KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek harga emas dalam jangka pendek hingga menengah diperkirakan masih tertahan di tengah penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan tingginya ketidakpastian global. Melansir data Trading Economics pada Rabu (29/4) pukul 15.55 WIB, harga emas turun 0,46% menjadi US$ 4.575 per ons troi. Sementara itu, harga perak melemah 0,21% ke level US$ 72,88 per ons troi. Pelemahan ini melanjutkan tren penurunan sebelumnya, di mana emas sempat turun sekitar 2% dan perak anjlok 3% hingga menyentuh level terendah sejak akhir Maret 2026.
Baca Juga: Negosiasi AS-Iran Buntu, Valas Komoditas Ini Menarik Untuk Dicermati Analis PT Finex Bisnis Solusi Future, Brahmantya Himawan menilai, tekanan terhadap emas masih akan berlanjut selama inflasi global belum mereda dan bank sentral AS belum menunjukkan sinyal pelonggaran kebijakan moneter. "Selama harga minyak tetap tinggi akibat tensi geopolitik dan distribusi energi global masih terganggu, tekanan inflasi berpotensi bertahan. Hal ini bisa membuat Federal Reserve tetap berhati-hati dalam memangkas suku bunga," ujar Bram kepada Kontan, Rabu (29/4/2026). Kondisi tersebut berpotensi menjaga kekuatan dolar AS yang pada akhirnya membatasi ruang kenaikan harga emas sebagai aset lindung nilai (safe haven). Sementara itu, perak diperkirakan memiliki volatilitas lebih tinggi dibandingkan emas. "Selain mengikuti sentimen
safe haven, perak juga punya komponen permintaan industri, sehingga jika ekonomi global membaik,
upside perak bisa lebih agresif dibanding emas, namun risikonya juga lebih besar," kata Bram. Untuk periode Mei 2026, Bram memproyeksikan harga emas bergerak di kisaran US$ 4.400 hingga US$ 4.500 per ons troi. Sementara itu, harga perak diperkirakan berada di rentang US$ 66 hingga US$ 71 per ons. Pergerakan keduanya diperkirakan masih akan cenderung
sideways dengan volatilitas tinggi seiring pelaku pasar menanti kejelasan arah kebijakan suku bunga AS serta perkembangan geopolitik global.
Baca Juga: Emas dan Perak Melemah, Dolar AS Perkasa Tekan Harga Logam Mulia Dari sisi strategi, investor disarankan tetap selektif dalam mengambil keputusan. Untuk jangka menengah hingga panjang, koreksi harga saat ini dinilai mulai menarik untuk akumulasi bertahap, khususnya pada emas. "Untuk investor jangka menengah–panjang, koreksi ini mulai menarik untuk akumulasi bertahap, terutama pada emas sebagai lindung nilai,” ujar Bram.
Namun, untuk jangka pendek, investor sebaiknya menunggu konfirmasi arah pasar setelah keputusan bank sentral AS diumumkan karena volatilitas masih tinggi. Ia menegaskan, posisi emas saat ini berada di persimpangan antara faktor geopolitik dan kekuatan dolar AS. "Selama The Fed belum melunak dan harga minyak masih tinggi, reli emas kemungkinan tidak akan berjalan mulus," tutupnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News