Prospek Rupiah Semester II-2026 Bergantung pada Tiga Faktor Ini



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah masih berada dalam tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menjelang paruh kedua tahun 2026. Meski berbagai langkah stabilisasi telah ditempuh oleh Bank Indonesia (BI), sejumlah ekonom menilai penguatan rupiah secara berkelanjutan masih menghadapi tantangan besar dari faktor eksternal maupun domestik.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,20% secara harian ke level Rp 17.881 per dolar AS pada Jumat (29/5/2026).

Dalam sepekan terakhir, mata uang Garuda terkoreksi 0,91% dari posisi Rp 17.717 per dolar AS pada 22 Mei 2026. Secara year to date (ytd), rupiah telah terdepresiasi 6,91% dibanding posisi awal tahun di level Rp 16.725 per dolar AS.


Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai kenaikan suku bunga acuan BI sebelumnya memang membantu meredam tekanan terhadap rupiah. Namun, kebijakan tersebut belum cukup kuat untuk membalikkan tren pelemahan secara berkelanjutan.

“Sementara sumber tekanan rupiah berasal dari banyak jalur: impor energi, arus keluar modal, kebutuhan dolar musiman, tekanan fiskal, dan keraguan terhadap arah kebijakan,” ujar Josua kepada Kontan, Jumat (29/5/2026).

Baca Juga: Merdeka Copper (MDKA) Gelar RUPSLB 23 Juni, Bahas Private Placement & Bagi Dividen

Menurut Josua, pengalaman sejumlah negara Asia juga menunjukkan bahwa kenaikan suku bunga tidak selalu mampu memberikan dukungan jangka panjang terhadap mata uang domestik.

Bloomberg mencatat bahwa meskipun beberapa bank sentral di Asia mulai memperketat kebijakan moneter, mata uang mereka tetap berada di dekat level terlemah karena kenaikan suku bunga yang ditujukan untuk menahan inflasi impor hanya memberikan efek terbatas terhadap kurs.

Ia menekankan bahwa stabilitas rupiah tidak hanya bergantung pada tingkat suku bunga, tetapi juga membutuhkan pasokan devisa yang memadai dan kepercayaan pasar terhadap arah kebijakan ekonomi.

Tiga Syarat Stabilitas Rupiah Semester II-2026

Josua memperkirakan kondisi rupiah pada semester II-2026 akan lebih stabil dibandingkan periode Mei 2026. Namun, stabilitas tersebut dinilai masih rapuh dan sangat bergantung pada tiga faktor utama.

Pertama, ketegangan geopolitik di Timur Tengah harus benar-benar mereda sehingga harga minyak dunia dapat turun dan kebutuhan dolar AS untuk impor energi berkurang.

Kedua, Bank Indonesia perlu terus menjaga daya tarik aset rupiah melalui kombinasi kebijakan suku bunga, Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), operasi pasar valuta asing, serta stabilisasi pasar Surat Berharga Negara (SBN) tanpa menggerus cadangan devisa secara berlebihan.

Ketiga, pemerintah perlu memperkuat disiplin fiskal sekaligus memastikan kebijakan devisa hasil ekspor sumber daya alam (DHE SDA) mampu meningkatkan pasokan devisa secara efektif.

“Jika ketiga syarat ini terpenuhi, rupiah bisa mulai bergerak lebih stabil pada semester II, tetapi jika salah satunya gagal, tekanan ke Rp18.000 tetap terbuka,” terang Josua.

Selain itu, ia mengidentifikasi sejumlah sentimen yang akan menentukan arah rupiah ke depan, mulai dari harga minyak dunia, perkembangan hubungan AS-Iran, arah kebijakan suku bunga AS, pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS, hingga arus modal asing yang masuk ke pasar saham dan obligasi Indonesia.

Baca Juga: IHSG Melemah 0,56% Sepekan, Rupiah dan Rebalancing MSCI Jadi Tekanan

Faktor lain yang juga perlu dicermati adalah kredibilitas kebijakan fiskal, implementasi DHE SDA, neraca transaksi berjalan, serta sentimen pasar saham terkait isu MSCI dan aksi jual bersih investor asing yang dapat meningkatkan kebutuhan konversi rupiah ke dolar AS.

Di samping itu, kebutuhan dolar untuk pembayaran dividen, pelunasan utang luar negeri, dan impor energi masih berpotensi memicu tekanan musiman terhadap rupiah pada periode tertentu.

“Jadi, rupiah semester II tidak hanya ditentukan oleh BI, tetapi oleh kombinasi antara pasar global, APBN, ekspor, impor, dan kepercayaan investor terhadap konsistensi kebijakan,” ujar Josua.

Lima Faktor Penentu Pergerakan Rupiah

Pandangan serupa disampaikan Ekonom sekaligus Guru Besar Universitas Andalas, Syafruddin Karimi. Menurutnya, terdapat lima faktor utama yang akan memengaruhi pergerakan rupiah pada paruh kedua tahun ini.

Pertama, arah suku bunga global dan kekuatan dolar AS masih menjadi faktor dominan dalam menentukan arus modal ke negara berkembang. Jika imbal hasil aset berbasis dolar tetap tinggi, investor akan meminta premi risiko yang lebih besar untuk menahan aset berdenominasi rupiah.

Kedua, kredibilitas kebijakan Bank Indonesia menjadi kunci penting. Kenaikan suku bunga acuan ke level 5,25% menunjukkan komitmen BI dalam menjaga stabilitas, namun pasar masih menunggu konsistensi komunikasi dan efektivitas intervensi yang dilakukan.

Ketiga, kinerja sektor eksternal perlu diperkuat mengingat pertumbuhan impor saat ini lebih cepat dibandingkan ekspor. Di sisi lain, surplus neraca perdagangan juga mulai menyempit dibandingkan tahun sebelumnya.

Keempat, persepsi risiko terhadap Indonesia turut memberikan tekanan terhadap nilai tukar. Syafruddin mencatat credit default swap (CDS) tenor lima tahun yang berada di kisaran 90 basis poin serta yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun sekitar 6,7% menunjukkan pasar masih meminta kompensasi risiko yang relatif tinggi.

Baca Juga: Rugi Bersih BUMA Internasional Grup (DOID) Susut 66% Kuartal I-2026

Kelima, kualitas kebijakan fiskal akan menjadi faktor penentu dalam menjaga kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.

“Belanja pemerintah harus memperkuat produktivitas, ekspor, dan basis penerimaan negara agar rupiah memperoleh dukungan fundamental yang lebih kokoh,” ucap Syafruddin.

Proyeksi Rupiah Hingga Akhir 2026

Dari sisi proyeksi, Josua memperkirakan rupiah pada semester II-2026 akan bergerak dalam kisaran dasar Rp 17.300 hingga Rp 17.900 per dolar AS.

Dalam skenario yang lebih positif, apabila gencatan senjata AS-Iran berjalan efektif, harga minyak dunia menurun, dolar AS melemah, dan arus modal asing kembali masuk ke pasar domestik, rupiah berpotensi menguat ke kisaran Rp 17.000 hingga Rp 17.300 per dolar AS pada akhir tahun.

Sementara itu, Syafruddin memperkirakan rupiah akan bergerak pada rentang yang lebih lemah, yakni Rp 17.900 hingga Rp 18.400 per dolar AS pada semester II-2026. Titik tengah proyeksinya berada di kisaran Rp 18.150 hingga Rp 18.250 per dolar AS.

Proyeksi tersebut sejalan dengan sinyal yang tercermin pada pasar forward dan non-deliverable forward (NDF), yang menempatkan kurs USD/IDR tiga bulan mendekati Rp 18.000 per dolar AS, tenor enam bulan di kisaran Rp 18.100–Rp 18.125 per dolar AS, serta tenor satu tahun di level Rp 18.300–Rp 18.340 per dolar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News