Prospek Kinerja PGN (PGAS) Diproyeksi Positif hingga 2027, Simak Rekomendasi Sahamnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) mencatatkan kinerja positif pada semester I-2026. Berdasarkan Laporan Keuangan di BEI Kamis (29/10/2026), pendapatan PGAS tumbuh 3,09% secara tahunan menjadi US$ 2 miliar. Sementara itu, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk meningkat 40,06% secara tahunan menjadi US$ 202,28 juta.

Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang menilai prospek PGAS masih cukup positif hingga akhir 2026 dan memasuki 2027. Prospek tersebut ditopang oleh kebutuhan gas domestik yang relatif stabil, penguatan kepastian pasokan, serta pengembangan bisnis LNG.

Menurut Alrich, pertumbuhan pendapatan dan laba bersih pada semester I-2026 menunjukkan perbaikan profitabilitas. Memasuki 2027, peluang pertumbuhan didukung penguatan kontrak pasokan gas jangka panjang dan optimalisasi infrastruktur LNG.


Baca Juga: Tensi Geopolitik Kerek Harga Minyak, Brent Berpeluang Tembus US$ 120 per Barel

Meski demikian, kinerja PGAS tetap dipengaruhi oleh ketersediaan pasokan, permintaan industri, harga pengadaan gas, nilai tukar rupiah, serta kemampuan menjaga margin distribusi dan niaga.

Terkait kerja sama dengan sejumlah produsen hulu migas, Alrich menilai langkah tersebut berpotensi positif karena memperkuat kepastian pasokan dan mengurangi ketergantungan terhadap sumber gas tertentu.

PGN telah menandatangani tujuh kesepakatan komersial dengan estimasi nilai transaksi sekitar US$ 9,07 miliar. Beberapa di antaranya mencakup potensi pasokan Medco Sakakemang hingga 38 BBTUD mulai 2027, EMP Bentu sekitar 4 BBTUD, serta pengadaan LNG dari South Hub dan North Hub. Selain itu, terdapat rencana pasokan LNG dari proyek Abadi Masela sebesar 775 TBTU selama 15 tahun sejak beroperasi secara komersial.

Meski begitu, Alrich melihat manfaat ekonomi dari kerja sama tersebut tetap bergantung pada realisasi volume, harga pengadaan, tingkat penyerapan pelanggan, dan margin penjualan.

“Sentimen positif dari peningkatan kebutuhan gas dari sektor industri dan pembangkit listrik, kepastian pasokan melalui kontrak jangka panjang, pengembangan bisnis LNG Hub dan peluang perdagangan LNG internasional, efisiensi operasional serta potensi peningkatan margin dan optimalisasi infrastruktur gas yang sudah dimiliki. Lalu, sentimen negatif terkait keterbatasan produksi gas domestik, kenaikan harga pengadaan gas dan LNG yang dapat menekan margin, pelemahan rupiah yang meningkatkan biaya pengadaan, ketidakpastian regulasi terkait harga dan alokasi gas dan perlambatan ekonomi yang berpotensi menekan permintaan industri,” ujar Alrich kepada Kontan, Jumat (30/10/2026).

Baca Juga: IHSG Melemah 0,80% ke 5.057 pada Jumat (30/10/2026), BRPT, CUAN, ISAT Top Losers LQ45

Lebih lanjut, Alrich mengatakan tantangan utama PGAS adalah menjaga keseimbangan antara kepastian pasokan, harga pengadaan, dan permintaan pelanggan. Penurunan produksi dari sejumlah lapangan gas tua serta kebutuhan investasi infrastruktur juga menjadi perhatian. Maka dari itu, untuk menghadapi tantangan tersebut PGAS perlu memperkuat diversifikasi pasokan, mengoptimalkan infrastruktur yang sudah dimiliki, meningkatkan efisiensi operasional, serta memperluas pelanggan industri dan bisnis LNG.

Menurutnya, fokus perusahaan bukan hanya meningkatkan volume penyaluran, tetapi juga memastikan pertumbuhan tersebut menghasilkan margin dan arus kas yang sehat. Secara fundamental, Alrich menilai PGAS masih menarik untuk dicermati dalam jangka menengah hingga panjang. Pertumbuhan laba bersih 40,06%, penguatan kontrak pasokan, serta peluang pengembangan bisnis LNG menjadi katalis positif bagi prospek perusahaan.

Dari sisi valuasi, saham PGAS juga perlu dicermati karena rasio PBV berada di kisaran 0,7 kali dan PER sekitar 5 hingga 8 kali. Menurut Alrich, angka tersebut menunjukkan valuasi saham PGAS relatif rendah. Namun, valuasi murah tidak otomatis menjadi indikasi bahwa harga saham akan segera rebound.

“Dari sisi teknikal pun saat ini masih cenderung wait and see karena belum breakout dari area resistance 1400 untuk konfirmasi rebound,” tuturnya.

Baca Juga: Rupiah Ditutup Melemah Rp 18.147 Per Dolar AS Hari Ini (30/10), Asia Menguat

Di sisi lain, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai prospek kinerja PGAS hingga akhir 2026 dan memasuki 2027 masih cukup positif dengan kecenderungan moderately bullish. Pertumbuhan pendapatan dan laba bersih pada semester I-2026 menunjukkan bahwa perusahaan masih mampu menjaga fundamental bisnis di tengah dinamika industri energi global.

Ke depannya, prospek PGAS akan ditopang oleh peningkatan kebutuhan gas bumi domestik, optimalisasi infrastruktur transmisi dan distribusi gas, pertumbuhan pelanggan industri, serta penguatan bisnis LNG.

Selain itu, stabilitas pasokan gas dan kemampuan perusahaan dalam menjaga efisiensi operasional akan menjadi faktor penting dalam mempertahankan pertumbuhan profitabilitas. Apabila kondisi makroekonomi domestik semakin kondusif dan aktivitas industri meningkat, hal tersebut berpotensi memberikan kontribusi positif terhadap volume penyaluran gas maupun pendapatan perseroan.

Terkait kerja sama dengan sejumlah produsen hulu migas, Nafan menilai langkah tersebut berpotensi memberikan dampak positif yang cukup signifikan terhadap keberlanjutan bisnis PGAS.

Menurutnya, kepastian pasokan merupakan salah satu faktor fundamental bagi perusahaan yang bergerak di bidang transmisi, distribusi, dan niaga gas bumi. Diversifikasi antara gas pipa dan LNG juga akan meningkatkan fleksibilitas perseroan dalam memenuhi kebutuhan pelanggan. Dengan demikian, kerja sama tersebut berpotensi memperkuat visibilitas pendapatan jangka panjang, meningkatkan utilisasi infrastruktur, serta menjaga kesinambungan operasional perusahaan.

Namun, realisasi manfaat ekonominya tetap bergantung pada kepastian jadwal produksi, harga pembelian gas, serta kemampuan PGAS dalam menyerap dan menyalurkan pasokan tersebut secara optimal.

Dari sisi sentimen positif, Nafan menyebut terdapat beberapa katalis yang berpotensi menopang kinerja maupun pergerakan saham PGAS, di antaranya pertumbuhan kebutuhan gas bumi domestik, penguatan kerja sama dengan produsen hulu migas, peningkatan kapasitas infrastruktur distribusi dan transmisi, serta ekspansi bisnis LNG.

Selain itu, prospek pertumbuhan ekonomi domestik dan peningkatan aktivitas sektor manufaktur berpotensi mendorong permintaan gas bumi dari pelanggan industri. Kebijakan pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi nasional dan mendorong pemanfaatan gas sebagai energi transisi juga dapat menjadi katalis tambahan.

Adapun sentimen negatif yang perlu dicermati mencakup penurunan produksi gas dari sejumlah lapangan domestik, ketidakpastian pasokan, fluktuasi harga LNG global, potensi pelemahan nilai tukar rupiah, serta risiko ketidaksesuaian antara harga beli gas dan harga jual kepada pelanggan.

Kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) juga perlu diperhatikan karena dapat mempengaruhi fleksibilitas margin perusahaan. Dari perspektif pasar modal, volatilitas IHSG, arus dana investor asing, tingkat suku bunga, dan persepsi risiko terhadap sektor energi turut memengaruhi valuasi saham PGAS.

“Tantangan utama PGAS ke depan adalah menjaga keseimbangan antara ketersediaan pasokan gas, keterjangkauan harga jual, dan keberlanjutan margin keuntungan. Hal ini menjadi semakin penting karena penurunan produksi dari lapangan-lapangan gas yang telah memasuki fase maturitas berpotensi meningkatkan ketergantungan terhadap pasokan LNG yang memiliki struktur harga berbeda. Selain itu, perseroan perlu mengantisipasi risiko fluktuasi kurs, kenaikan biaya operasional, kebutuhan belanja modal, serta persaingan dengan sumber energi alternatif,” tutur Nafan.

Oleh karena itu, Nafan menilai PGAS perlu memperkuat strategi diversifikasi sumber pasokan melalui kerja sama jangka panjang dengan produsen hulu migas, mengoptimalkan integrasi infrastruktur gas pipa dan LNG, serta meningkatkan efisiensi operasional. 

Perusahaan juga perlu memperluas basis pelanggan industri dan komersial, mengembangkan pasar gas di wilayah yang belum terlayani secara optimal, serta menjaga disiplin pengelolaan arus kas dan struktur permodalan. Dengan strategi tersebut, PGAS diharapkan mampu mempertahankan daya saing sekaligus menciptakan pertumbuhan bisnis yang lebih berkelanjutan.

Untuk rekomendasi saham, Nafan menyarankan investor untuk wait and see terhadap saham PGAS saat ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News