Prospek Migas Natuna D-Alpha Besar, Ini Tantangan yang Harus Dihadapi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pengembangan Blok Natuna D-Alpha kembali menjadi sorotan setelah PT Nations Petroleum ditetapkan sebagai pemenang lelang wilayah kerja (WK) migas tersebut. Dari total komitmen investasi enam WK Migas yang dilelang Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), porsi terbesar dialokasikan untuk Natuna D-Alpha.

Kementerian ESDM resmi mengumumkan pemenang lelang enam Wilayah Kerja Minyak dan Gas Bumi (WK Migas) dengan total komitmen investasi mencapai US$ 141,51 juta.

PT Nations Petroleum menjadi pemenang lelang Blok Natuna D-Alpha dengan komitmen investasi sebesar US$ 103,3 juta untuk tiga tahun pertama. Perusahaan tersebut merupakan entitas usaha PT Arsari Group milik Hashim Djojohadikusumo, adik dari Presiden Prabowo Subianto.


Pakar Energi dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyakti menilai, komitmen investasi tersebut masih berada pada tahap awal eksplorasi sehingga belum memberikan tambahan produksi migas nasional dalam waktu dekat.

Pasalnya, sekitar 73% dari total komitmen investasi enam WK Migas yang dilelang terkonsentrasi di Blok Natuna D-Alpha, yakni mencapai US$ 103,3 juta.

Baca Juga: Bioetanol E50 Belum Realistis, Pemerintah Diminta Fokus E10 dan E20

"Dua hal perlu dibaca lebih dulu, pertama, ini komitmen mencari, bukan cadangan pasti. Angka komitmen adalah janji belanja untuk survei seismik, studi, dan pengeboran. Berapa cadangan yang benar-benar ada baru diketahui setelah dibor. Setelah itu pun, dari temuan sampai produksi pertama biasa berjarak 6 sampai 15 tahun," ujarnya kepada Kontan.co.id, Minggu (20/9/2026).

Yayan menyebut Blok Natuna D-Alpha memang memiliki potensi sumber daya gas yang sangat besar. Namun, kondisi lapangan membuat pengembangannya menghadapi tantangan teknis dan keekonomian yang tidak ringan.

Salah satu persoalan utama adalah tingginya kandungan karbon dioksida (CO2) dalam gas Natuna D-Alpha. Kondisi tersebut membuat proses pemisahan CO2 membutuhkan teknologi serta biaya yang besar.

"Gasnya termasuk yang terbesar di dunia, namun sekitar 71% isinya CO2. Kuncinya bukan berapa banyak gasnya, melainkan berapa mahal memisahkan CO2-nya," terangnya.

Yayan mengungkapkan, volume gas yang tersimpan di bawah tanah Natuna D-Alpha diperkirakan mencapai 222 Trillion Cubic Feet (TCF). Sementara itu, potensi gas yang dapat diekstrak diperkirakan sekitar 46 TCF.

Menurutnya, angka tersebut setara dengan seluruh cadangan gas terbukti nasional saat ini atau setara dengan laju produksi gas Indonesia selama kurang lebih 19 tahun.

Baca Juga: IMI Soroti Kecilnya Porsi Produksi BUMN di Sektor Minerba

Namun, tingginya kandungan CO2 membuat pengembangan Blok Natuna D-Alpha membutuhkan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) dengan biaya yang sangat tinggi. Yayan menyoroti studi kelayakan lama yang menunjukkan proyek Natuna D-Alpha baru mencapai titik keekonomian apabila harga minyak dunia berada di atas US$ 100 per barel.

Adapun komitmen investasi PT Nations Petroleum sebesar US$ 103,3 juta pada tiga tahun pertama diperkirakan masih difokuskan untuk kegiatan eksplorasi dan persiapan teknis.

Yayan melihat tahapan tersebut mencakup pemetaan geologi, studi terpadu mengenai penanganan CO2, hingga pembangunan unit percontohan. Menurutnya, seluruh kegiatan tersebut diperlukan untuk menguji apakah biaya pengelolaan CO2 dapat ditekan hingga mencapai tingkat yang efisien.

Besarnya kebutuhan modal dan kompleksitas teknologi juga membuat pengembangan Natuna D-Alpha berpotensi membutuhkan dukungan dari mitra strategis global. Terlebih, investasi untuk pengembangan penuh blok tersebut diproyeksikan mencapai puluhan miliar dolar AS.

"Mitra hampir pasti diperlukan, karena pengembangan penuh menelan puluhan miliar dolar dan perusahaan sebesar Exxon dan Total pun sudah mundur," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News