Prospek Indocement Tunggal Prakarsa (INTP) Masih Terbatas, Cek Rekomendasi Analis



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek saham PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) dinilai masih terbatas dalam jangka pendek di tengah ketidakpastian harga jual dan volume penjualan.

Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su mengatakan margin INTP berpotensi tertekan akibat kenaikan biaya energi, khususnya batubara, serta pelemahan nilai tukar rupiah.

"Di sisi permintaan, pelemahan daya beli turut menekan aktivitas investasi, terutama pada sektor properti, yang berpotensi berdampak pada perlambatan capital expenditure (capex)," kata Harry kepada Kontan, Selasa (7/4/2026).


Baca Juga: Bagaimana Prospek Saham ANTM di Tengah Lonjakan Permintaan Emas? Ini Kata Analis

Memasuki kuartal II-2026, kinerja INTP diperkirakan masih dipengaruhi oleh volatilitas harga bahan baku, pergerakan rupiah, serta realisasi belanja infrastruktur pemerintah.

Untuk meredam tekanan biaya, INTP telah menaikkan harga semen sekitar Rp 2.000 per karung atau sekitar 3% di luar Jawa pada Maret lalu. Perseroan juga berencana menaikkan harga sebesar Rp 1.500 hingga Rp 2.500 per karung di wilayah Jawa.

Harry menilai langkah ini tepat untuk menjaga margin. Namun, kenaikan harga berisiko menekan volume penjualan di tengah daya beli yang masih lemah.

“Penyesuaian harga secara selektif dan efisiensi biaya menjadi strategi yang lebih optimal saat ini,” ujar Arnanto dalam rilisnya.

Sejalan dengan itu, analis JPMorgan, Arnanto Januri memperkirakan INTP akan terus menekan pengeluaran guna menjaga profitabilitas, meskipun volume penjualan belum menunjukkan perbaikan signifikan.

Baca Juga: Prospek Saham BBCA 2026: Analis Kompak Rekomendasi Beli, Kenapa?

Menurutnya, pergerakan saham INTP cenderung terbatas dalam waktu dekat karena minimnya katalis dari sisi harga maupun permintaan.

“Kenaikan harga saham membutuhkan peningkatan volume penjualan yang signifikan serta dividen yang lebih besar, namun keduanya kecil kemungkinan terjadi dalam waktu dekat,” tulisnya dalam riset 24 Februari 2026.

Dari sisi sentimen, pembagian dividen berikutnya diperkirakan baru akan berlangsung pada Mei 2026. Di saat yang sama, pelemahan rupiah juga berpotensi menekan kinerja.

Meski demikian, INTP masih memiliki penopang berupa free cash flow (FCF) yield sekitar 10%, yang dinilai dapat membatasi penurunan harga saham lebih dalam.

 
INTP Chart by TradingView

Ke depan, sejumlah katalis positif berpotensi mendorong kinerja, seperti peningkatan volume penjualan seiring naiknya belanja pemerintah, dividen yang lebih tinggi dari ekspektasi, serta efisiensi biaya berkelanjutan.

Baca Juga: Prospek Saham Maskapai Melejit Jelang Mudik Lebaran 2026, Simak Rekomendasi Analis

Namun, risiko tetap membayangi, mulai dari potensi penurunan volume penjualan, tambahan kapasitas baru di industri semen, hingga kenaikan biaya akibat pelemahan rupiah dan implementasi kebijakan over dimension over load (ODOL).

Harry merekomendasikan beli saham INTP dengan target harga Rp 7.216 per saham. Sementara Arnanto memberikan peringkat netral dengan target harga Rp 6.600 per saham.

Pada perdagangan hari Selasa (7/4/2026) saham INTP ditutup turun 2,00% ke Rp 5.025 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News