KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek aset kripto pada kuartal IV 2026 masih terbuka, tetapi pergerakannya diperkirakan tetap volatil. Sejumlah sentimen global, mulai dari arah suku bunga The Federal Reserve (The Fed), arus dana institusional melalui exchange traded fund (ETF), hingga perkembangan regulasi kripto akan menjadi perhatian pasar. Berdasarkan data CoinMarketCap per Jumat (2/10/2026) pukul 16.00 WIB, bitcoin berada di level US$ 86.219, menguat 3,24% dalam sehari, 2,15% dalam sepekan, 12,31% dalam 30 hari, dan 37,80% dalam 90 hari terakhir. Sementara itu, ether berada di level US$ 2.722, naik 0,29% dalam sehari, 1,64% dalam sepekan, 12,50% dalam 30 hari, dan 55,11% dalam 90 hari.
Baca Juga: Rupiah Berpotensi Melemah Pekan Depan, Yield UST dan Minyak jadi Sorotan CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis mengatakan, arah kebijakan suku bunga The Fed menjadi salah satu sentimen utama yang perlu diperhatikan pada kuartal IV. Per 1 Oktober, sejumlah pejabat The Fed memberikan sinyal bahwa bank sentral masih menunggu data ekonomi lebih lanjut sebelum kembali menaikkan suku bunga. "Memasuki kuartal IV 2026, prospek aset kripto masih cukup terbuka, tetapi pergerakannya kemungkinan akan tetap volatil dan sangat dipengaruhi oleh faktor makroekonomi," kata Yudhono kepada Kontan, Jumat (2/10/2026). Menurutnya, kondisi suku bunga yang lebih stabil dapat menjadi katalis positif bagi aset berisiko seperti kripto. Namun, inflasi yang masih berada di atas target The Fed tetap menjadi risiko bagi pasar. Selain faktor suku bunga, arus dana institusional melalui ETF juga akan menjadi penopang penting. Yudhono mencatat ETF bitcoin spot di AS mencatat net inflow sekitar US$ 2,65 miliar pada September, sedangkan ETF ether mencatat net inflow sekitar US$ 832 juta. "Arus dana tersebut menunjukkan bahwa permintaan institusional masih menjadi salah satu penopang pasar memasuki Q4. Jika tren inflow berlanjut, sentimen pasar berpotensi tetap konstruktif; sebaliknya, perubahan menjadi outflow dapat meningkatkan tekanan terhadap harga," ujarnya. Perkembangan regulasi di AS juga akan memengaruhi sentimen pasar. Yudhono menyebut perkembangan kebijakan terkait market structure, stablecoin, ETF, dan aktivitas institusional perlu dicermati sepanjang kuartal IV. Di sisi lain, Co-founder CryptoWatch dan Pengelola Channel Duit Pintar, Christopher Tahir masih melihat risiko tekanan jual pada aset kripto. Ia meragukan bahwa bitcoin telah mencapai titik dasar dalam siklus kali ini karena investor jangka panjang masih melakukan distribusi posisi.
Baca Juga: Rupiah Bergejolak, Indah Kiat (INKP) Andalkan Natural Hedging dan Raup Forex Gain "Saya cukup ragu kalau dasar harga sudah tercapai, dikarenakan banyaknya investor jangka panjang yang masih mendistribusikan posisi mereka. Sehingga ini biasanya dapat memberikan tekanan harga lebih jauh," kata Christopher.
Christopher juga menyebut inflasi yang tinggi berpotensi menahan selera risiko investor karena munculnya ekspektasi kenaikan suku bunga AS. Meski demikian, ia masih melihat bitcoin memiliki peluang melanjutkan penguatan karena merupakan aset utama di pasar kripto. Untuk akhir 2026, Yudhono memperkirakan bitcoin berada di kisaran US$ 105.000-US$ 115.000, sedangkan ether US$ 3.000-US$ 3.500. Ia menyebut, ruang penguatan masih terbuka jika arus dana institusional dan ETF berlanjut serta kondisi moneter semakin mendukung. Sebaliknya, Christopher masih mempertahankan pandangan
bearish. Ia memproyeksikan bitcoin menuju US$ 50.000 dan ether US$ 2.000 hingga akhir tahun. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News