Prospek Bisnis Kalbe Farma (KLBF) Menantang, Intip Rekomendasi Sahamnya



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) menghadapi sejumlah tantangan. Tren peralihan dari pandemi menuju endemi telah mengurangi minat pasar terhadap produk-produk kesehatan.

Senior Investment Information Mirae Aset Sekuritas Indonesia Muhammad Nafan Aji Gusta Utama mengatakan bahwa pandemi sebelumnya telah memberikan peningkatan permintaan untuk obat-obatan terutama pada obat anti covid-19. Di sisi lain, permintaan vaksin dan booster covid-19 juga terangkat selama periode tersebut.

Namun, pandemi sudah berubah menjadi endemi. Masyarakat sudah tidak bergantung dengan produk kesehatan terkait covid. Ditambah lagi, bahan baku yang lebih mahal akibat volatilitas nilai tukar rupiah sejalan dengan KLBF yang lebih banyak mengimpor bahan baku untuk pembuatan obat.


“Volatilitas nilai tukar mempengaruhi harga bahan baku yang memberikan potensi tekanan pada margin,” kata Nafan saat dihubungi Kontan.co.id, Senin (18/12).

Baca Juga: Kalbe Farma Memberi Kontribusi Dari Rantai Pasok yang Panjang

Analis Ciptadana Sekuritas Nicko Yosafat melihat bahwa KLBF mencatatkan kinerja buruk yang berada di bawah ekspektasi. Angka yang lebih rendah dari perkiraan berkaitan dengan biaya dan operational expenditure (opex) yang lebih tinggi.

Laba bersih Kalbe Farma turun 18,2% year on year (YoY) menjadi Rp 2,1 triliun di periode Januari–September 2023. Capaian tersebut di bawah ekspektasi Ciptadana Sekuritas yang hanya membentuk 62,4% dalam proyeksi setahun penuh 2023. Laba bersih KLBF tidak dapat mengikuti pendapatan yang meningkat 6,5% YoY menjadi Rp 22,6 triliun atau setara dengan 74,5% dari proyeksi tahun 2023.

Nicko mengamati, peningkatan opex yang tumbuh 9,7% secara tahunan telah menyebabkan laba operasional KLBF turun 12,2% YoY menjadi Rp 2,7 triliun. Akibatnya, margin laba usaha atawa operating profit margin (OPM) turun 260 bps YoY menjadi 12% per September 2023.

“Kinerja KLBF yang lebih rendah dari perkiraan karena biaya dan opex yang lebih tinggi,” ungkap Nicko dalam riset tanggal 1 November 2023.

Nicko memaparkan, segmen Obat Resep KLBF membukukan penjualan bersih sebesar Rp 5,8 triliun yang bertumbuh 31,4% YoY, sehingga berkontribusi sekitar 25,7% YoY dari jumlah penjualan selama Januari–September 2023. Sementara itu, segmen Produk Kesehatan mencatat penjualan bersih sebesar Rp 2,9 triliun atau turun 12,1% YoY per September 2023.

Baca Juga: Kalbe Farma (KLBF) Optimistis Bukukan Kinerja Lebih Baik di 2024

Segmen Nutrisi KLBF membukukan penjualan bersih sebesar Rp 5,9 triliun atau naik 2,5% YoY. Pertumbuhan yang rendah ini dapat dikaitkan dengan peningkatan harga jual (ASP) sebesar 3%-5% pada produk tertentu. Selain itu, ada masalah waktu untuk mendapatkan bahan baku susu. Waktu yang dihabiskan lebih lama berarti perlu beberapa saat agar biaya kembali normal.

Sedangkan, segmen Distribusi dan Logistik memberikan kontribusi terbesar terhadap total penjualan bersih hingga September 2023 sekitar 35,5%. Secara akumulatif, penjualan bersih segmen Distribusi & Logistik sekitar Rp 8 triliun atau bertumbuh 3,2% YoY.

Nicko menyoroti, kontraksi kemungkinan masih akan terjadi pada segmen Produk Kesehatan disebabkan oleh normalisasi pasca pandemi. Masyarakat cenderung mengurangi konsumsi multivitamin dan suplemen. Kemudian adanya peningkatan harga jual rata-rata atawa average selling price (ASP) sebesar 3%-5% pada sejumlah produk pilihan KLBF, berpotensi meningkatkan peluang untuk mengganti produk dengan produk yang lebih murah.

Di sisi lain, Nicko melihat adanya peluang terbuka bagi segmen obat resep KLBF yang sudah mendapat izin edar Efesa, yakni obat bioteknologi pertama di dunia untuk pasien anemia dengan Penyakit Ginjal Kronis (CKD). Ini adalah peluang global karena CKD mempengaruhi lebih dari 10% populasi dunia pada tahun 2016.

Segmen distribusi & logistik juga akan mendapatkan suntikan tenaga dari kerja sama yang dibangun oleh anak usahanya yaitu PT Enseval Putera Megatrading Tbk (EPMT) dengan PT Tri Investama Solusindo (TIS). TIS merupakan anak perusahaan Kiat Ananda Group dan perusahaan rantai pendingin terkemuka.

“Kami yakin usaha patungan yang akan datang diharapkan selesai pada kuartal IV-2023, sehingga dapat meningkatkan penjualan pada tahun 2024,” imbuh Nicko.

Baca Juga: Emiten Ramai Bentuk Entitas Usaha Baru & JV, Ini Rekomendasi Saham yang Layak Koleksi

Analis BRI Danareksa Sekuritas Natalia Sutanto memandang bahwa kinerja KLBF di tahun depan akan bergantung pada pertumbuhan organik di segmen obat resepnya dengan produk onkologi/biosimilar baru yang secara bertahap memberikan kontribusi lebih tinggi.

Produk onkologi telah berkontribusi sekitar 10% untuk segmen obat resep dan sekitar 2,6% terhadap pendapatan KLBF hingga kuartal ketiga 2023.

Sementara, hambatan masih terjadi pada segmen konsumen akibat melemahnya daya beli. Di tengah melemahnya daya beli dan meningkatnya tren belanja gaya hidup yang lebih tinggi, penjualan produk Kesehatan Konsumen dan Nutrisi KLBF diproyeksi akan tetap rendah pada angka 4%-5% YoY di tahun 2024, dengan margin kotor diperkirakan akan tetap rendah sebesar 38,7%.

Secara keseluruhan, BRI Danareksa Sekuritas memproyeksikan pendapatan KLBF sebesar Rp 32,15 triliun di tahun 2024, tumbuh sebesar 5,8% YoY dari perkiraan tahun ini sekitar Rp 30,38 triliun. KLBF diperkirakan akan mencatat opex sebesar 27,2% YoY sehingga berdampak pada pertumbuhan laba bersih sebesar 2,9% YoY menjadi Rp 2,72 triliun.

“Pertumbuhan laba KLBF lebih rendah karena prospek yang menantang,” tulis Natalia dalam riset tertanggal 15 November 2023.

Baca Juga: Siasat Emiten Farmasi Menghadapi Efek Pelemahan Rupiah Terhadap Harga Bahan Baku Obat

Natalia menurunkan peringkat KLBF menjadi hold dengan target harga Rp 1.600 per saham karena prospek bisnis yang menantang. Proyeksi tersebut sejalan dengan prospek pertumbuhan yang tidak menggembirakan.

Nafan menyarankan accumulate KLBF dengan target harga jangka panjang sebesar Rp 1.960 per saham. Upaya KLBF mensubtitusi bahan baku impor dengan menggunakan bahan baku lokal diharapkan dapat mengurangi tekanan pengeluaran Kalbe Farma.

Sementara, Nicko menyarankan buy untuk KLBF dengan target harga Rp 2.020 per saham. Namun tetap waspadai depresiasi rupiah yang berkepanjangan dapat membuat pengeluaran KLBF membengkak. Serta, pembatalan usaha patungan yang sedang berjalan berisiko bagi prospek emiten farmasi tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati