Prospek Indeks IDX80 Usai Lakukan Rebalancing



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perubahan konstituen indeks IDX80 periode Februari hingga April 2026 dengan masuknya PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) dinilai belum tentu langsung mengerek kinerja indeks, meski secara mekanis menambah bobot kapitalisasi pasar.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menilai, tambahan saham berkapitalisasi besar memang memperkuat struktur indeks, namun tidak otomatis menjadi motor penggerak utama.

“Masuknya BREN, CUAN, dan HRTA secara market cap menambah bobot IDX80, tetapi secara fungsional belum tentu langsung mengangkat kinerja indeks. Motor tetap bergantung pada saham dengan free float bersih, likuiditas stabil, dan visibilitas laba,” ujar Liza kepada Kontan, Kamis (5/2/2026).


Di tengah isu metodologi global seperti MSCI dan tekanan free float yang sempat mengguncang IHSG, Liza memandang IDX80 justru semakin relevan sebagai indeks domestik yang menopang alokasi modal investor lokal.

Baca Juga: COIN Dukung CFX Turunkan Biaya Transaksi Bursa Kripto

“IDX80 seharusnya menjadi buffer domestik bagi reksadana, dana pensiun, dan asuransi. Perannya bukan mengejar narasi global, tapi menjaga kesinambungan alokasi modal dalam negeri,” tambahnya.

Menurut Liza, meski saham-saham baru membawa variasi sektor dan tema investasi, arah indeks ke depan akan lebih ditentukan oleh rotasi kembali ke fundamental seiring masuknya musim laporan keuangan emiten.

Sejalan dengan itu, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Hari Rachmansyah menilai kehadiran BREN dan CUAN berpotensi memberikan dukungan tambahan terhadap IDX80, terutama karena keduanya telah menjadi bagian dari indeks global seperti MSCI.

“Secara historis, saham yang masuk MSCI cenderung mendapatkan aliran dana pasif asing yang lebih stabil. Ini bisa membantu menopang likuiditas dan menarik minat investor,” jelas Hari.

Sementara itu, HRTA dinilai membawa sentimen positif dari sisi komoditas, seiring tren harga emas global yang masih solid dan menjadi daya tarik tersendiri bagi investor tematik.

 
CUAN Chart by TradingView

Terkait aliran dana institusi pasca-rebalancing, Liza menekankan bahwa pergerakannya akan bersifat selektif, bukan otomatis mengikuti indeks.

“BREN dan CUAN menarik dari sisi tema dan kapitalisasi, tetapi free float yang ketat dan volatilitas tinggi membuatnya kurang ideal sebagai core holding institusi. HRTA relatif lebih ramah karena likuiditasnya lebih rapi dan didukung harga emas,” ujarnya.

Hari menambahkan bahwa penyesuaian bobot indeks tetap berpotensi mendorong aliran dana pasif dan semi-pasif secara bertahap, khususnya bagi manajer investasi yang menjadikan IDX80 sebagai acuan portofolio.

Dari sisi risiko, masuknya saham dengan volatilitas tinggi seperti BREN dan CUAN berpotensi meningkatkan fluktuasi jangka pendek IDX80 dibanding konstituen yang keluar seperti AVIA, LSIP, dan PNBN. Namun, kehadiran investor institusi dan dana pasif global dinilai bisa membantu menjaga stabilitas pergerakan dalam jangka menengah.

Baca Juga: IHSG dan Rupiah Tertekan Usai Moody’s Pangkas Outlook Kredit Indonesia

Untuk prospek sepanjang 2026, Hari memandang IDX80 masih memiliki peluang menguat, ditopang masuknya saham berkapitalisasi besar, dukungan sektor komoditas, serta sentimen positif dari emiten-emiten konglomerasi.

Sementara Liza menekankan bahwa kunci kinerja indeks tetap berada pada kualitas fundamental emiten dan konsistensi pertumbuhan laba.

“Rotasi ke saham berbasis fundamental akan lebih menentukan arah IDX80 ke depan dibanding sekadar perubahan konstituen,” katanya.

Dalam menghadapi dinamika rebalancing ini, analis menyarankan investor tetap fokus pada saham dengan fundamental kuat, likuiditas tinggi, serta katalis pertumbuhan yang jelas, sambil memanfaatkan volatilitas jangka pendek secara selektif.

Selanjutnya: KPK OTT Wakil Ketua PN Depok, Sita Uang Ratusan Juta

Menarik Dibaca: Hemat Lebih Banyak! 6 Promo Kuliner Spesial Hari Ini 6 Februari, Starbucks hingga A&W

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News