Prospek Emiten Alat Berat Diproyeksi Masih Menantang, Simak Rekomendasi Analis



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek industri alat berat nasional hingga akhir 2026 masih menghadapi tantangan. Pemangkasan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pertambangan membuat sejumlah perusahaan tambang menahan ekspansi dan menunda pembelian alat berat baru.

Kondisi tersebut semakin menekan prospek permintaan alat berat, terutama di sektor pertambangan yang selama ini menjadi salah satu pengguna utama. Di sisi lain, kenaikan atau fluktuasi harga bahan bakar minyak (BBM) juga berpotensi meningkatkan biaya operasional perusahaan tambang.

Mengacu kepada catatan Kontan, Ketua Umum Perhimpunan Agen Tunggal Alat Berat Indonesia (PAABI) Yushi Sandidarma mengatakan pasar alat berat nasional masih menunjukkan pertumbuhan. Secara keseluruhan, pasar alat berat tumbuh sekitar 20% dibandingkan periode yang sama pada 2025.


Baca Juga: Prospek ELSA Makin Positif dari Katalis Pengeboran Sumur, Cek Rekomendasi Sahamnya

Namun, Yushi mengakui pemangkasan RKAB mulai mempengaruhi keputusan investasi perusahaan tambang. Sejumlah perusahaan bahkan telah menunda pembelian unit alat berat baru.

Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Adrian Djie melihat kondisi industri alat berat masih akan menantang hingga penghujung tahun. Menurutnya, kuota RKAB dan fluktuasi harga BBM menjadi dua faktor yang secara langsung mempengaruhi permintaan alat berat, khususnya dari sektor pertambangan.

"Kami melihat prospek industri alat berat masih akan menantang hingga akhir 2026," kata Adrian kepada Kontan, Rabu (2/9/2026).

Ia menjelaskan, ketika biaya operasional pertambangan meningkat, perusahaan tambang dapat menunda aktivitas produksi maupun ekspansi. Kondisi tersebut pada akhirnya berpengaruh terhadap keputusan pembelian alat berat.

Tekanan tersebut tercermin dari perbedaan kinerja penjualan sejumlah emiten alat berat. PT Kobexindo Tractors Tbk (KOBX), misalnya, justru mencatat pertumbuhan penjualan unit alat berat sebesar 47% secara tahunan (year-on-year/YoY) pada semester I-2026.

Sementara itu, penjualan PT Intraco Penta Tbk (INTA) pada kuartal II-2026 turun 11% YoY. Pada PT United Tractors Tbk (UNTR), penjualan barang turun 27,83% YoY menjadi Rp 28,13 triliun dari Rp 38,98 triliun.

Baca Juga: BEI Masuk Tahap Final Demutualisasi, Begini Dampaknya Bagi Investor dan Pasar Saham

Adrian menilai perbedaan kinerja tersebut salah satunya dipengaruhi oleh karakteristik produk dan segmen pasar yang dilayani masing-masing emiten.

Pertumbuhan KOBX pada semester I-2026 terutama didorong keberhasilan penetrasi produk inovatif. Salah satu produk yang menjadi pendorong adalah lini hybrid dump truck yang menawarkan efisiensi penggunaan bahan bakar dan lebih sesuai dengan kebutuhan perusahaan tambang dalam menekan biaya operasional.

Sementara itu, portofolio UNTR dan INTA masih relatif banyak bertumpu pada alat berat konvensional berbahan bakar diesel dengan kapasitas besar. Segmen tersebut lebih rentan terdampak ketika perusahaan tambang menunda ekspansi akibat ketidakpastian kuota produksi.

Menurut Adrian, tekanan dari sektor pertambangan membuat diversifikasi pasar menjadi semakin penting bagi emiten alat berat. Sektor non-tambang seperti infrastruktur, agribisnis, kehutanan dan intralogistik dapat menjadi penyangga ketika permintaan dari pertambangan melemah.

"Menurut pandangan kami, sektor non-tambang seperti infrastruktur, agribisnis, kehutanan, dan intralogistik akan berperan sebagai penyangga bagi stabilitas arus kas emiten alat berat di masa depan," ujarnya.

Sektor-sektor tersebut berpotensi memberikan sumber permintaan alternatif bagi produsen dan distributor alat berat. Terlebih, kebutuhan alat berat pada proyek infrastruktur, perkebunan, kehutanan maupun kegiatan logistik tidak sepenuhnya bergantung pada siklus pertambangan.

Memasuki semester II-2026, Adrian melihat masih ada peluang bagi penjualan alat berat untuk mengalami pemulihan. Namun, katalis utamanya tetap berasal dari kebijakan pemerintah terkait kuota produksi pertambangan.

Jika kuota RKAB dilonggarkan atau mengalami revisi ke arah yang lebih tinggi, aktivitas produksi perusahaan tambang berpotensi meningkat. Kondisi tersebut dapat kembali mendorong kebutuhan perusahaan terhadap alat berat.

Selain RKAB, harga BBM dan harga komoditas juga menjadi faktor penting. Penurunan harga BBM dapat mengurangi beban operasional perusahaan tambang, sementara harga komoditas yang tetap kuat dapat menjaga tingkat keekonomian kegiatan pertambangan.

Baca Juga: Peluang Harga Minyak Brent Tembus Level US$ 122, Ini Penopang Utamanya

"Jika harga BBM berhasil menurun dan harga komoditas tetap terjaga, kami melihat adanya potensi pemulihan," jelas Adrian.

Meski demikian, pemulihan tersebut tidak serta-merta terjadi apabila ketidakpastian RKAB masih berlanjut. Perusahaan tambang cenderung lebih berhati-hati dalam melakukan belanja modal hingga memiliki kepastian mengenai volume produksi yang diperbolehkan.

Karena itu, momentum pemulihan penjualan alat berat pada paruh kedua tahun ini akan sangat bergantung pada kombinasi antara kejelasan kuota produksi, kondisi harga komoditas dan biaya operasional pertambangan.

Di tengah prospek industri yang masih menantang, Adrian menilai investor tetap dapat mencermati saham emiten alat berat dengan fundamental yang relatif kuat.

Dari tiga saham yang dibandingkan, yakni UNTR, KOBX dan INTA, Adrian memilih UNTR sebagai pilihan utama. Kiwoom Sekuritas Indonesia memberikan rekomendasi buy untuk saham UNTR dengan target harga Rp28.000 per saham.

Rekomendasi tersebut mempertimbangkan posisi UNTR yang memiliki skala bisnis besar serta diversifikasi usaha yang lebih kuat dibandingkan sejumlah pemain alat berat lainnya.

Sementara itu, kinerja KOBX yang tumbuh kuat pada semester I-2026 menunjukkan adanya peluang dari strategi diversifikasi produk dan penetrasi ke segmen yang membutuhkan efisiensi bahan bakar.

Adapun INTA masih menghadapi tantangan dari sisi permintaan alat berat. Investor perlu mencermati perkembangan aktivitas pertambangan dan kemampuan perusahaan meningkatkan kinerja operasional di tengah kondisi pasar yang belum sepenuhnya pulih.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News