KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Krakatau Steel Tbk (
KRAS) memandang prospek industri baja pada semester II 2026 masih dibayangi sejumlah tantangan. Meski demikian, permintaan diperkirakan mulai membaik secara bertahap seiring bergulirnya proyek infrastruktur dan meningkatnya aktivitas sektor manufaktur. Corporate Secretary PT Krakatau Steel Tbk, Rachman Hidayat, mengatakan, pemulihan permintaan akan bergantung pada realisasi proyek infrastruktur, aktivitas konstruksi, manufaktur, otomotif, energi, hingga belanja modal swasta.
"Memasuki semester II, kami melihat adanya potensi pemulihan permintaan terutama dari proyek-proyek strategis, kebutuhan hilirisasi industri, penerapan bea masuk anti dumping (BMAD) terhadap produk impor murah, serta pengadaan material untuk sektor konstruksi dan manufaktur," ujar Rachman kepada Kontan, Jumat (3/7/2026).
Baca Juga: Krakatau Steel (KRAS) Pasok Pipa untuk PSN Gas Dusem, Nilainya Capai Rp 4 Triliun Menurut dia, pada semester pertama pasar baja masih menghadapi tekanan akibat ketidakpastian ekonomi global, fluktuasi harga baja internasional, konflik geopolitik, serta derasnya produk impor berharga murah. Karena itu, Krakatau Steel memilih fokus pada segmen yang mampu memberikan margin lebih tinggi dan arus kas yang sehat, dibanding sekadar mengejar volume penjualan. Dari sisi pasar, Rachman menyebut permintaan domestik masih menjadi penopang utama bisnis perusahaan. Hal ini ditopang realisasi investasi nasional yang pada triwulan I 2026 mencapai Rp 498,8 triliun atau tumbuh 7,2% secara tahunan (year on year), dengan industri logam dasar menjadi salah satu subsektor investasi terbesar. Selain itu, sektor konstruksi diproyeksikan tetap tumbuh sekitar 5,4% sepanjang tahun ini sehingga kebutuhan baja untuk pembangunan infrastruktur, kawasan industri, proyek energi, dan hilirisasi diperkirakan tetap terjaga. Ia juga menilai dukungan pendanaan dari Danantara akan mempercepat transformasi Krakatau Steel. Dukungan tersebut diharapkan memperkuat struktur permodalan, meningkatkan utilisasi fasilitas produksi, serta mendorong pengembangan proyek baja hulu berkapasitas sekitar 3 juta ton per tahun.
Baca Juga: Krakatau Steel (KRAS) Intip Peluang Genjot Penjualan Baja Sementara untuk pasar ekspor, Krakatau Steel tetap membuka peluang secara selektif. Perusahaan akan memprioritaskan negara tujuan yang menawarkan margin lebih baik, kepastian pembayaran, serta permintaan yang berkelanjutan. Di sisi produksi, Krakatau Steel terus menyesuaikan utilisasi pabrik dengan perkembangan permintaan pasar, ketersediaan bahan baku, dan efisiensi biaya. Hingga akhir 2026, peningkatan kapasitas akan dilakukan secara bertahap dengan tetap menjaga keseimbangan antara utilisasi, persediaan, arus kas, dan profitabilitas. "Kami terus memperkuat sinergi dengan anak perusahaan dan mitra strategis melalui optimalisasi rantai pasok, penguatan strategi komersial, dan peningkatan efisiensi operasional," kata Rachman. Adapun dari sisi biaya, Krakatau Steel masih menghadapi tantangan akibat tingginya porsi biaya bahan baku yang mencapai sekitar 80% hingga 90% dari total biaya produksi. Komponen tersebut meliputi slab, iron ore, coking coal, scrap, hingga energi.
Baca Juga: Krakatau Steel Siapkan Proyek Baja Rp 30 Triliun, Groundbreaking 29 April 2026 Pergerakan harga komoditas global, nilai tukar rupiah, dan biaya logistik juga terus menjadi perhatian karena berpengaruh langsung terhadap struktur biaya dan margin perusahaan. Untuk menjaga profitabilitas, perusahaan mengoptimalkan strategi pengadaan bahan baku, meningkatkan efisiensi operasional dan energi, serta memperbesar porsi penjualan produk dengan margin lebih tinggi. Krakatau Steel juga tetap mengandalkan pasar domestik dan pasar ekspor yang memberikan nilai tambah guna menjaga margin tetap sehat di tengah volatilitas harga bahan baku. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News