KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Prospek kinerja PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) pada 2026 dinilai masih solid di tengah berbagai tekanan global, termasuk eskalasi geopolitik dan pelemahan rupiah. Analis UBS Sekuritas Indonesia, Permada Darmono mencatat panduan ICBP untuk tahun 2026, yang mana menargetkan pertumbuhan pendapatan sebesar 5% - 7% pada sepanjang 2026 dengan margin EBIT di kisaran 20% - 22%. Ada pun belanja modal (capex) dipandu sebesar Rp 5,5 triliun. Kata Permada, panduan pendapatan tersebut mencerminkan akselerasi dibandingkan realisasi pertumbuhan 3% pada tahun 2025.
Manajemen menjelaskan bahwa hal ini didorong oleh kuatnya performa pada kuartal IV 2025 yang mana naik 9%, berlanjutnya dukungan belanja pemerintah melalui program MBG (program makan gratis yang kini menjangkau sekitar 60 juta penerima), serta normalisasi belanja konsumen setelah melemah pada paruh pertama tahun. Tetapi, dicermati bahwa panduan tersebut disusun sebelum eskalasi terbaru di Timur Tengah dan belum memperhitungkan skenario geopolitik terburuk. Permada juga melihat pasokan gandum diperkirakan masih kondusif sepanjang 2026, dengan luas area tanam global sekitar 5% lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.
Baca Juga: Cek Prospek Kinerja Indofood (INDF) & Indofood CBP (ICBP) Usai Raih Kinerja Solid “Hingga awal 2026, belum ada kenaikan harga mi instan, dengan manajemen menilai bahwa level margin EBIT saat ini belum memerlukan penyesuaian harga,” terang Permada dalam riset 31 Maret 2026. Kendati demikian, Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su menekankan bahwa volatilitas harga bahan baku menjadi salah satu tantangan utama yang perlu diwaspadai tahun ini. Kenaikan harga pada komponen utama seperti kemasan (packaging), gandum, dan crude palm oil (CPO) berpotensi menekan margin perseroan. "Mengingat ketiga komponen tersebut memiliki kontribusi signifikan, yakni lebih dari 50% terhadap total biaya bahan baku ICBP,” ujar Harry saat dihubungi Kontan, Senin (6/4/2026). Meski demikian, ia menilai ICBP masih memiliki fondasi bisnis yang kuat untuk menjaga kinerja. Pangsa pasar mi instan yang tetap dominan menjadi salah satu penopang utama, di tengah permintaan yang relatif stabil. Selain itu, kinerja penjualan yang tetap resilien, baik di pasar domestik maupun internasional, diyakini mampu menopang pertumbuhan perseroan pada 2026. Lebih lanjut, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta juga mencermati integrasi bisnis dengan Bogasari yang menopang pasokan bahan baku utama, khususnya tepung terigu bisa meminimalisir tekanan beban produksi. Dengan dukungan ini, ICBP dinilai lebih tahan terhadap gejolak harga gandum global maupun potensi gangguan distribusi logistik, seperti di jalur Terusan Suez. Selain itu, kontribusi pendapatan dari bisnis luar negeri melalui Pinehill juga menjadi nilai tambah. Pendapatan dalam mata uang asing ini berfungsi sebagai lindung nilai (hedging) alami terhadap pelemahan rupiah. “Laba dari luar negeri akan dikonversikan ke rupiah, sehingga bisa menjadi penyeimbang saat nilai tukar berfluktuasi,” jelas Nafan. Sependapat dengan Harry, ia menilai ICBP masih memiliki fondasi bisnis yang kuat untuk menjaga kinerja. Pangsa pasar mi instan yang tetap dominan menjadi salah satu penopang utama, di tengah permintaan yang relatif stabil.
Baca Juga: Laba Grup Indofood (INDF) dan (ICBP) Kompak Melejit Dua Digit pada 2025 Dari sisi makro, kondisi inflasi domestik yang relatif terkendali juga menjadi katalis positif. Nafan mencatat inflasi masih berada di bawah 3,5%, sesuai dengan target Bank Indonesia (BI), sehingga turut menjaga daya beli masyarakat. Selain itu, momentum konsumsi seperti periode Lebaran serta stabilitas pasar domestik turut menjadi penopang prospek kinerja ICBP sepanjang tahun ini. Dengan berbagai faktor tersebut, Nafan tetap optimistis terhadap prospek ICBP di 2026, meskipun pasar saham masih dibayangi volatilitas. Jika melihat kinerja keuangan, ICBP mencatatkan penjualan neto sebesar Rp 74,85 triliun per tahun 2025. Perolehan itu meningkat 3,1% year on year (yoy) dari posisi tahun 2024 sebesar Rp 72,59 triliun.
Baca Juga: Pemulihan Kinerja Indofood CBP (ICBP) Akan Terlihat di 2026, Cek Rekomendasi Sahamnya Adapun, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada entitas induk atau laba bersih yang diatribusikan ke pemilik entitas induk juga tumbuh lebih tinggi, yakni 30,3% yoy menjadi Rp 9,22 triliun pada 2025, dari Rp 7,08 triliun pada 2024. Maka, Permada pun memproyeksi kinerja top line ICBP akan menunjukkan tren pertumbuhan yang positif. Diprediksi pendapatan perseroan pada 2026 diperkirakan mencapai Rp 78,85 triliun, meningkat 5,3% dibanding realisasi tahun 2025.
Dengan berbagai faktor di atas, Permada memberikan rekomendasi buy untuk saham ICBP dengan target harga Rp 11.300 per saham. Kemudian Harry juga merekomendasikan buy ICBP dengan target harga Rp 11.000 per saham. Sedangkan Nafan memberikan rekomendasi untuk Accumulative Buy saham ICBP dengan target Rp 8.540 per saham.
Baca Juga: Penjualan dan Laba Bersih Indofood CBP (ICBP) Kompak Naik pada Tahun 2025 Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News