Prospek Industri Baja Nasional Semester II 2026 Mulai Membaik



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek industri baja nasional pada semester II 2026 diperkirakan mulai menunjukkan perbaikan dibandingkan paruh pertama tahun ini.

Meski demikian, pemulihan permintaan diperkirakan masih berlangsung secara bertahap seiring aktivitas manufaktur yang belum sepenuhnya pulih dan tekanan produk impor yang masih membayangi pasar domestik.

Ketua Umum Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) Harry Warganegara mengatakan, perbaikan permintaan baja sangat bergantung pada percepatan aktivitas ekonomi nasional, realisasi proyek konstruksi dan infrastruktur, serta meningkatnya aktivitas sektor manufaktur sebagai pengguna utama produk baja.


Namun, menurutnya, kondisi permintaan saat ini masih relatif lemah. Hal tersebut tercermin dari Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Juni 2026 yang masih berada dalam fase kontraksi sehingga kebutuhan baja belum kembali normal.

Baca Juga: Danantara Klaim Laba Pertamina Tembus Rp 24,9 Triliun per April 2026

"Di sisi lain, industri baja nasional juga menghadapi persaingan yang semakin ketat akibat meningkatnya tekanan produk baja impor dengan harga yang sangat kompetitif," ujar Harry kepada Kontan, Jumat (3/7/2026).

Karena itu, IISIA memandang prospek industri baja pada semester II 2026 dengan optimisme yang tetap terukur. Menurut Harry, pemulihan industri memerlukan dukungan kebijakan yang mampu mendorong aktivitas sektor-sektor pengguna baja sekaligus menciptakan iklim persaingan usaha yang lebih sehat.

Pasar Domestik Masih Menjadi Andalan

Harry menjelaskan, pasar domestik masih menjadi penopang utama industri baja nasional. Permintaan terutama berasal dari sektor konstruksi, infrastruktur, manufaktur, otomotif, hingga berbagai proyek investasi yang terus berjalan.

Meski memiliki potensi pasar yang besar, produsen baja nasional belum sepenuhnya menikmati peluang tersebut. Tingginya penetrasi produk impor membuat tingkat utilisasi industri baja dalam negeri masih berada pada level yang relatif rendah.

Karena itu, IISIA terus mendorong peningkatan penggunaan produk baja nasional, terutama pada proyek-proyek pemerintah, badan usaha milik negara (BUMN), serta berbagai proyek investasi strategis.

Di sisi lain, peluang ekspor masih terbuka bagi sejumlah produk baja yang memiliki daya saing di pasar regional maupun negara berkembang. Namun, prospek ekspor masih menghadapi tantangan berupa lemahnya permintaan baja global, tingginya excess capacity, serta semakin banyaknya kebijakan perdagangan yang diterapkan berbagai negara.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, tingkat utilisasi industri baja nasional saat ini masih berada di kisaran 52%. Harry menegaskan, fokus industri saat ini bukan menambah kapasitas produksi baru, melainkan mengoptimalkan kapasitas yang telah tersedia.

"Untuk itu diperlukan kepastian pasar, peningkatan penggunaan produk baja nasional, pengendalian terhadap praktik perdagangan yang tidak adil, serta dukungan terhadap daya saing biaya produksi industri dalam negeri sehingga tingkat utilisasi industri dapat terus meningkat," katanya.

Baca Juga: Oversupply dan Libur MBG Tekan Harga Ayam Hidup, Peternak Rugi Rp 12.000 per Ekor

Biaya Produksi Masih Menjadi Tekanan

Selain permintaan yang belum pulih sepenuhnya, industri baja juga masih menghadapi tekanan dari sisi biaya produksi. Industri yang sangat bergantung pada bahan baku dan energi tersebut masih dipengaruhi oleh fluktuasi harga bahan baku global, pergerakan nilai tukar rupiah, biaya logistik, hingga ketersediaan pasokan energi.

IISIA mengapresiasi kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) yang dinilai mampu membantu menjaga daya saing industri nasional. Namun, implementasi kebijakan tersebut dinilai masih menghadapi kendala berupa keterbatasan volume dan alokasi pasokan gas.

Akibatnya, ketika pasokan HGBT tidak mencukupi kebutuhan produksi, pelaku industri harus menggunakan gas non-HGBT dengan harga yang lebih tinggi. Kondisi tersebut meningkatkan biaya energi sekaligus menekan margin perusahaan.

Karena itu, IISIA berharap pemerintah dapat memastikan penyaluran HGBT sesuai volume kontrak sehingga manfaat kebijakan dapat dirasakan secara optimal dan mendorong peningkatan investasi maupun penyerapan tenaga kerja.

ISSP Optimistis Permintaan Baja Meningkat

Sementara itu, PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP) juga memproyeksikan kondisi pasar baja pada semester II 2026 akan lebih baik dibandingkan semester pertama.

Chief Strategy and Business Development Officer sekaligus Corporate Secretary & Investor Relations ISSP Johanes W. Edward mengatakan peningkatan aktivitas pembangunan infrastruktur, proyek swasta, dan belanja sektor manufaktur diperkirakan akan menjadi motor pertumbuhan permintaan baja hingga akhir tahun.

Baca Juga: Danantara Ungkap Laba Pertamina Melejit 80%, Tembus Rp 24,9 Triliun Hingga April 2026

"Kami melihat prospek industri baja pada semester II 2026 cenderung lebih baik dibandingkan semester pertama, seiring berlanjutnya aktivitas pembangunan infrastruktur, proyek swasta, serta peningkatan belanja sektor manufaktur," ujarnya kepada Kontan, Jumat (3/7/2026).

Meski demikian, Johanes mengingatkan bahwa prospek tersebut masih dibayangi berbagai ketidakpastian global, mulai dari dinamika perdagangan internasional, fluktuasi harga komoditas, pergerakan nilai tukar, hingga kondisi geopolitik yang berpotensi memengaruhi sentimen pasar dan keputusan investasi.

Menurutnya, pasar domestik tetap menjadi kontributor utama penjualan ISSP, khususnya dari sektor konstruksi, infrastruktur, manufaktur, dan distribusi air. Sementara itu, permintaan ekspor juga masih menunjukkan tren positif meskipun pasar global belum sepenuhnya pulih.

Untuk mengantisipasi potensi peningkatan permintaan, ISSP saat ini mengoperasikan fasilitas produksinya dengan tingkat utilisasi sekitar 60%–70%. Kapasitas yang masih tersedia dinilai cukup untuk meningkatkan produksi secara bertahap tanpa memerlukan investasi kapasitas baru dalam waktu dekat.

Dari sisi biaya produksi, Johanes menyebut perusahaan masih mampu mengendalikan tekanan biaya melalui pengelolaan persediaan, peningkatan efisiensi operasional, serta optimalisasi bauran produk.

"Dengan pendekatan tersebut, dampak fluktuasi biaya terhadap margin diharapkan tetap dapat dikelola secara terkendali, meskipun tekanan dari persaingan harga di pasar masih menjadi tantangan," tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News