Prospek Emiten Rokok Semester II-2026 Membaik, Cermati Rekomendasi Analis



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek emiten rokok pada semester II-2026 diperkirakan mulai membaik seiring perbaikan fundamental industri.

Produksi rokok legal nasional yang mencapai sekitar 31 miliar batang per April 2026 serta meningkatnya penindakan rokok ilegal dengan sitaan hingga 865 juta batang menjadi katalis positif bagi pelaku industri.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) David Kurniawan menilai, kinerja emiten rokok mulai menunjukkan pemulihan secara bertahap pada paruh kedua tahun ini.


“Prospek industri pada semester kedua ini cenderung lebih stabil dan mengalami pemulihan bertahap. Keputusan pemerintah untuk tidak menaikkan tarif cukai memberikan ruang napas bagi produsen,” ujar David kepada Kontan, Selasa (7/7/2026).

Baca Juga: Prospek Emiten Rokok Semester II-2026 Selektif, Ini Rekomendasi Saham Pilihan

Ia menambahkan, penegakan hukum terhadap rokok ilegal juga turut mendorong perbaikan volume penjualan emiten legal.

“Dengan penindakan yang lebih agresif terhadap rokok ilegal, konsumsi diproyeksikan beralih kembali ke produk resmi sehingga volume penjualan berpotensi kembali ke jalur positif,” jelasnya.

Dari sisi kinerja, pada kuartal I-2026 terlihat adanya perbedaan performa antar emiten, seperti PT Gudang Garam Tbk (GGRM) dan PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM) yang mencatat pertumbuhan laba, sementara PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP) masih tertekan. 

 
GGRM Chart by TradingView

David menyebut, perbedaan tersebut dipengaruhi oleh strategi masing-masing emiten dalam menghadapi tekanan industri.

“GGRM dan WIIM ditopang efisiensi internal dan daya saing produk, terutama di segmen harga terjangkau. Sementara HMSP masih menghadapi tekanan margin akibat dominasi produk premium dan beban biaya yang tinggi,” paparnya.

Baca Juga: Prospek Emiten Data Center Masih Terbatas, Begini Rekomendasi Analis

Untuk keseluruhan tahun 2026, kinerja emiten rokok diproyeksikan lebih positif dibandingkan tahun sebelumnya.

“Dengan stabilitas tarif cukai sepanjang tahun ini, emiten berpeluang melakukan ekspansi margin yang solid. Tantangannya adalah menjaga daya beli masyarakat agar volume tetap terjaga,” ujarnya.

Meski demikian, sektor rokok dinilai kembali menarik untuk dikoleksi secara selektif.

“Sektor ini kembali layak dipertimbangkan sebagai aset defensif. Valuasi yang masih undervalued, arus kas yang kuat, serta potensi dividend yield yang menarik menjadi daya tarik bagi investor jangka panjang,” imbuh David.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News