Prospek CMRY hingga Akhir 2026 Masih Cerah, Simak Rekomendasinya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY) diperkirakan masih memiliki peluang untuk mempertahankan tren pertumbuhan kinerja hingga akhir 2026. Optimisme tersebut ditopang oleh permintaan produk dairy dan makanan konsumen yang dinilai tetap solid di tengah dinamika daya beli masyarakat.

Prospek positif tersebut juga tercermin dari kinerja perusahaan pada awal tahun. Sepanjang kuartal I-2026, CMRY berhasil membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 555 miliar.


Perolehan tersebut meningkat 15,65% dibandingkan laba bersih pada periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp 479,86 miliar.

Analis Panin Sekuritas, Elandry Pratama, memproyeksikan CMRY masih berpeluang mempertahankan kinerja positif pada kuartal II-2026. Permintaan produk dairy dan consumer food cenderung tetap solid, didukung daya beli masyarakat yang mulai membaik serta distribusi yang semakin luas.

Selain itu, inovasi produk dan ekspansi kanal penjualan menjadi katalis yang dapat menopang pertumbuhan penjualan maupun margin.

Baca Juga: IHSG Diproyeksikan Menguat Terbatas pada Perdagangan Jumat (17/7)

"Apabila harga bahan baku seperti susu relatif stabil, profitabilitas juga berpotensi tetap terjaga," kata Elandry kepada Kontan, Kamis (16/7/2026).

Senada, Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo berpendapat CMRY masih berpeluang menjaga kinerja positif pada kuartal II-2026, meskipun laju pertumbuhannya berpotensi lebih moderat.

Kinerja tersebut didukung oleh permintaan produk dairy dan consumer food yang tetap resilien, inovasi produk, perluasan distribusi, serta strategi premiumisasi yang menopang harga jual rata-rata.

"Di sisi lain, efisiensi operasional juga menjadi faktor pendukung margin di tengah kondisi konsumsi yang masih menantang," ucap Azis.

Sementara itu, Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, memprediksi kinerja CMRY bakal solid meski lebih moderat dibandingkan kuartal pertama.

Katalis utama berasal dari ekspansi distribusi ke luar Jawa yang penetrasinya masih rendah, pertumbuhan Kanzler yang konsisten, dan daya beli segmen menengah atas yang lebih resilien.

"Pertumbuhan laba 15,65% YoY di kuartal I-2026 mencerminkan pricing power yang terjaga dengan baik," tambah Abida.

Prospek CMRY di Semester II-2026

Elandry menerangkan, prospek CMRY pada semester II-2026 masih positif dengan ditopang konsumsi domestik yang tetap menjadi motor utama pertumbuhan. Momentum akhir tahun juga berpotensi meningkatkan permintaan produk makanan dan minuman.

Namun, investor tetap perlu mencermati risiko kenaikan harga bahan baku impor, pelemahan nilai tukar rupiah, meningkatnya persaingan di industri FMCG, serta potensi perlambatan daya beli apabila kondisi ekonomi tidak sesuai ekspektasi. Faktor-faktor tersebut dapat memengaruhi margin maupun pertumbuhan laba.

Adapun Azis mengungkapkan, CMRY tetap menghadapi tantangan dari daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya, persaingan industri FMCG yang semakin ketat, serta potensi kenaikan harga bahan baku seperti susu dan gula yang dapat menekan margin.

 
CMRY Chart by TradingView

Abida menambahkan, ada tiga risiko utama yang bakal dihadapi CMRY ke depannya, antara lain pelemahan rupiah yang menaikkan biaya kemasan dan bahan baku impor, tekanan daya beli kelas menengah yang bisa memperlambat volume di segmen premium, serta persaingan yang semakin ketat di segmen dairy yang kian menarik pemain baru.

Rekomendasi Saham

Untuk horizon 12 bulan ke depan, Elandry merekomendasikan buy saham CMRY dengan target harga Rp 7.200 per saham. Target tersebut mencerminkan potensi kenaikan sekitar 15%–20% dari level harga saat ini.

Selain itu, strategi buy on weakness juga masih menarik apabila terjadi koreksi pasar, mengingat prospek pertumbuhan kinerja dan fundamental perseroan masih cukup solid.

Sementara itu, Azis merekomendasikan netral untuk saham CMRY dengan target harga Rp 5.100 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News