Prospek reksadana saham syariah Majoris & Capital



Reksadana saham syariah bisa jadi pilihan instrumen investasi Anda di awal tahun ini. Dan, pilihan produk reksadana saham syariah pun semakin banyak.

Pada 6 Februari lalu, PT Capital Asset Management meluncurkan Reksadana Syariah Capital Sharia Equity. Empat hari kemudian, 10 Februari, PT Majoris Asset Management merilis Reksadana Majoris Saham Syariah Indonesia.

Selain ada permintaan, Desmon Silitonga, Fund Manager Capital Asset, mengatakan, peluncuran produk tersebut lantaran masih ada ruang sangat besar untuk mengembangkan reksadana saham syariah.


Per Januari lalu, dana kelolaan reksadana ini hanya 4,4% dari total asset under management (AUM) industri reksadana di tanah air yang mencapai Rp 352,7 triliun. Ini berarti, “Dengan porsi sekecil itu, manajer investasi sebenarnya masih punya ruang lebih besar untuk mengembangkan reksadana saham syariah,” ungkapnya.

Segendang sepenarian, Zufa Hendri, President Director Majoris Asset, bilang, pangsa pasar reksadana saham syariah masih sangat kecil. Artinya, ruang untuk berkembang sangat besar. Kuncinya sekarang adalah: manajer investasi bukan sekadar mengenalkan reksadana saham syariah, juga membuatnya betul-betul menarik. Sehingga, investor menjadi tertarik.

Di atas indeks

Tahun lalu, menurut Wawan Hendrayana, Senior Research & Investment Analyst Infovesta Utama, kinerja reksadana syariah sangat baik. Kinerjanya di atas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), bahkan di atas reksadana saham konvensional.

Pertumbuhan indeks reksadana saham konvensional tahun lalu sebesar 15%, sementara indeks reksadana saham syariah di atas itu, hampir 18%. “Didukung oleh sektor komoditas yang tahun lalu kenaikannya sangat tinggi,” kata dia.

Untuk tahun ini, tren perbaikan harga komoditas bakal membuat performa reksadana saham syariah tetap bagus. Wawan memprediksikan, rata-rata imbal hasilnya di 2017 bisa 10% hingga 12%. Tidak tertutup kemungkinan, return-nya di atas IHSG, mencapai 15%.

Tapi, Majoris Asset berani memasang target imbal hasil yang lebih tinggi untuk produknya, yakni 16%–18%. “Selama keadaan pasar mendukung, kami cukup optimistis target itu bisa tercapai,” ujar Tandy Cahyadi, Head of Business Development Majoris Asset.

Beda dengan Majoris Asset, Capital Asset belum menetapkan target imbal hasil untuk produknya. Yang jelas, Desmon berharap, imbal hasil Capital Sharia Equity tahun ini tidak akan berbeda jauh-jauh dari kinerja Jakarta Islamic Index (JII) yang jadi acuan (benchmark).

Sebelum menetapkan pilihan, ada baiknya Anda mempelajari dulu strategi investasi dari kedua manajer investasi itu dalam meracik produk-produknya. Nah, berikut ulasannya:

  • Capital Sharia Equity

Agar imbal hasil produk ini sepanjang 2017 tidak jauh-jauh dari kinerja JII, Capital Asset akan menempatkan dana kelolaan minimal 80% dan maksimal 100% pada efek syariah bersifat ekuitas yang termasuk dalam Daftar Efek Syariah.

Sedang minimum 0% dan maksimum 20% di instrumen pasar uang syariah dalam negeri dan deposito perbankan syariah.

Untuk penempatan dana kelolaan di saham syariah, anak usaha PT Bank Capital Indonesia Tbk ini mengincar saham-saham sektor komoditas, konsumer, dan infrastruktur.

Secara tren, Desmon menjelaskan, harga minyak kelapa sawit (CPO) dan komoditas lain mulai naik. Sebab, ekonomi Amerika Serikat (AS) dan China mulai membaik yang mendorong pemulihan perekonomian dunia. Tentu, saham sektor komoditas terkena imbasnya.

Sedang saham sektor infrastruktur jadi pilihan lantaran pemerintah akan terus mendorong pembangunan infrastruktur hingga 2019 mendatang.

Tambah lagi, kinerja saham-saham berbasis infrastruktur dalam dua tahun terakhir cukup positif. “Lalu, pertumbuhan ekonomi negara kita ditopang hampir 60% konsumsi. Makanya, kami akan masuk ke saham sektor itu,” kata Desmon.

Guna meraih imbal hasil yang maksimal, dalam penempatan dana kelolaan di saham syariah, Capital Asset bakal menerapkan strategi aktif dan pasif, dengan komposisi 30:70. “Jadi, 30% dari dana kelolaan yang ditempatkan di saham syariah akan kami trading-kan. Sementara saham sektor defensif kayak konsumer, biasanya jadi pasifnya,” ujar Desmon.

Untuk penempatan dana kelolaan di deposito, Capital Asset akan memilih deposito dengan jatuh tempo paling lama tiga bulan. Ini juga dalam rangka memaksimalkan imbal hasil Capital Sharia Equity.

Itu sebabnya, manajer investasi yang beroperasi mulai 2013 lalu ini melihat suku bunganya.

Anda tertarik? Capital Asset membidik investor ritel dan institusi. Biaya pembelian awal dari produk tersebut minimal sebesar Rp 500.000, sedang pembelian selanjutnya minimum hanya Rp 100.000.

Dalam tiga bulan setelah peluncuran Capital Sharia Equity, Capital menargetkan raihan dana kelolaan sebanyak Rp 10 miliar.

Cuma, Desmon mengingatkan, bahwa produk reksadana saham syariah ini lebih cocok untuk investasi jangka menengah panjang. “Karena yang namanya saham menghasilkan kinerja yang cukup bagus minimal tiga tahun. Kalau bisa lima tahun itu lebih bagus lagi,” jelas dia.

  • Majoris Saham Syariah

Untuk penempatan dana kelolaan, Majoris Asset menggunakan kebijakan investasi yang sama dengan Capital Asset. Mereka akan menaruh 80%–100% dana kelolaan pada keranjang saham syariah, sedang 0%-20% di pasar uang syariah dan deposito bank syariah.

Bedanya, Majoris Asset menggunakan strategi analisis bottom-up dalam pemilihan saham maupun pengalokasian portofolio. Berapa dana kelolaan yang mesti masuk ke saham-saham dengan kategori growth stock dan ke saham-saham berkategori value stock. “Ini yang membuat kami agak  beda dari yang lain,” kata Tandy.

Pendekatan bottom-up artinya, Tandy menjelaskan, diandalkan dalam pemilihan saham syariah adalah kinerja dari emiten. Jadi, Majoris Asset bukan memproyeksikan harga saham. Tentu, mereka juga melihat kondisi perekonomian yang terefleksi pada kinerja emiten.

Tapi, Majoris Asset tidak spesifik membidik sektor saham yang jadi gacoan dalam penempatan dana kelolaan produk reksadananya. Mereka mengincar semua sektor saham yang sesuai dengan target-target yang diharapkan.

“Kami bisa saja suatu saat kuat di sektor tambang, konsumer, atau telekomunikasi. Tetapi, bisa saja di periode berikutnya kami ke sektor lain,” beber Tandy.

Dengan menerapkan strategi itu, Majoris Asset mengharapkan, bisa mengoptimalkan potensi imbal hasil produk reksadana saham syariahnya. “Sambil kami bisa juga menjaga tingkat risiko yang ada dari risiko pasar yang inheren, karena volatilitas itu pasti ada. Kami bukan menghindari risiko, ya, kami mengelolanya,” tegas Tandy.

Untuk penempatan dana kelolaan di instrumen pasar uang, Majoris Asset akan menaruhnya di keranjang sukuk negara yang memiliki jatuh tempo kurang dari satu tahun. Sementara untuk penempatan di deposito, pilihannya pada produk dengan jangka waktu satu bulan.

Bagi yang berminat, menurut Zufa, Majoris Saham Syariah lebih cocok untuk investor yang punya horizon panjang. Jadi, bukan pemodal yang mengharapkan pendapatan setiap bulan.

Produk ini juga pas untuk investor yang bisa menerima tingkat risiko yang relatif lebih tinggi. “Tentu, investor mesti aware dan mempunyai toleransi risiko yang cukup lebar untuk menerima itu,” katanya.

Baik investor ritel maupun institusi bisa berinvestasi di Majoris Saham Syariah. Investasi awal dan selanjutnya dari produk ini minimal Rp 1 juta.

“Kalau berinvestasi sebaiknya angkanya juga harus signifikan, tidak hanya sekadar coba-coba,” imbuh Tandy. Tahun ini, target dana kelolaan Majoris Saham Syariah mencapai Rp 100 miliar–Rp 200 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: S.S. Kurniawan