KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek emiten maskapai penerbangan PT Garuda Indonesia Tbk (
GIAA) dan PT AirAsia Indonesia Tbk (
CMPP) diperkirakan masih melanjutkan tren pemulihan hingga akhir 2026. Momentum peak season libur akhir tahun diproyeksikan menjadi katalis utama yang mendorong peningkatan jumlah penumpang dan pendapatan kedua maskapai tersebut. Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Kevin Yudha Pratama, menilai kinerja GIAA dan CMPP masih berpotensi membaik pada sisa tahun ini, seiring meningkatnya trafik penumpang dan tingkat okupansi penerbangan.
“Kami melihat kinerja untuk GIAA dan CMPP sampai akhir tahun 2026 masih bisa membaik, terutama karena dorongan dari libur akhir tahun, yang biasanya dapat mendorong jumlah penumpang, jumlah kursi yang terisi, dan pendapatan tiket,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (23/7/2026). Meski prospek pendapatan dinilai positif, Kevin mengingatkan bahwa kenaikan pendapatan belum tentu langsung berbanding lurus dengan peningkatan laba bersih. Pasalnya, industri penerbangan masih menghadapi tekanan biaya operasional yang cukup tinggi.
Baca Juga: Dapat Kontrak Triliunan, Intip Prospek Kinerja dan Saham Singaraja Putra (SINI) Beberapa faktor yang menjadi tantangan antara lain harga avtur yang fluktuatif, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), biaya perawatan (maintenance), serta tingginya beban pembiayaan. Dari sisi operasional, Kevin menilai pertumbuhan trafik penumpang memberikan kontribusi besar terhadap peningkatan pendapatan maskapai, terutama apabila harga tiket tetap terjaga dan utilisasi armada berjalan optimal. Namun, ia menekankan bahwa keberhasilan maskapai dalam meningkatkan profitabilitas tetap sangat bergantung pada kemampuan mengendalikan biaya operasional. “Trafik penumpang memang berdampak besar ke pendapatan, tapi profitabilitas masih tergantung pada kemampuan menahan kenaikan biaya operasional,” jelasnya. Sementara itu, kebijakan bagasi baru berbasis piece concept yang diterapkan Garuda Indonesia dinilai berpotensi menjadi sumber pendapatan tambahan melalui ancillary revenue atau pendapatan di luar penjualan tiket.
Baca Juga: IHSG Melemah Tipis Dalam Sepekan, Dibayangi Tekanan Global dan Aksi Profit Taking Meski demikian, efektivitas kebijakan tersebut terhadap daya saing perusahaan akan ditentukan oleh kejelasan implementasi aturan serta daya tarik fasilitas bagasi yang ditawarkan dibandingkan maskapai pesaing. Di sisi lain, Kevin mengingatkan bahwa risiko eksternal masih menjadi faktor yang perlu dicermati investor. Fluktuasi nilai tukar rupiah dan harga avtur berpotensi menekan kinerja keuangan maskapai karena sebagian besar biaya operasional masih menggunakan denominasi dolar AS, termasuk untuk bahan bakar, sewa pesawat, dan biaya perawatan.
“Ketika rupiah melemah dan harga avtur naik bersamaan, kenaikan pendapatan dari penumpang bisa tidak cukup untuk menutup kenaikan biaya,” tambahnya. Dari sisi investasi, Kiwoom Sekuritas Indonesia merekomendasikan trading buy untuk saham GIAA dengan target harga di kisaran Rp61-Rp64 per saham. Rekomendasi tersebut didukung oleh prospek perbaikan operasional dan reaktivasi armada yang diperkirakan berlanjut hingga akhir tahun. Sementara itu, untuk saham CMPP, Kiwoom masih mempertahankan rekomendasi wait and see karena saham maskapai tersebut masih berada dalam kondisi suspensi di Bursa Efek Indonesia. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News