Prospek Emiten Tambang Nikel: Dibayangi Oversupply hingga Kejatuhan Harga Jual



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Tahun ini agaknya menjadi periode yang suram bagi emiten nikel. Harga komoditas logam dasar ini terpantau terus tertekan sepanjang tahun ini.

Mengutip Bloomberg, harga nikel di London Metal Exchange (LME) untuk kontrak 3 bulan sempat melemah ke level terendah sejak 2021, yakni pada perdagangan Senin (22/1), yakni di level US$ 16.007 per ton.

Anjloknya harga nikel mulai berdampak pada operasional Perusahaan nikel global. Perusahaan Wyloo Metals milik pengusaha Andrew Forrest melaporkan menutup operasinya di Australia Barat seiring rendahnya harga nikel. Wyloo adalah sumber utama bijih untuk Perusahaan pabrik pengolahan (smelter) nikel, yakni BHP yang berlokasi di Kambalda.


Dus, kondisi ini memaksa BHP untuk mengikuti langkah tersebut dan menutup pabrik pengolahannya. Menurut laporan, per Desember 2023, harga nikel yang dijual oleh BHP merosot hingga 17% menjadi US$ 16.812 per ton.

“Biaya telah meningkat tajam dan terus naik sementara harga jual turun seiring dengan masuknya pasokan baru ke pasar,” kata Presiden BHP Nickel West Asset, Jessica Farrell.

Baca Juga: IHSG Melemah di Awal Perdagangan, Cek Rekomendasi Saham Pilihan Hari Ini (26/1)

Sejumlah analis sepakat, harga nikel masih akan berat ke depan. Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rizkia Darmawan menilai, harga nikel kemungkinan sulit untuk kembali ke harga puncaknya di level US$ 30.000 per ton pada tahun ini.  Naiknya produksi nikel Indonesia menghambat pergerakan harga nikel.

Meskipun peningkatan aktivitas manufaktur di China dapat memulihkan harga nikel, Rizkia tetap mewaspadai kondisi surplus produksi saat ini. Secara konservatif, Mirae Asset memperkirakan rata-rata harga nikel LME tahun ini dan tahun 2025 akan bergerak di rentang US$ 15.000 dan US$ 18.000 per ton, dengan skenario base case di harga US$ 16.350 per ton.

Mirae Asset juga mencermati adanya potensi peralihan industri baterai kendaraan Listrik atau electric vehicle (EV) ke baterai lithium ferro-phosphate (LFP), karena baterai jenis ini memiliki keunggulan dibandingkan nickel manganese cobalt (NMC). 

“Oleh karena itu, potensi hilirisasi nikel di Indonesia masih bergantung pada perkembangan ekosistem baterai kendaraan listrik dalam negeri dan permintaan baterai kendaraan listrik berbasis nikel di masa depan,” kata Rizkia.

Baca Juga: Berpeluang Jadi Blue Chip, 4 Saham Ini Masuk Indeks LQ45, Cek Rekomendasi Analis

Kepala Riset RHB Sekuritas Indonesia Andrey Wijaya menilai, sektor nikel masih dibayangi risiko dari sisi makroekonomi. Ekonomi China memang telah menunjukkan perbaikan yang moderat sejak kuartal III-2023. Namun, Moody’s telah menurunkan prospek rating kredit China dari stabil menjadi negatif. Hal ini menunjukkan pemulihan ekonomi China yang lebih lambat.

Namun, RHB Sekuritas menilai sentimen ini dapat diimbangi oleh ekspektasi depresiasi nilai tukar dolar AS pada akhir tahun 2024, yang secara historis berdampak langsung pada harga komoditas.

Harga Saham Tertekan

Sejalan dengan tertekannya harga nikel, harga saham emiten di sektor ini juga ikut tertekan. Ambil contoh, saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang melemah 15,89% ke level Rp 1.535 dalam perdagangan tiga bulan ke belakang. Saham PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) melemah 6,03%.

Kejatuhan terdalam dialami oleh saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) yang anjlok hingga 29,57% ke level Rp 4.080 per saham.

 
INCO Chart by TradingView

Secara teknikal, Analis Kanaka Hita Solvera William Wibowo menilai, saham ANTM, INCO, dan NCKL terkonfirmasi sedang downtrend.

Sedangkan saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dan anak usahanya, yakni PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) masih cenderung konsolidasi dan belum terkonfirmasi apakah sedang uptrend atau downtrend dalam jangka menengah. Dus, dia merekomendasikan wait and see terhadap saham-saham nikel ini.

Mirae Asset Sekuritas menyematkan rating netral untuk sektor nikel Indonesia. Mirae Asset menyukai saham ANTM karena transformasi bisnisnya menjadi produsen baterai kendaraan listrik berbasis nikel yang terintegrasi. Emiten pelat merah ini juga memiliki kebijakan dividen yang besar, yakni dengan minimal dividen payout ratio (DPR) 30%

Sedangkan untuk INCO, Rizkia melihat potensi pertumbuhan INCO akan semakin besar pada tahun 2025 seiring dengan ekspansi yang dijalankan. Namun untuk tahun ini, kinerja keuangan INCO kemungkinan akan tetap bergantung pada harga nikel global dan kemampuan INCO dalam mengelola biaya.

Rekomendasi Mirae Asset untuk ANTM adalah trading buy dengan target harga Rp 1.850 per saham. Sedangkan rekomendasi untuk saham INCO adalah trading buy dengan target harga Rp 4.900 per saham.

Sementara RHB Sekuritas menyematkan rating overweight untuk sektor tambang logam, dengan saham INCO dan ANTM sebagai pilihan utama alias top picks. Andrey merekomendasikan buy saham INCO dengan target harga Rp 6.000 per saham seiring dengan volume produksi INCO yang berangsur membaik.

Baca Juga: Harga Emas Berpotensi Bullish, Begini Rekomendasi Saham Aneka Tambang (ANTM)

Untuk ANTM, RHB Sekuritas merekomendasikan buy dengan target harga Rp 2.660 per saham. Melemahnya kontribusi bisnis feronikel diimbangi oleh peningkatan penjualan bijih nikel, yang memiliki margin operasional yang lebih tinggi

RHB Sekuritas juga merekomendasikan buy saham MDKA dengan target harga Rp 3.200 per saham. Beroperasinya tambang Sulawesi Cahaya Mineral dapat meringankan struktur biaya MDKA, karena harga bahan baku bijih nikel dari tambang ini yang lebih murah bila dibandingkan membeli dari pihak lain.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Anna Suci Perwitasari