Prospek Mayapada Hospital (SRAJ) di Semester II 2026 Masih Menantang, Ini Pemicunya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ) pada semester II-2026 masih menghadapi sejumlah tantangan.

Meski pendapatan berpotensi terus tumbuh seiring kontribusi fasilitas baru, tingginya beban operasional dan keuangan diperkirakan membuat pemulihan profitabilitas berjalan lebih lambat.

Baca Juga: Prospek CMRY di Semester II 2026 Masih Positif, Ini Katalis dan Risikonya


Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi mengatakan, kenaikan beban umum dan administrasi SRAJ yang jauh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pendapatan menunjukkan tekanan biaya akibat ekspansi perusahaan.

"Rugi bersih naik hampir empat kali menunjukkan magnitude cost pressure lebih besar dari antisipasi," ujar Wafi kepada Kontan, Senin (24/8/2026).

Pada semester I-2026, pendapatan SRAJ tumbuh 9,6% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp 1,30 triliun. Namun, beban umum dan administrasi melonjak 22,30% menjadi Rp 504,58 miliar.

Kenaikan beban tersebut turut menekan profitabilitas. SRAJ membukukan rugi bersih Rp 244,68 miliar pada semester I-2026, membengkak dibandingkan rugi Rp 65,55 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Menurut Wafi, ruang efisiensi SRAJ pada semester II-2026 masih terbatas karena sejumlah fasilitas baru masih berada dalam tahap awal pengembangan atau ramp-up.

Fasilitas baru pada umumnya membutuhkan waktu sekitar 18-36 bulan untuk mencapai tingkat utilisasi yang optimal.

Baca Juga: Satu Visi Putra (VISI) Siapkan Private Placement 307,5 Juta Saham

Selama periode tersebut, perusahaan masih harus menanggung biaya operasional dan investasi sebelum kontribusi pendapatan mencapai skala yang diharapkan.

"Cost structure kemungkinan tetap membebani hingga pendapatan benar-benar meningkat," katanya.

Dengan kondisi tersebut, Wafi memperkirakan kinerja SRAJ hingga akhir 2026 masih akan menantang. Pendapatan berpotensi tetap tumbuh positif, tetapi pemulihan profitabilitas diperkirakan belum terjadi dalam waktu dekat.

Ekspansi Masih Tekan Margin

Senada, Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand mengatakan, kenaikan beban umum dan administrasi menjadi salah satu faktor utama yang menekan profitabilitas SRAJ.

Menurut Abida, kenaikan biaya tersebut berkaitan dengan ekspansi melalui RS Mayapada Cakung dan MEC Sudirman.

Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp 17.723 Hari Ini, Cek Proyeksi untuk Rabu (26/8)

Karena bersifat struktural selama fase ramp-up fasilitas baru, ruang pemangkasan biaya dalam jangka pendek dinilai terbatas.

"Ekspansi besar ini berpotensi meningkatkan utang dan terus menekan margin dalam jangka pendek," jelas Abida.

Abida menyebut manajemen menargetkan pendapatan SRAJ tumbuh 10%-15% YoY pada 2026. Target tersebut diharapkan ditopang oleh kontribusi fasilitas baru.

Untuk mendukung ekspansi jaringan dan penguatan layanan berteknologi tinggi, SRAJ mengalokasikan belanja modal sekitar Rp 1,5 triliun hingga 2026.

Namun, Abida memperkirakan rugi bersih SRAJ masih berpotensi berlanjut pada semester II-2026 sebelum fasilitas baru mencapai tingkat utilisasi yang lebih optimal.

 
SRAJ Chart by TradingView