KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek pasar Surat Berharga Negara (SBN) pada 2026 dinilai masih terbuka bagi aliran dana asing (capital inflow), meskipun imbal hasil (yield) saat ini masih bertahan di level tinggi. Belakangan yield SBN memang cenderung menanjak naik. Di awal tahun pada 2 Januari 2026, yield SBN tenor 10 tahun berada di level 6,04%. Kini per 25 Maret 2026, yield SBN 10 tahun berada di level 6,84% atau mendekati 7%. Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi mengatakan, potensi capital inflow ke pasar obligasi Indonesia sejatinya masih tetap ada, namun pergerakannya akan cenderung selektif.
Baca Juga: Cek Proyeksi IHSG di Perdagangan Senin (30/3) dan Sentimennya Menurutnya, terdapat tiga katalis utama yang dapat mendorong masuknya dana asing ke pasar SBN.
Pertama, stabilitas nilai tukar rupiah yang akan memperbaiki persepsi return investor global.
Kedua, yield US Treasury mulai turun lebih meyakinkan sehingga spread SBN Indonesia kembali terlihat menarik tanpa harus dibebani risiko global yang terlalu berat.
Ketiga kredibilitas fiskal dan inflasi domestik tetap terjaga, sehingga pasar percaya yield tinggi saat ini sudah cukup menarik untuk masuk. “Dengan yield SBN 10 tahun di sekitar 6,84%, Indonesia sebenarnya masih menawarkan carry yang menarik. Jadi potensi inflow tetap ada, terutama jika tensi geopolitik mereda, harga energi stabil, dan BI mampu menjaga stabilitas kurs, inflasi, dan likuiditas pasar obligasi,” ujar Syafruddin kepada Kontan, Jumat (27/3/2026). Namun demikian, ia menilai investor masih cenderung menahan diri untuk masuk secara besar-besaran sebelum melihat kepastian yang lebih kuat di pasar global maupun domestik. Lebih lanjut melihat kondisi saat ini, Syafruddin memperkirakan yield SBN tenor 10 tahun masih berpeluang menurun pada semester I 2026. Hanya saja, penurunannya diperkirakan terbatas dan berlangsung secara bertahap. Dalam skenario dasar, yield dapat bergerak turun dari level saat ini apabila didukung oleh stabilisasi atau penguatan rupiah, pelonggaran yield global, serta peningkatan permintaan terhadap SBN baik dari investor domestik maupun asing. Sebaliknya, jika dolar AS tetap kuat, tensi geopolitik mendorong kenaikan harga energi, dan yield US Treasury bertahan tinggi, maka yield SBN akan sulit turun signifikan dan berpotensi bertahan di kisaran 6,8%-7,0%.
Baca Juga: Hermina (HEAL) Raih Kenaikan Pendapatan di Tengah Turunnya Laba Bersih pada 2025 “Jadi prospek semester I 2026 lebih tepat dibaca sebagai stabilisasi dengan kecenderungan menurun tipis, bukan penurunan tajam,” jelas Syafruddin. Syafruddin menekankan, arah pergerakan yield SBN ke depan sangat ditentukan oleh stabilitas nilai tukar rupiah, persepsi terhadap kondisi fiskal domestik, serta dinamika pasar obligasi global. “Kalau tiga faktor itu membaik, yield SBN 10 tahun bisa turun. Kalau tidak, pasar akan tetap menahan yield tinggi sebagai bentuk kehati-hatian,” tutupnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News