KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja emiten sektor pertambangan batubara diproyeksi belum
fully recovered atau sepenuhnya pulih sejak isu Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) muncul ke permukaan. Pada kuartal II-2026, ruang pertumbuhan emiten diperkirakan terbatas akibat moderasi harga komoditas global serta risiko pendapatan akibat tingginya biaya operasional. Di samping itu, aturan kewajiban pemenuhan pasar domestik atau
Domestic Market Obligation (DMO) tetap menjadi penahan utama pergerakan rata-rata harga jual (
average selling price/ASP) jangka pendek, khususnya bagi produsen batubara dengan porsi penjualan domestik yang besar.
Research Analyst Bumiputera Sekuritas Muhammad Thoriq Fadilla mengatakan, hambatan administrasi selama masa transisi kebijakan ekspor satu pintu melalui DSI lebih berdampak pada penundaan volume pengiriman ekspor.
Baca Juga: Yield SUN 10 Tahun Masih Tinggi, Tenor Menengah Bisa Jadi Pilihan Investor Sementara itu, dari sisi perolehan harga, kewajiban alokasi pasokan ke pasar dalam negeri menjadi penekan utama nilai penjualan rata-rata yang dibukukan oleh emiten. "Kebijakan DMO memberikan tekanan terhadap
average selling price (ASP), khususnya bagi emiten dengan porsi penjualan domestik yang besar. Harga DMO yang masih dipatok sebesar US$ 70 per ton membuat selisih antara harga domestik dan harga ekspor semakin lebar ketika harga batubara internasional meningkat," ujar Thoriq kepada Kontan, Jumat (24/7/2026). Tekanan terhadap profitabilitas emiten pertambangan pada kuartal II-2026 kian diperberat oleh lonjakan biaya energi di tingkat operasional. Analis BRI Danareksa Sekuritas Erindra Krisnawan mencermati bahwa meskipun volume penjualan dan harga ekspor kuartal II-2026 naik secara
quarter-on-quarter (qoq) berkat cuaca yang lebih kering dan jumlah hari kerja yang lebih banyak, lonjakan biaya produksi berpotensi menggerus sebagian besar pertumbuhan pendapatan tersebut. Erindra memperkirakan biaya tunai (
cash cost) kuartal II-2026 melonjak hingga 29% qoq yang dipicu oleh kenaikan tajam harga bahan bakar minyak solar (
high speed diesel/HSD) domestik sebesar 35%–40% qoq. "Kami memperkirakan biaya akan mengimbangi sebagian besar manfaat pendapatan, terutama dengan kenaikan tajam harga bahan bakar, yang akan mengalir ke biaya penambangan, pengangkutan, dan logistik," jelas Erindra dalam risetnya, Rabu (22/7/2026). Kondisi biaya operasional yang membengkak ini berpotensi membuat pencapaian
Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization (EBITDA) emiten seperti PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (
AADI) dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (
ITMG) cenderung datar.
Baca Juga: Aset Recurring Income Jadi Penopang Emiten Properti, Ini Rekomendasi Sahamnya Di sisi lain, beban penyesuaian regulasi serta dinamika suku bunga tinggi turut membayangi profitabilitas emiten batubara dalam jangka menengah. Equity Research Analyst Sucor Sekuritas Yoga Ahmad Gifari mengungkapkan bahwa ketidakpastian mekanisme kepatuhan DSI fase II, wacana kenaikan tarif royalti mineral sebesar 2 hingga 4 persentase poin, serta lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun hingga level 7,1% memicu kenaikan asumsi
Weighted Average Cost of Capital (WACC) di seluruh emiten pertambangan. "Kami memangkas estimasi laba bersih di seluruh cakupan riset kami, mencerminkan ketidakpastian kepatuhan DSI, risiko royalti, dan lingkungan suku bunga yang lebih tinggi," tulis Yoga dalam risetnya, Jumat (3/7/2026). Kendati sektor ini dihadapkan pada ketidakpastian regulasi dan beban biaya, Senior Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas bilang, emiten yang berhasil mengamankan efisiensi operasional dan ekspansi kontrak baru masih memiliki prospek positif pada paruh kedua tahun ini. Sukarno mengatakan, langkah efisiensi biaya serta keterjaminan visibilitas pendapatan jangka panjang menjadi kunci utama bagi emiten untuk meredam dampak volatilitas harga batubara global serta tingginya beban pendanaan akibat kenaikan suku bunga. Secara keseluruhan, Erindra mempertahankan rating o
verweight untuk sektor batubara dalam jangka panjang, namun memangkas pandangan taktis jangka pendek (3 bulan) menjadi Neutral. Senada, Yoga merevisi pandangan sektor batubara menjadi Neutral seiring masih berjalannya proses penyesuaian valuasi di pasar. Erindra merekomendasikan
Buy untuk saham ITMG dengan target harga Rp 34.000 per saham, mengandalkan daya ungkit (
leverage) ekspor yang kuat serta potensi
dividend yield yang solid di tengah fluktuasi pasar.
Sementara itu, Yoga merekomendasikan beli untuk saham AADI dengan target harga Rp 12.600 per saham, didorong oleh ketahanan struktur biaya tunai yang rendah, neraca
net cash, serta potensi pembagian dividen spesial dari transaksi divestasi Kestrel. Yoga juga mempertahankan rekomendasi
hold untuk PTBA dengan target harga Rp 2.400 per saham karena penyesuaian WACC menahan potensi apresiasi valuasi. Adapun untuk DEWA, Yoga meningkatkan rekomendasi menjadi
Buy dengan target harga Rp 350 per saham seiring lompatan kinerja dari perolehan kontrak baru senilai Rp 22 triliun dan penyelesaian transisi menuju operasional mandiri secara penuh. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News