Prospek Kinerja Triputra Agro (TAPG) Membaik di Semester II, Cek Rekomendasi Sahamnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) diproyeksikan menorehkan pertumbuhan yang positif pada paruh kedua tahun ini.

Peluang membaiknya performa emiten kelapa sawit tersebut didorong oleh kombinasi faktor internal perseroan dan dukungan insentif industri migas domestik.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai bahwa prospek TAPG hingga kuartal III-2026 secara umum menunjukkan arah yang relatif solid. 


Nafan menjelaskan bahwa pemulihan volume produksi musiman bakal menjadi pendorong utama kinerja operasional perseroan di semester kedua.

Baca Juga: Bursa Asia Bergerak Mixed pada Kamis (30/7) Pagi, Mayoritas Indeks Menguat

Selain itu, pergerakan harga minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) global yang cenderung stabil turut menjaga marjin profitabilitas perseroan.

Katalis positif lainnya datang dari dorongan kebijakan pemerintah terkait insentif energi terbarukan di dalam negeri.

"Secara fundamental, prospek TAPG hingga kuartal III-2026 terlihat konstruktif," kata Nafan kepada Kontan, Rabu (29/7/2026).

Penguatan fundamental tersebut berpotensi menopang kinerja keuangan TAPG melampaui capaian di semester I-2026.

Berdasarkan laporan keuangan per kuartal I-2026, TAPG mencatatkan pendapatan sebesar Rp 2,5 triliun dengan perolehan laba bersih sebesar Rp 767 miliar.

Prospek pemulihan pada kuartal III-2026 didukung oleh pergeseran siklus panen Tandan Buah Segar (TBS) yang lebih banyak terkonsentrasi di semester II dengan porsi distribusi mencapai 52%.

Perseroan juga membidik pertumbuhan produksi TBS sebesar 6% hingga 10% pada tahun ini yang ditopang oleh profil usia tanaman produktif. 

Dari sisi sentimen industri, rencana perluasan program mandatori Biodiesel B50 pada semester II-2026 berpotensi memperkuat tingkat penyerapan CPO pasar domestik.

Baca Juga: Harga Minyak Terkoreksi Tipis pada Kamis (30/7) Pagi, Setelah Melonjak Tajam Kemarin

Kementerian ESDM mengalkulasi kebutuhan B50 bakal menyerap sekitar 15,2 juta hingga 16,3 juta ton CPO nasional.

Peningkatan konsumsi bahan bakar nabati tersebut berpeluang besar untuk menjaga kestabilan harga jual rata-rata CPO TAPG di pasar lokal. 

Meski demikian, investor disarankan tetap mencermati sejumlah tantangan operasional yang berpotensi membayangi laju pertumbuhan perseroan.

"Di sisi lain, volatilitas harga CPO global, biaya pupuk, kondisi cuaca, dan dinamika permintaan ekspor tetap menjadi faktor risiko yang perlu dipantau karena akan menentukan seberapa kuat pemulihan kinerja perseroan pada paruh kedua tahun ini," ujar Nafan.

Analis Ciptadana Sekuritas Asia Yasmin Soulisa menambahkan bahwa alokasi belanja modal TAPG tahun ini diperkirakan mencapai Rp 920 miliar.

Dana tersebut utamanya digunakan untuk pembangunan pabrik kelapa sawit baru berkapasitas 45 ton per jam serta program replanting rutin seluas 4.000 hektar per tahun.

Sementara itu, Analis Phillip Sekuritas Indonesia Marvin Lievincent mengamati pergerakan harga CPO futures Malaysia saat ini berada di kisaran MYR 4.506 per ton. 

Mempertimbangkan apresiasi harga saham yang sudah terjadi beserta jajaran katalis fundamental tersebut, pergerakan saham TAPG dinilai telah mencapai area penilaian yang optimal.

Melihat potensi kenaikan yang sudah terkonfirmasi, Nafan merekomendasikan take profit pada saham TAPG.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News