Prospek Emiten Maskapai Jelang Akhir Tahun 2026, Analis Soroti Peluang dan Risiko



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek emiten maskapai penerbangan seperti PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) dan PT AirAsia Indonesia Tbk (CMPP) diperkirakan masih melanjutkan tren pemulihan hingga akhir 2026, seiring momentum peak season libur akhir tahun.

Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Kevin Yudha Pratama, mengatakan kinerja kedua emiten tersebut masih berpeluang membaik, didorong oleh peningkatan trafik penumpang dan okupansi penerbangan.

“Kami melihat kinerja untuk GIAA dan CMPP sampai akhir tahun 2026 masih bisa membaik, terutama karena dorongan dari libur akhir tahun, yang biasanya dapat mendorong jumlah penumpang, jumlah kursi yang terisi, dan pendapatan tiket,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (23/7/2026).


Baca Juga: Prospek dan Rekomendasi Saham AKRA Usai Raih Lonjakan Laba 21% di Semester I-2026

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa peningkatan pendapatan belum tentu langsung diikuti oleh perbaikan laba bersih.

Hal ini disebabkan oleh masih tingginya tekanan biaya operasional, seperti harga avtur, pelemahan nilai tukar rupiah, biaya perawatan (maintenance), serta beban pembiayaan.

Dari sisi trafik, Kevin menilai peningkatan jumlah penumpang memiliki dampak signifikan terhadap pendapatan maskapai, terutama jika diiringi dengan harga tiket yang tetap terjaga dan utilisasi kapasitas yang optimal.

Namun, perbaikan profitabilitas tetap akan sangat bergantung pada kemampuan perusahaan dalam mengendalikan biaya.

“Trafik penumpang memang berdampak besar ke pendapatan, tapi profitabilitas masih tergantung pada kemampuan menahan kenaikan biaya operasional,” jelasnya.

Terkait kebijakan bagasi baru berbasis piece concept yang diterapkan GIAA, Kevin menilai langkah ini berpotensi membuka sumber pendapatan tambahan atau ancillary revenue.

Namun, efektivitasnya terhadap daya saing akan bergantung pada kejelasan aturan serta daya tarik jatah bagasi dibandingkan maskapai lain.

Di sisi lain, risiko eksternal masih menjadi perhatian utama. Fluktuasi nilai tukar rupiah dan harga avtur dinilai berpotensi menekan kinerja keuangan maskapai.

Pasalnya, sebagian besar biaya operasional seperti bahan bakar, sewa pesawat, dan maintenance menggunakan denominasi dolar AS.

“Ketika rupiah melemah dan harga avtur naik bersamaan, kenaikan pendapatan dari penumpang bisa tidak cukup untuk menutup kenaikan biaya,” tambahnya.

Untuk rekomendasi saham, Kevin melihat peluang trading buy pada saham GIAA dengan target harga di kisaran Rp61-Rp64 per saham, didukung oleh potensi perbaikan operasional dan reaktivasi armada.

Sementara itu, untuk saham CMPP, Kiwoom masih memilih sikap wait and see, mengingat sahamnya masih dalam kondisi suspensi.

Baca Juga: Apa Itu Forced Delisting oleh BEI? Ini Pengertian dan Perbedaan dengan Voluntary

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News