USD berada di level 0,560, melemah 0,32% secara harian, tetapi menguat 0,31% secara mingguan dan naik 2,98% dalam sebulan.

Research and Development ICDX, Muhammad Amru Syifa menyebut, China menjadi salah satu faktor penting yang perlu dicermati karena posisinya sebagai mitra dagang utama kedua negara. Namun, dampak perubahan permintaan dari China terhadap AUD dan NZD tidak sepenuhnya sama.

“Kondisi ekonomi China sebagai salah satu mitra dagang utama juga menjadi faktor penting bagi kedua mata uang tersebut,” ujar Amru kepada Kontan, Selasa (13/9/2026).

Bagi Australia, risiko tersebut berkaitan dengan permintaan bijih besi dan mineral industri. Apabila aktivitas industri dan pembangunan di China melambat, kebutuhan bahan baku berpotensi ikut berkurang. Kondisi ini dapat memengaruhi prospek ekspor Australia dan menjadi salah satu sumber tekanan bagi AUD.

Sementara itu, Selandia Baru lebih berkaitan dengan permintaan produk pertanian, terutama susu. Perubahan permintaan terhadap produk tersebut dapat memengaruhi prospek perdagangan Selandia Baru. Maka, perkembangan pasar komoditas pertanian menjadi salah satu aspek yang perlu dicermati dalam menilai ketahanan NZD.

Amru bilang, prospek NZD juga berkaitan dengan kondisi ekonomi domestik dan perkembangan permintaan komoditas pertanian, khususnya produk susu.

“Pergerakan NZD lebih dipengaruhi oleh ekspektasi pemulihan ekonomi Selandia Baru, arah kebijakan Reserve Bank of New Zealand (RBNZ), serta perkembangan permintaan komoditas pertanian, khususnya produk susu,” jelasnya.

Baca Juga: Beda Arah Kebijakan Bank Sentral, Begini Prospek Valas Komoditas AUD, NZD dan CAD

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa perkembangan ekonomi China perlu dilihat berdasarkan struktur ekspor masing-masing negara. Pelemahan permintaan mineral industri dapat menjadi risiko bagi Australia, sedangkan perubahan permintaan produk susu berpotensi memengaruhi prospek ekspor Selandia Baru.

Dari sisi proyeksi, Amru memperkirakan AUD/USD berada di sekitar 0,7000 dan NZD/USD di level 0,5700 pada akhir 2026, mengacu pada proyeksi MUFG Research yang diterbitkan pada Oktober 2026. Kedua proyeksi tersebut mengindikasikan ruang penguatan terbatas dibandingkan level pada 13 Oktober. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News