Prospek harga tembaga dalam jangka panjang masih positif



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Meski harganya tengah tertekan karena sajian data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) yang beragam, tetapi prospek harga tembaga masih cukup positif. Dalam jangka panjang, pergerakan harga logam industri tersebut masih akan disokong oleh kenaikan permintaan dan kurangnya produksi.

Andri Hardianto, analis PT Asia Tradepoint Futures mengatakan tahun ini tembaga masih akan menghadapi kekurangan pasokan. Meski tidak besar tapi defisit diperkirakan mencapai kisaran 170.000–180.000 ton. Apalagi hingga saat ini China masih memberlakukan pembatasan produksi demi mengurangi tingkat polusi udara.

“Walaupun dollar AS terus menguat tetapi defisit pasokan masih mampu menjaga harga,” terangnya. Meskipun pada Jumat (6/4), indeks dollar AS tengah menurun ke 90,10 dari hari sebelumnya 90,46 akibat rilis data tenaga kerja yang tak sesuai ekspektasi pasar.


Selain itu katalis positif juga diperkirakan datang dari permintaan tembaga China yang kembali pulih. Walaupun sektor properti tengah lesu tetapi perkembangan sektor infrastruktur masih mampu meningkatkan permintaan tembaga sebagai logam industri.

Sedangkan secara teknikal untuk jangka pendek, pergerakan sejumlah indikator juga masih beragam. Harga masih berada di bawah garis moving average (MA) 50 dan MA 100 mengindikasikan pelemahan, tetapi sudah berada di atas garis MA 200 yang artinya ada kemungkinan menguat untuk jangka panjang. Indikator moving average convergence divergence (MACD) masih berada di area negatif mengisyaratkan pelemahan. Tetapi indikator stochastic memberi sinyal penguatan di level 63,5. Hanya indikator relative strength index (RSI) yang bergerak netral di level 45,4.

Andri memperkirakan pada Senin (9/4) harga tembaga akan bergerak mendatar di kisaran US$ 6.720 – US$ 6.810 per metrik ton. Kemudian sepekan berikutnya berada di rentang US$ 6.600–US$ 6.880 per metrik ton.

Asal tahu saja mengutip Bloomberg, harga tembaga kontrak pengiriman tiga bulanan di London Metal Exchange (LME) pada penutupan perdagangan Jumat (6/4) tercatat melemah 0,69% ke level US$ 6.769 per metrik ton. Padahal sehari sebelumnya harga sempat bertengger di level US$ 6.816 per metrik ton.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Sofyan Hidayat