Prospek Emiten Rokok Semester II-2026 Selektif, Ini Rekomendasi Saham Pilihan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek emiten rokok pada semester II-2026 dinilai masih menantang, meskipun terdapat sejumlah sentimen positif dari perbaikan fundamental industri.

Produksi rokok legal nasional yang mencapai sekitar 31 miliar batang per April 2026 serta meningkatnya penindakan rokok ilegal dengan sitaan hingga 865 juta batang dinilai mulai menopang pemulihan volume penjualan.

Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo mengatakan, perbaikan tersebut belum sepenuhnya mampu mendorong kinerja secara signifikan.


“Prospek industri rokok pada semester II-2026 masih cukup menantang. Perbaikan dari sisi produksi legal dan penindakan rokok ilegal berpotensi menopang volume, namun pemulihannya masih terbatas karena daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih dan tekanan cukai masih membebani,” ujar Azis kepada Kontan, Senin (6/7/2026).

Baca Juga: IHSG Menguat 1,19% ke 5.986 pada Selasa (7/7/2026), SMGR, BBNI, BRPT Top Gainers LQ45

Sejalan, Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand mengatakan, kondisi industri mulai lebih kondusif dibandingkan semester pertama.

“Produksi rokok legal 31 miliar batang dan sitaan rokok ilegal 865 juta batang mencerminkan pemulihan volume yang nyata. H2-2026 diproyeksikan lebih solid dari H1 seiring normalisasi daya beli pasca Lebaran dan tarif cukai yang lebih terukur,” jelas Abida.

Dari sisi kinerja emiten, pada kuartal I-2026 terjadi divergensi antara beberapa pemain besar. Emiten seperti PT Gudang Garam Tbk (GGRM) dan PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM) mencatat pertumbuhan laba, sementara PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP) masih tertekan.

Azis menjelaskan, perbedaan tersebut dipengaruhi oleh strategi operasional dan portofolio produk masing-masing emiten.

“GGRM dan WIIM mencatat pertumbuhan laba berkat efisiensi biaya dan bauran produk yang lebih sesuai dengan preferensi konsumen. Di sisi lain, HMSP masih menghadapi tekanan pada volume dan margin akibat dominasi produk premium serta tingginya beban cukai,” ujarnya.

Abida menambahkan, faktor segmen pasar juga menjadi pembeda utama.

Baca Juga: ORI030 Tawarkan Kupon Hingga 7%, Ekonom: Masih Kompetitif di Tengah Gejolak Pasar

“GGRM tumbuh dari efisiensi biaya dan pemulihan volume SKT bermargin lebih baik. WIIM diuntungkan segmen kretek mesin yang elastis terhadap pemulihan daya beli kelas menengah bawah. HMSP masih tertekan akibat ketergantungan segmen premium yang pemulihannya lebih lambat,” paparnya.

Untuk keseluruhan tahun 2026, kinerja emiten rokok diperkirakan cenderung stabil dengan pertumbuhan terbatas.

“Kami memperkirakan kinerja hingga akhir 2026 cenderung stabil dengan pertumbuhan terbatas. GGRM dan WIIM berpeluang mencatatkan kinerja lebih baik dibandingkan HMSP, meski ruang pertumbuhannya masih dibayangi tantangan industri,” kata Azis.

Meski demikian, sektor rokok dinilai masih layak dikoleksi dengan pendekatan selektif.

“Valuasi beberapa emiten sudah cukup menarik, namun investor tetap perlu mencermati risiko kenaikan cukai, pelemahan daya beli, dan potensi perubahan regulasi,” imbuh Azis.

Senada, Abida menyebut valuasi yang terdiskon dan dividend yield menjadi daya tarik tambahan.

 
GGRM Chart by TradingView

“Valuasi sudah sangat terdiskon, dividend yield HMSP dan GGRM menarik sebagai cushion, dan pemberantasan rokok ilegal yang semakin intensif menjadi katalis struktural,” ujarnya.

Dari sisi rekomendasi, Azis memberikan rekomendasi trading buy untuk saham GGRM dengan target harga di kisaran Rp17.350-Rp17.400 dan level support di Rp15.225 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News