KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dinilai masih menarik, meskipun industri nikel menghadapi tantangan berupa volatilitas harga komoditas dan ketidakpastian kebijakan pemerintah. Analis melihat perbaikan produksi, kenaikan harga jual nikel, hingga perkembangan proyek hilirisasi menjadi katalis yang dapat menopang kinerja INCO pada semester II-2026. Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas, Adrian Djie, menilai kinerja INCO pada kuartal I-2026 menunjukkan fundamental yang tetap solid.
Perseroan membukukan pendapatan sebesar US$ 253 juta atau tumbuh 22% secara tahunan (
year on year/yoy), sementara laba bersih melonjak 100% yoy menjadi US$ 44 juta.
Baca Juga: Belum Punya Saham di Usia 20-an? Ini 5 Cara Mulai Sebelum Terlambat Menurut Adrian, kenaikan laba tersebut terjadi di tengah volume penjualan mengalami penurunan akibat proses pembangunan kembali tungku nikel matte dan keterlambatan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pada awal tahun. "Penurunan volume berhasil dikompensasi oleh kenaikan rata-rata harga jual (
average selling price/ASP) nikel matte serta normalisasi biaya operasional, sehingga margin laba meningkat signifikan," tulis Adrian dalam riset 22 Mei 2026. Ia memperkirakan produksi INCO akan meningkat pada kuartal-kuartal berikutnya setelah RKAB disetujui pada pertengahan Januari. Dengan kuota bijih nikel sebesar 8,1 juta
wet metric ton (wmt) yang telah diamankan, perusahaan dinilai memiliki ruang untuk mengoptimalkan produksi sekaligus meningkatkan penjualan saprolit yang dapat memperkuat profitabilitas. Di sisi lain, analis UBS Sekuritas Indonesia, Igor Putra, melihat proyek
High Pressure Acid Leach (HPAL) Pomalaa menjadi salah satu katalis jangka menengah bagi INCO. Menurutnya, risiko pasokan sulfur yang sebelumnya menjadi perhatian kini mulai mereda setelah perusahaan meningkatkan penggunaan bijih pirit dalam proses produksi nikel matte. "Strategi tersebut menurunkan konsumsi sulfur dan memperpanjang cadangan pasokan sulfur hingga pertengahan 2027, sehingga mengurangi risiko kenaikan biaya produksi," tulis Igor dalam riset 29 Mei 2026. Igor juga menilai proyek HPAL Pomalaa yang dijadwalkan mulai beroperasi pada kuartal III-2026 masih berpotensi menghasilkan margin positif meski harga sulfur dan limonit berada di level tinggi. Selain itu, INCO disebut akan mengajukan tambahan kuota RKAB sebesar 12 juta hingga 14 juta wmt pada paruh kedua tahun ini sehingga total kuota produksi 2026 dapat mencapai 20 juta hingga 22 juta wmt. Meski demikian, prospek INCO tetap dibayangi sejumlah risiko. Adrian menyoroti potensi kenaikan biaya tunai (
cash cost) di atas target US$ 10.000 per ton, volatilitas harga nikel global, serta potensi keterlambatan pengembangan proyek HPAL.
Sementara, Igor menambahkan risiko berasal dari pelemahan harga nikel, kenaikan biaya energi, hingga potensi keterlambatan proyek hilirisasi. Adrian menetapkan target harga Rp 6.300 per saham, sedangkan Igor memberikan target harga yang lebih tinggi, yakni Rp 9.500 per saham.
Baca Juga: TOBA Raih Pendanaan Bank Global Rp 5,3 Triliun, Analis: Kepercayaan Global Meningkat Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News