KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bumi Resources Minerals Tbk (
BRMS) dinilai tetap berpeluang mencetak kinerja cemerlang pada 2026 sekalipun saat ini diterpa oleh isu terkait tata kelola yang dihadapi anak usahanya, yakni PT Citra Palu Minerals (CPM). Dalam berita sebelumnya, BRMS menyebut Satgas Tugas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) menyegel satu titik area yang telah ditemukan adanya pembukaan lahan tanpa izin di kawasan hutan oleh para penambang liar. Area yang disegel tersebut merupakan bagian dari kontrak karya yang dikelola CPM yang sampai saat ini belum dioperasikan perusahaan tersebut. Baru-baru ini pula BRMS kembali diterpa isu terkait pembekuan izin CPM akibat penanganan limbah, meski Manajemen BRMS menepis isu tersebut dan mengaku tidak pernah menerima surat resmi terkait hal tersebut dari kementerian/lembaga mana pun.
Baca Juga: Menilik Prospek Kinerja Emiten Properti Grup Aguan yang Sahamnya Lesu di Awal 2026 Walau sudah memberi klarifikasi, isu tersebut berdampak pada pergerakan harga saham BRMS yang terkoreksi 5,77% dalam sepekan terakhir ke level Rp 980 per saham pada Rabu (25/2/2026). Sejak awal tahun, harga saham emiten Grup Bakrie ini merosot 10,91%
year to date (ytd). Padahal, harga emas masih berada dalam tren positif sepanjang 2026 berjalan. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, pelemahan harga saham BRMS akhir-akhir ini lebih disebabkan sentimen sementara dan bukan perubahan arah fundamental. Pelaku pasar terlihat khawatir terkait masalah yang menerpa CPM, sekalipun Manajemen BRMS sudah angkat bicara dan memastikan operasional CPM tetap berjalan normal. Senada, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menyampaikan, koreksi harga saham BRMS masih terbilang wajar dan bisa menetralkan valuasi yang sempat mahal. "Koreksi ini disebabkan kombinasi profit taking dan isu soal CPM," kata dia, Rabu (25/2/2026). Secara umum, prospek kinerja BRMS tetap positif yang ditopang oleh rencana peningkatan kapasitas pabrik bijih emas CPM di Poboya dari 500 ton per hari menjadi 1.000 ton per hari yang ditargetkan rampung pada Oktober 2026. Penambahan kapasitas ini tentu akan mendongkrak volume produksi emas BRMS secara eksponensial. Di samping itu, keberhasilan komersialisasi pabrik secara optimal dan harga emas dunia yang bertahan di level premium juga akan menjadi sentimen positif bagi kelangsungan kinerja BRMS pada 2026.
Saat ini, BRMS perlu fokus menuntaskan proyeknya secara tepat waktu sembari konsisten menerapkan disiplin pengendalian biaya. Di tengah harga jual emas yang tinggi, BRMS harus memastikan seluruh pabriknya beroperasi dengan tingkat utilitas maksimal dan tingkat ekstraksi yang tinggi. Nafan juga menyebut, dalam jangka panjang kinerja BRMS akan ditentukan oleh keberhasilan proyek tambang emas bawah tanah CPM yang beroperasi 2027 nanti. Kelak, tambang tersebut bakal menghasilkan emas kadar tinggi yakni sekitar 3,5--4,9 gram per ton (g/t). "BRMS sedang diuntungkan oleh momentum kenaikan harga emas dan proyek ekspansi anak usahanya," imbuh dia, Rabu (25/2).
Lantas, Nafan merekomendasikan
add saham BRMS dengan target harga di level Rp 1.260 per saham. Adapun Wafi menyarankan beli saham BRMS dengan target harga di level Rp 1.250 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News