KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek arus modal asing (foreign inflows) ke pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan berlanjut seiring ekspektasi investor bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga acuannya (Fed Rate) dalam pertemuan kebijakan moneter mendatang. Kondisi tersebut dinilai dapat menjaga daya tarik aset domestik, terutama instrumen Surat Berharga Negara (SBN), Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), hingga pasar saham. Ekonom Bank Tabungan Negara (BTN), Myrdal Gunarto mengatakan, aliran dana asing ke pasar keuangan Indonesia saat ini masih menunjukkan perkembangan positif. Hal itu terlihat dari kuatnya arus masuk ke SRBI serta posisi aliran modal asing secara year-to-date (YTD) yang masih mencatatkan inflow.
"Kalau kami lihat sih, perkembangan inflow di pasar keuangan kita sejauh ini cukup baik. Inflow ke SRBI masih kuat. Lalu juga secara year-to-date, posisi flow di pasar kita juga tercatat inflow, masih positif," ujar Myrdal kepada Kontan, Minggu (26/7/2026). Ia menilai, peluang berlanjutnya arus modal asing semakin terbuka apabila The Fed memilih mempertahankan suku bunga di level saat ini. Pasalnya, dengan suku bunga global yang lebih stabil, investor akan kembali mencari instrumen investasi dengan imbal hasil menarik, termasuk aset keuangan Indonesia. Perkembangan positif tersebut juga tercermin dari pergerakan pasar domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Juli 2026 mencatat reli penguatan signifikan hingga menembus kisaran level 6.300-an, setelah sebelumnya berada di area 5.695 pada awal bulan.
Baca Juga: All Out Jaga Rupiah, BI Kerek BI Rate dan SRBI untuk Tarik Inflow Asing ke Pasar RI Penguatan tersebut bahkan sempat berlangsung selama 8–9 hari perdagangan berturut-turut sebelum mengalami koreksi tipis akibat aksi ambil untung (profit taking). Sementara itu, aliran modal asing ke instrumen SBN dan SRBI tercatat mencapai sekitar Rp105 triliun sepanjang Juni hingga awal Juli 2026. Masuknya dana asing tersebut turut dipengaruhi oleh penyesuaian harga aset domestik setelah kenaikan BI-Rate sebesar 100 basis poin (bps), yang membuat imbal hasil instrumen investasi Indonesia kembali menarik. Myrdal mengatakan, pasar saham Indonesia juga mulai kembali menjadi perhatian investor asing. Salah satu sentimen positif yang memperkuat kepercayaan investor adalah afirmasi peringkat kredit Indonesia pada level BBB dengan prospek stabil oleh lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings. Menurutnya, meskipun sebelumnya terjadi arus keluar dana asing (outflow), kondisi tersebut masih dalam kategori koreksi sehat karena investor global masih melakukan penyesuaian terhadap dinamika ekonomi dunia. "Tapi mereka banyak juga yang melakukan aksi buy on weakness. Apalagi di kita banyak pilihan saham-saham yang fundamentalnya bagus dari sektor-sektor yang memang mendapatkan kondisi positif dari perkembangan dinamika global, terutama lonjakan harga minyak," katanya. Ia menyebut, saham sektor minyak dan gas (migas) serta pertambangan menjadi salah satu sektor yang mendapatkan sentimen positif dari kenaikan harga komoditas global. Kondisi tersebut membuat investor asing tetap melihat peluang masuk ke pasar saham Indonesia. "Kalaupun ada outflow, outflownya untuk tren saat ini tidak sederas pada saat kondisi antara Maret sampai Juni. Karena periode Maret sampai Juni pelaku pasar banyak wait and see terkait perkembangan gejolak harga minyak dan juga menunggu pengakuan rating dari lembaga rating," jelasnya. Selain faktor global, Myrdal menyebut terdapat faktor musiman yang sempat mendorong keluarnya dana asing dari pasar domestik, seperti periode pembagian dividen dan aktivitas haji. "Jadi memang pada saat itu kita lihat banyak outflow. Tapi sekarang kelihatannya flow ke pasar keuangan kita atau ke Indonesia sendiri secara umum sudah kembali ke tren positif. Kalau pun ada outflow masih dalam tahapan koreksi sehat," ujarnya. Dari sisi global, Myrdal melihat peluang The Fed mempertahankan suku bunga acuannya masih cukup besar. Hal tersebut didukung oleh tren penurunan inflasi Amerika Serikat (AS) serta perlambatan pasar tenaga kerja.
Baca Juga: Waspadai Outflow Asing Agustus-September, Rupiah Dibayangi Tekanan Kebijakan The Fed Menurutnya, inflasi AS pada Juni turun menjadi sekitar 3,5% dari sebelumnya 4,2% pada Mei. Selain itu, tambahan tenaga kerja nonfarm payroll juga menunjukkan perlambatan. "The Fed kemungkinan masih belum berani menaikkan suku bunga karena dari sisi inflasi mereka juga turun. Ditambah lagi data nonfarm payroll terakhir tambahannya rendah, hanya sekitar 55 ribu tenaga kerja," katanya. Dengan kondisi tersebut, Myrdal memperkirakan The Fed masih akan menjaga suku bunga pada level saat ini. Namun, investor tetap akan mencermati risiko kenaikan harga minyak akibat ketegangan geopolitik yang dapat berdampak terhadap inflasi global. Menurutnya, apabila yield obligasi global meningkat, Indonesia masih memiliki daya tarik karena tingkat imbal hasil aset domestik cukup kompetitif. "Dengan semakin meningkatnya yield kita itu justru menambah daya tarik untuk aset investasi kita," ujarnya. Ia melihat investor asing mulai kembali masuk ke instrumen surat utang negara, terutama pada tenor pendek hingga menengah. "Investor asing banyak yang masuk untuk seri surat utang negara tenor pendek, tenor 12 bulan, tenor dua tahun sampai tenor lima tahun. Mereka banyak yang buy on weakness karena yield-nya sudah menarik," jelas Myrdal. Myrdal menilai persepsi investor global terhadap Indonesia mulai membaik. Afirmasi rating BBB dengan prospek stabil, kondisi fiskal yang tetap terjaga, serta ketahanan ekonomi domestik menjadi faktor utama yang mendukung masuknya kembali modal asing.
Baca Juga: Rupiah Tertekan Sinyal Hawkish The Fed, BI Siap Intervensi All Out "Investor sekarang sudah time to buy ke Indonesia. Mereka sudah punya persepsi positif terhadap ekonomi kita," katanya. Ia menambahkan, kondisi fiskal Indonesia masih menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor. Defisit anggaran pada semester I 2026 tercatat sekitar 0,7%-0,76% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), yang menunjukkan pengelolaan fiskal masih berada dalam kondisi sehat. Selain itu, inflasi domestik yang berada di kisaran 3,34% serta tingkat optimisme konsumen yang tetap terjaga turut menjadi faktor pendukung bagi investasi di Indonesia. "Secara umum fundamental makro kita bagus, investor juga pasti akan masuk," ujar Myrdal. Menurutnya, apabila The Fed secara mengejutkan menaikkan suku bunga, dampaknya terhadap arus modal asing ke Indonesia kemungkinan hanya bersifat sementara. Sebab, Indonesia masih memiliki instrumen investasi yang menarik untuk menyerap likuiditas asing, seperti SRBI dan SUN. "Selama yield surat utang negara Amerika Serikat naik, kita juga mengejar. Tools yang paling kelihatan sekarang untuk menyerap likuiditas adalah instrumen seperti SRBI dan SUN yang yield-nya menarik," katanya. Myrdal juga menyoroti kinerja lelang surat utang pemerintah yang masih kuat. Menurutnya, permintaan investor terhadap SUN tetap tinggi, dengan penawaran masuk pada lelang terakhir mencapai sekitar dua kali lipat dari target indikatif. "Anginnya lagi bagus di Indonesia. Kalaupun ada tekanan koreksi, itu koreksi sehat," ujarnya. Dari sisi nilai tukar, Myrdal menilai penguatan dolar AS secara global masih dalam batas wajar. Dibandingkan sejumlah mata uang negara lain, pergerakan rupiah terhadap dolar AS masih relatif terkendali. "Kalau kita lihat tren penguatan dolar secara global wajar-wajar saja. Mata uang seperti yen pelemahannya terhadap dolar begitu drastis, tapi rupiah masih cukup smooth," katanya.
Ia memperkirakan rupiah pada akhir Juli 2026 masih akan berada di bawah level Rp18.000 per dolar AS. "Untuk posisi akhir Juli, proyeksi kami kemungkinan di Rp17.954 per dolar AS," pungkas Myrdal.
Baca Juga: Capital Inflow Berpotensi Menguat, The Fed dan BI Jadi Penentu Utama Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News