KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Prospek harga emas masih dibayangi volatilitas tinggi pada pekan ini, seiring kuatnya sentimen geopolitik dan arah kebijakan suku bunga global. Melansir Trading Economics Senin (13/4) pukul 11.30 WIB, harga emas dunia di kisaran US$ 4.712 per troy ons atau turun 5,9% sebulan terakhir. Sementara itu, berdasarkan situs Logam Mulia pagi hari ini harga emas Antam menjadi Rp 2.818.000 per gram atau turun Rp 42.000 secara harian.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menyebutkan, pergerakan emas dalam jangka pendek masih berpotensi terkoreksi. Untuk pekan ini, dia memprediksi level support emas dunia berada di US$ 4.638 per troy ons, dengan harga emas Antam berpeluang turun ke Rp 2.840.000 per gram atau terkoreksi sekitar Rp 20.000.
Baca Juga: Negosiasi AS-Iran Gagal, Rupiah Melemah dan Risiko Defisit APBN Melebar “Jika tekanan berlanjut, dalam sepekan sampai hari Sabtu harga emas dunia bisa turun lebih dalam ke US$ 4.358 per troy ons, dengan emas Antam berpotensi ke Rp 2.780.000 per gram,” ujar Ibrahim, Minggu (12/4/2026). Namun di sisi lain, peluang kenaikan masih terbuka. Ibrahim memproyeksikan level resistance emas dunia berada di US$ 4.897 per troy ons, dengan harga emas Antam berpotensi naik ke Rp 2.880.000 per gram. Bahkan, dalam skenario bullish, harga emas dunia berpeluang menembus US$ 5.138 per troy ons dalam sepekan, yang dapat mendorong harga emas Antam hingga Rp 3.100.000 per gram. Ibrahim menilai, kisaran pergerakan emas yang cenderung lebar ini dipengaruhi oleh sejumlah sentimen global, terutama dari sisi geopolitik Timur Tengah. Ia menjelaskan, adanya potensi perundingan antara Amerika Serikat dan Iran yang dimediasi Pakistan dapat membuka peluang gencatan senjata sementara. Jika kondisi ini berlanjut dan stabil, harga minyak berpotensi turun, sehingga inflasi mereda dan membuka ruang penurunan suku bunga oleh bank sentral AS. Kondisi ini dinilai positif bagi emas. Sebaliknya, jika gencatan senjata gagal dan konflik kembali memanas, harga minyak dan dolar AS berpotensi menguat, yang pada akhirnya juga mendorong kenaikan harga emas sebagai aset
safe haven. Selain itu, meningkatnya tensi antara Amerika Serikat dan China terkait dukungan militer ke Iran juga menjadi faktor tambahan yang menopang harga emas. Kondisi ini berpotensi menekan nilai tukar rupiah, sehingga harga emas domestik, termasuk Antam, semakin terdongkrak. Dari sisi kebijakan moneter, ekspektasi penurunan suku bunga The Fed juga menjadi katalis positif bagi emas. Ibrahim menilai, arah kebijakan bank sentral AS ke depan cenderung lebih akomodatif, yang akan mendukung penguatan harga emas global.
“Namun, keputusan Trump menunjuk Kevin Warsh mengindikasikan adanya keselarasan kebijakan antara pemerintah dan bank sentral, khususnya terkait rencana penurunan suku bunga. Hal ini dinilai akan berdampak positif terhadap kenaikan harga emas dunia maupun logam mulia," jelasnya. Tak hanya itu, permintaan emas dari bank sentral global yang terus meningkat sebagai diversifikasi cadangan devisa juga menjadi faktor penopang harga dalam jangka menengah hingga panjang.
Baca Juga: Astra International (ASII) Kuasai 49% Pangsa Pasar Otomotif pada Awal 2026 Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News