KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Prospek kinerja emiten batubara PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dinilai masih menunjukkan perbaikan pada 2026, meski dibayangi sejumlah hambatan struktural. Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menilai tiga tantangan utama ITMG meliputi ketidakpastian persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB), kenaikan tarif pajak efektif akibat implementasi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 18 Tahun 2025, serta potensi peningkatan kewajiban
Domestic Market Obligation (DMO). Meski demikian, Abida menyebut risiko terbesar dinilai mulai mereda. Per 6 April 2026, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menyetujui produksi batubara nasional sebesar 580 juta ton.
Baca Juga: Menilik Nasib Wijaya Karya (WIKA) dan Waskita Karya (WSKT) Lantai Bursa Selain itu, kontrak penjualan ITMG pada kuartal I-2026 telah terserap sekitar 98%-99% dari total 6,8 juta ton, sehingga risiko terbesar sudah terlewati. “Hambatan struktural sudah cukup terdiskon di harga saat ini, sementara pemulihan laba dan dividend yield yang menarik menjadi daya tarik utama. 2026 adalah tahun konsolidasi, bukan akselerasi,” ujar Abida kepada Kontan, Selasa (28/4/2026). Di sisi lain, sejumlah katalis positif dinilai dapat menopang kinerja ITMG sepanjang tahun ini. Salah satunya adalah disiplin biaya yang kuat dengan target cash cost sebesar US$ 43,7 per ton, didukung optimalisasi strip ratio ke level 8,8 kali. Selain itu, perusahaan juga memiliki buffer pasokan dari pihak ketiga sekitar 3-4 juta ton sepanjang 2026. ITMG juga mulai melakukan diversifikasi bisnis melalui akuisisi PT Adhi Kartiko Pratama serta pengembangan tambang baru oleh PT Nusa Persada Resources di Melak. “Permintaan batubara termal di Asia juga masih relatif solid, seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik global,” imbuh Abida. Lebih lanjut, Analis Maybank Sekuritas, Hasan Barakwan, memprediksi kenaikan kinerja ITMG seiring dengan dinamika struktural pasokan dan permintaan antara China dan Indonesia yang cenderung ketat. Kenaikan harga acuan batubara dan average selling price (ASP) mampu mengimbangi prospek produksi yang lebih lemah. Selain itu, visibilitas kinerja jangka pendek masih sangat baik, ditopang kontrak penjualan awal tahun yang besar serta potensi perbaikan biaya pada paruh kedua 2026. Sementara itu, Hasan juga mencatat rasio pengupasan (strip ratio) pada 2026 diperkirakan meningkat sementara ke kisaran 9,0–12,6 kali akibat aktivitas pre-stripping di tambang Bharinto Ekatama (BEK) dan Indominco Mandiri (IMM). “Namun, manajemen memperkirakan rasio ini akan menurun secara bertahap sehingga mendorong perbaikan biaya pada semester II-2026,” tulis Hasan dalam riset 10 Maret 2026. Dari sisi kinerja, ITMG mencatatkan produksi dan penjualan yang positif sepanjang tahun 2025. Perusahaan berhasil meningkatkan produksi batubara sebesar 5% menjadi 21,2 juta ton dan penjualan naik 3 penjualan menjadi 24,7 juta ton. Namun, pendapatan bersih ITMG terkoreksi 18,26% y
ear on year (yoy) menjadi US$ 1,88 miliar pada 2025, dari sebelumnya US$ 2,30 miliar. Laba bersih tercatat sebesar US$ 195 juta dengan marjin laba kotor 26%. Manajemen ITMG menyebut, penurunan pendapatan tersebut terutama disebabkan oleh berkurangnya harga jual rata-rata atau
average selling price (ASP) sebesar 20%. Sejalan dengan itu, penurunan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar 48,96% yoy menjadi US$ 190,94 juta pada 2025, dari sebelumnya yaitu US$ 374,12 juta. Melihat kondisi saat ini, Analis KB Valbury Sekuritas, Laurencia Hiemas dalam riset 11 Maret 2026, memberikan estimasi pendapatan ITMG pada tahun 2026 diproyeksikan turun menjadi Rp 1.318 miliar, lebih rendah 29,9% yoy dibandingkan realisasi 2025. Sejalan dengan itu, laba bersih juga diperkirakan menyusut. Pada 2026, laba bersih diproyeksikan sebesar Rp 152 miliar, turun dari estimasi 2025 yang mencapai Rp 191 miliar. Secara tahunan, laba bersih diperkirakan terkontraksi sekitar 20,4%. Selain itu, Laurencia juga mencermati, meski ITMG memiliki neraca yang kuat, dengan kas US$ 808 juta dan leverage minimal, visibilitas dividen melemah akibat ketidakpastian RKAB, dengan potensi rasio pembayaran dividen kembali ke sekitar 50%.
Dengan melihat kondisi tersebut, BRI Danareksa pun merekomendasikan buy untuk saham ITMG dengan target harga di level Rp 27.300 per saham. Kemudian Laurencia memberikan rekomendasi untuk hold saham ITMG dengan target harga Rp 25.000 per saham. Ada pun Hasan merekomendasikan buy saham ITMG dengan target harga Rp 28.300 per saham.
Baca Juga: GoTo Catatkan Laba Bersih Pertama Kali dalam Sejarah, On-Track Target Kinerja 2026 Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News