Prospek Mayora di antara ekspansi dan beban bunga



JAKARTA. Produsen permen kopi merek Kopiko, PT Mayora Indah Tbk (MYOR), sedang getol memacu bisnis. Sejumlah ekspansi bisnis disiapkan emiten ini demi menopang kinerja keuangannya.Pembuat biskuit merek Roma ini, misalnya, akan meningkatkan kapasitas produksi dengan anggaran Rp 500 miliar. Perinciannya, Rp 350 miliar untuk pengembangan pabrik biskuit dan berbagai fasilitas pabrik yang berlokasi di Tangerang, Banten.

MYOR mengalokasikan Rp 100 miliar untuk membiayai modal rutin beberapa divisinya seperti wafer, coklat dan kembang gula. Sisanya akan digunakan untuk pengembangan pabrik pengolahan biji coklat di Tangerang.

Jansen Kustianto, Analis Sinarmas Sekuritas, memproyeksikan, tahun ini MYOR berpotensi meraup laba bersih Rp 700 miliar, naik sekitar 45% ketimbang laba bersih tahun 2011. Proyeksi ini belum memasukkan penambahan kapasitas pabrik.


Alasannya, sumbangan pabrik baru itu terhadap kinerja keuangan MYOR akan terasa setelah pabrik ini beroperasi selama setahun. Nah, kenaikan kinerja MYOR itu lebih banyak ditopang oleh peningkatan daya beli masyarakat dan peningkatan ekspor.

Kalkulasi Jansen, tahun ini ekspor MYOR berpotensi menopang 30% terhadap pendapatan MYOR. "Angka ini naik dari tahun lalu yang sekitar 27%. Padahal pada 2005 kontribusi ekspr hanya 5%," ungkap Jansen, Senin (24/4).

Tertekan beban bunga

Namun, sumber dana untuk ekspansi akan mempengaruhi laba bersih MYOR. Sekadar mengingatkan, perseroan ini membiayai ekspansi senilai Rp 500 miliar dari penerbitan Obligasi IV Mayora Indah Tahun 2012. MYOR menawarkan kupon berkisar 8,25%-9,25%.

Anggaran Rp 250 miliar akan ditutupi dari Sukuk Mudharabah II Mayora Indah Tahun 2012. Sukuk ini menawarkan kupon 7,75%-9%.Hitungan Mardesiana, Analis Danareksa Sekuritas, beban bunga perseroan ini pada tahun 2012 sebesar Rp 174 miliar, naik dari tahun Rp 143 miliar. "Utang bersih Mayora akan menjadi sekitar Rp1,9 triliun tahun ini," kata Mardesiana, dalam risetnya.

Menurut Jansen, beban bunga memang berdampak terhadap laba bersih MYOR, tapi tidak signifikan. Malah menurut perhitungannya, net profit margin MYOR tahun ini sekitar 6,1% naik dari tahun lalu yang sebesar 4,4%. Sebab, harga komoditas turun dari tahun lalu, sementara harga produk MYOR tak menurun.

Persoalan yang dihadapi MYOR adalah kenaikan biaya produksi. Lihat saja, Harga Pokok Penjualan (HPP) MYOR di tahun lalu mencapai Rp 7,79 triliun, sementara penjualannya sebesar Rp 9,45 triliun. Ini membuat laba kotor MYOR Rp 1,65 triliun.

Mardesiana dan Reggy Susanto, Analis Deutche Bank AG, merekomendasikan buy MYOR dengan target harga masing-masing Rp 21.550 dan Rp 25.000 per saham. Target saham milik Mardesiana mencerminkan price to earning ratio (PER) sebesar 18,3 kali. "PER ini di bawah rata-rata sektor konsumer yang 19 kali," kata Mardesiana. Sedang, Octavius Oky Prakarsa, Analis Mandiri Sekuritas, merekomendasikan sell dengan target harga Rp 12.000 per saham. Kemarin, MYOR ditutup melemah 1,52% menjadi Rp 19.400 per saham. n

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News