Prospek Emiten Batubara Masih Positif, DSI Jadi Risiko Baru



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek emiten batubara dinilai masih cukup positif hingga 2027 di tengah harga komoditas yang diperkirakan bertahan tinggi. Namun, investor perlu mencermati implementasi mekanisme ekspor melalui Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) yang berpotensi menambah biaya dan memengaruhi kelancaran pengiriman. Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas menilai harga batubara saat ini masih cukup menopang kinerja produsen. Level harga Newcastle Coal di kisaran US$120–145 per ton dinilai masih mampu menjaga cash margin mayoritas produsen batubara. "Fundamental emiten batubara masih relatif resilient apabila harga batubara tetap tinggi. Level harga Newcastle di kisaran  US$120–145 per ton masih cukup untuk menjaga cash margin mayoritas produsen," ujar Sukarno.

Baca Juga: Saham Multi Bintang (MLBI) Melonjak 20,70% Sepanjang 2026, Simak Rekomendasi Sahamnya Di sisi lain, implementasi DSI menjadi faktor tambahan yang perlu diperhatikan, khususnya terkait biaya dan kelancaran proses ekspor. Risiko dalam jangka pendek dinilai lebih banyak berasal dari potensi gangguan atau penundaan administrasi yang dapat memengaruhi waktu pengiriman dan volume penjualan. Sementara itu tambahan biaya ekspor juga dapat menekan margin apabila biaya tersebut tidak dapat diteruskan kepada pembeli. Meski demikian, dampaknya dinilai masih dapat dikelola oleh produsen dengan struktur biaya yang efisien selama harga batubara dan cash margin tetap tinggi. Risiko tersebut perlu dicermati apabila service fee DSI nantinya ditetapkan secara flat per ton. Skema tersebut dinilai akan memberikan tekanan relatif lebih besar kepada produsen dengan average selling price dan margin per ton yang lebih rendah. "Jika service fee ditetapkan secara flat per ton, maka secara relatif produsen dengan ASP dan margin per ton yang lebih rendah memang akan memiliki sensitivitas lebih tinggi," jelasnya. Sebelumnya, Mirae Asset Sekuritas Indonesia memperkirakan harga batubara masih memiliki ruang untuk bertahan tinggi lebih lama. Dalam riset 6 Oktober 2026, Mirae mencatat harga Newcastle berada di sekitar US$150 per ton, sementara harga batubara acuan (HBA) berada 19%-35% di atas level Januari. Mirae juga mengilustrasikan service fee DSI sebesar US$1-US$2 per ton. Dengan benchmark harga per 1 Oktober, biaya tersebut setara 0,8%-1,6% dari harga batubara kalori 6.322 kcal, tetapi mencapai 2,3%-4,6% untuk batubara 3.400 kcal. Hal ini menunjukkan produsen batubara kalori rendah memiliki sensitivitas lebih tinggi terhadap skema fee flat. Karena itu, investor dinilai perlu mencermati cash cost, kualitas batubara, ASP, serta margin per ton, bukan hanya volume produksi. Untuk saham, Sukarno menilai AADI, PTBA, ITMG, BUMI, dan GEMS masih menarik dicermati. AADI dinilai menarik dari sisi prospek volume dan valuasi, PTBA didukung pasar domestik serta potensi dividen, sedangkan ITMG memiliki keunggulan dari sisi margin dan arus kas. Adapun BUMI dinilai memiliki leverage yang besar terhadap pemulihan produksi dan harga batubara. "Prospek sektor batubara hingga 2027 masih cukup positif, tetapi akan lebih selektif. Investor perlu mencermati tiga faktor utama, yaitu harga batubara, normalisasi produksi/RKAB, dan implementasi DSI," pungkasnya.

Baca Juga: Redemption Reksadana Meningkat, Investor Sedang Rebalancing Portofolio


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News