KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (
CMRY) pada paruh kedua 2026 diperkirakan masih positif. Namun, perseroan masih menghadapi tekanan margin akibat kenaikan sejumlah biaya produksi dan pelemahan nilai tukar rupiah. CMRY mencatatkan kinerja positif sepanjang semester I-2026. Laba bersih perseroan mencapai Rp 1,2 triliun, tumbuh 17,88% secara tahunan (
year on year/YoY) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 993,87 miliar.
Baca Juga: HRUM Berpeluang Lanjutkan Tren Positif, Nikel Jadi Penopang Utama Manajemen CMRY menyebut pertumbuhan tersebut ditopang oleh inovasi produk, perbaikan daya beli konsumen, serta monetisasi investasi distribusi sebelumnya melalui kanal
modern trade (MT), general trade (GT), dan Miss Cimory. Manajemen juga menegaskan pertumbuhan kinerja tersebut sebagian besar berasal dari pertumbuhan organik dan tidak secara signifikan didorong program Makan Bergizi Gratis (MBG). Head of Research Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menilai, kinerja CMRY menunjukkan adanya kekuatan struktural dalam bisnis perseroan. "Prospek half kedua positif dengan dua narasi berlawanan. Segmen dairy naik 54% YoY pada semester I dan tumbuh double-digit selama empat kuartal berturut-turut. Ini merupakan structural strength melalui MBG, inovasi produk, dan ekspansi distribusi termasuk ekspor. Ini sustained momentum, bukan
one-off," ujar Wafi kepada Kontan, Jumat (21/8/2026).
Baca Juga: Pefindo Turunkan Peringkat Adhi Karya (ADHI) Jadi idCCC, Prospek Negatif Margin CMRY Tertekan Di sisi lain, profitabilitas CMRY masih menghadapi tekanan.
Gross profit margin (GPM) perseroan pada semester I-2026 turun menjadi 43,3%. Penurunan tersebut terutama dipengaruhi kenaikan harga
skimmed milk powder yang mencapai 17,6% YoY serta penguatan dolar AS terhadap rupiah. "Tapi
margin pressure dari
cost seperti susu bubuk, daging sapi, unggas, kemasan, rupiah adalah headwind," kata Wafi. Menurut Wafi, pertumbuhan volume CMRY masih berpotensi solid seiring keberlanjutan MBG. Namun, pemulihan margin akan bergantung pada stabilitas rupiah dan kemampuan perusahaan meneruskan kenaikan biaya melalui penyesuaian harga tanpa mengorbankan volume penjualan.
Baca Juga: Strategi Investasi di Tengah Volatilitas IHSG, Ini Pilihan Aset yang Menarik Analis UBS Sekuritas Indonesia Alex Manoonpol mengatakan, strategi jangka panjang CMRY tetap berfokus pada inovasi produk, memperdalam penetrasi distribusi, serta memperluas pasar ekspor. Sejumlah produk baru yang diluncurkan CMRY antara lain Kanzler Singles Tom Yum, Kanzler Nyaos Gochujang Sauce, varian sosis keju terbaru, dan kondimen Mamayo Mentaiku. Perseroan juga telah membuka Cimory Yoqurt Café pertamanya. CMRY masih memiliki ruang pertumbuhan melalui kanal GT. Perseroan menargetkan jumlah gerai yang menjual produk chilled meningkat dari sekitar 211.000 gerai menjadi sekitar 500.000 gerai pada 2030. "CMRY juga menargetkan jumlah agen Miss Cimory meningkat dua kali lipat menjadi sekitar 20.000 agen dalam periode yang sama," jelas Alex dalam riset 3 Agustus 2026.
Baca Juga: Bitcoin Menguat 26% Sepekan, Investor Diimbau Tak Terburu-buru All-in MBG dan Ekspor Jadi Katalis Wafi menilai, keberlanjutan program MBG menjadi salah satu katalis utama yang dapat menopang pertumbuhan permintaan CMRY. Program tersebut memberikan sumber permintaan yang lebih terprediksi bagi perseroan. Selain MBG, ekspansi ekspor berpotensi menjadi katalis positif karena dapat mendiversifikasi sumber pertumbuhan CMRY. Stabilisasi rupiah, terutama jika hasil evaluasi MSCI pada November 2026 memberikan sentimen positif, serta semakin terbentuknya kredibilitas Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti juga dapat menjadi katalis tambahan. Meski demikian, investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko. Salah satunya adalah karakteristik bisnis
cold-chain CMRY yang menjadi keunggulan kompetitif, tetapi sekaligus membuat perseroan memiliki biaya tetap relatif tinggi. "Cold-chain moat CMRY juga berarti
fixed cost tinggi yang less flexible terhadap
cost pressure, kompetisi
consumer dairy makin ketat, dan sustainability MBG jika ada
budget constraint atau
policy change," ujar Wafi. Analis Sucor Sekuritas Hansen Christian Seng menambahkan, belanja modal CMRY mencapai Rp 838 miliar. Sekitar Rp 500 miliar di antaranya masih akan direalisasikan pada semester II-2026, terutama untuk ekspansi kapasitas segmen Consumer Foods.
Baca Juga: Bitcoin dan Ethereum Berpotensi Menguat, Ini Katalis Pasar Kripto hingga Akhir 2026 Target Harga Saham CMRY Berdasarkan riset UBS, kinerja keuangan CMRY diperkirakan tetap tumbuh positif pada 2026. Alex memproyeksikan pendapatan CMRY mencapai Rp 12,86 triliun pada 2026, naik 19,9% YoY dari realisasi 2025 sebesar Rp 10,72 triliun.
Laba bersih juga diperkirakan meningkat menjadi Rp 2,29 triliun, atau tumbuh 14,4% YoY dibandingkan laba bersih 2025 sebesar Rp 2,01 triliun. Dengan prospek tersebut, Alex mempertahankan rekomendasi
buy untuk saham CMRY. Namun, target harga diturunkan menjadi Rp 6.300 per saham dari sebelumnya Rp 6.800 per saham. Hansen juga memberikan rekomendasi
buy CMRY dengan target harga Rp 5.620 per saham. Sementara itu, Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo merekomendasikan trading
buy CMRY dengan target harga Rp 4.900 per saham. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News