Prospek Emiten Plastik Dibayangi Tekanan Biaya hingga Akhir 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tekanan biaya masih menjadi tantangan bagi emiten plastik hilir seperti PT Panca Budi Idaman Tbk (PBID), PT Primadaya Plastisindo Tbk (PDPP), PT Argha Karya Prima Industry Tbk (AKPI), PT Asiaplast Industries Tbk (APLI), dan PT Asia Pramulia Tbk (ASPR) hingga akhir 2026.

Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Kevin Yudha Pratama mengatakan, dampak kenaikan biaya produksi terhadap masing-masing emiten dapat berbeda. Salah satu faktor yang menentukan adalah kemampuan perusahaan dalam meneruskan kenaikan biaya tersebut ke harga jual.

"Untuk tekanan biaya sampai akhir 2026, menurut kami dampaknya bisa beda-beda di tiap emiten karena kemampuan pass-through ke harga jual juga beda," kata Kevin kepada Kontan, Kamis (1/10/2026).


Baca Juga: Bitget Mengalokasikan 30% Trading Fee untuk Para Pengguna

Ia mencermati bahwa pada semester I 2026, kenaikan cost of goods sold atau COGS belum langsung menekan seluruh emiten plastik. PBID, PDPP, AKPI, dan APLI masih mencatat perbaikan gross margin, sedangkan ASPR justru mengalami penurunan.

Menurut Kevin, pergerakan harga resin dan bahan baku serta kemampuan emiten meneruskan kenaikan biaya kepada pelanggan menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan hingga akhir tahun. Selain itu, emiten dengan tingkat leverage lebih tinggi juga lebih sensitif terhadap kenaikan biaya bunga dan kebutuhan pendanaan.

Di sisi lain, realisasi relaksasi bea masuk bahan baku menjadi 0% dinilai dapat membantu emiten plastik, terutama perusahaan yang memiliki ketergantungan cukup besar terhadap bahan baku impor yang masuk dalam cakupan kebijakan tersebut.

"Untuk relaksasi bea masuk bahan baku 0%, menurut kami ini bisa cukup membantu, terutama buat emiten yang cukup bergantung pada bahan baku impor yang masuk dalam cakupan kebijakan," ujarnya.

Menurut Kevin, kebijakan tersebut berpotensi menekan biaya bahan baku sekaligus mengurangi kebutuhan modal kerja secara tidak langsung. Namun, dampaknya tidak akan sama bagi setiap perusahaan karena bergantung pada jenis bahan baku, porsi impor, serta tarif efektif yang selama ini dibayarkan.

Karena itu, ia menilai detail implementasi kebijakan dan besarnya penghematan yang benar-benar dapat tercermin dalam margin menjadi hal penting untuk dicermati.

Baca Juga: Rupiah Terancam Melemah ke Rp18.200, 5 Indikator Ini Jadi Kunci

Dari sisi fundamental dan neraca pada semester I 2026, PBID dinilai relatif lebih nyaman dibandingkan sejumlah emiten plastik lainnya. Profitabilitas PBID dinilai cukup kuat dengan tingkat leverage yang rendah.

Sementara itu, PDPP mencatat pertumbuhan yang cukup tinggi, meski kenaikan utang jangka pendek masih perlu diperhatikan. APLI memiliki utang bank yang relatif rendah, tetapi skala labanya masih kecil.

"Kalau melihat fundamental dan neraca semester I 2026, PBID terlihat relatif lebih nyaman karena profitabilitasnya cukup kuat dan leverage-nya rendah. PDPP juga mencatat pertumbuhan yang cukup tinggi, tapi kenaikan utang jangka pendeknya tetap perlu diperhatikan," kata Kevin.

Untuk AKPI, perbaikan operasional masih terlihat, meski tingkat utangnya lebih tinggi dibandingkan beberapa emiten lainnya. Adapun ASPR perlu dicermati karena gross margin perusahaan turun pada semester I 2026 sehingga ruang untuk menyerap kenaikan biaya dinilai lebih terbatas.

Memasuki akhir 2026, Kevin melihat prospek emiten plastik masih cukup beragam. Sejumlah perusahaan telah mencatat perbaikan kinerja pada semester pertama sehingga masih terdapat ruang untuk mencatat perbaikan secara tahunan.

Namun, tekanan dapat kembali meningkat pada kuartal IV 2026 apabila biaya bahan baku tetap tinggi, sementara permintaan dan ruang kenaikan harga jual masih terbatas.

Baca Juga: Hingga September 2026, Bitget Mencatatkan Rasio Proof of Reserves 131%

"Untuk prospek sampai akhir 2026, menurut kami kondisinya masih cukup mixed. Beberapa emiten sudah mencatat perbaikan kinerja di semester pertama, jadi secara full year masih ada ruang untuk tetap membaik," tuturnya.

Menurut Kevin, sejumlah katalis yang dapat mendukung kinerja emiten plastik antara lain realisasi kebijakan bea masuk 0%, penurunan harga resin, kondisi rupiah yang lebih stabil, serta perbaikan permintaan.

Sebaliknya, risiko utama berasal dari kondisi ketika biaya produksi meningkat tetapi sulit diteruskan ke harga jual. Kebutuhan pendanaan yang ikut meningkat juga dapat menjadi tekanan tambahan bagi emiten dengan leverage lebih tinggi.

Dari sisi investasi, Kevin mengatakan pihaknya relatif melihat PBID dan PDPP berdasarkan fundamental dan pertumbuhan kinerja yang dimiliki. Meski demikian, investor tetap perlu mencermati likuiditas perdagangan saham kedua emiten tersebut.

"Kalau dari sisi fundamental dan pertumbuhan, kami relatif lebih melihat PBID dan PDPP karena kinerjanya cukup kuat, tapi kami lebih memilih untuk lebih cautious karena likuiditas saham-sahamnya relatif tipis," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News