Proxsis & Co Genjot Solusi AI Korporasi, Buka Peluang IPO Tiga - Lima Tahun ke Depan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Proxsis & Co mulai menyiapkan ekspansi bisnis untuk tiga hingga lima tahun mendatang dengan mengandalkan solusi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk perusahaan. Di tengah pengembangan bisnis tersebut, perusahaan konsultan dan penyedia solusi korporasi ini juga membuka peluang melantai di Bursa Efek Indonesia melalui penawaran umum perdana saham alias initial public offering (IPO).

Founder Proxsis & Co Rudy Maulana mengatakan, pengembangan solusi AI untuk kebutuhan perusahaan atau enterprise menjadi salah satu fokus utama. Proxsis melihat peluang pertumbuhan dari adopsi AI di tingkat korporasi yang masih terbatas, sementara kebutuhan terhadap teknologi tersebut mulai meningkat.

“Ini salah satu alasan kenapa kita sekarang gencar menelurkan solusi-solusi AI dan enterprise. Karena itu yang akan kita scale up dan jadi salah satu layanan utama kita ke depan,” ujar Rudy dalam keterangannya, Jumat (16/10/2026).


Baca Juga: Penyusunan Perpres Hampir Final, Bahlil Sebut BP BUMN di Bawah Kemenko Hilirisasi

Menurut Rudy, penerapan AI di perusahaan tidak cukup hanya mengandalkan aplikasi percakapan. Teknologi tersebut perlu terintegrasi dengan proses bisnis, infrastruktur, pengetahuan khusus industri, serta kesiapan sumber daya manusia agar dapat memberikan manfaat nyata bagi operasional perusahaan.

Untuk menjawab kebutuhan itu, Proxsis mengembangkan AI for Enterprise Solution, yakni sistem AI yang dirancang untuk diterapkan di lingkungan korporasi. Perusahaan juga telah menguji sejumlah solusi yang dikembangkan dan berupaya menjadikan penerapan teknologi di internal perusahaan sebagai contoh bagi pelanggan.

Pengembangan layanan AI tersebut menjadi bagian dari evolusi bisnis Proxsis. Perusahaan yang memulai kiprahnya sebagai konsultan manajemen pada 2005 dengan fokus pada standar ISO dan proses bisnis ini kini berkembang menjadi penyedia solusi korporasi dengan lebih dari 50 unit bisnis.

Layanan yang ditawarkan mencakup teknologi informasi, sumber daya manusia, strategi, pemasaran, kesehatan dan keselamatan kerja, lingkungan, outsourcing, pelatihan, konsultasi, hingga audit.

Dari berbagai lini tersebut, jasa konsultasi menyumbang sekitar 40% terhadap bisnis Proxsis. Pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia menjadi salah satu kontributor terbesar berikutnya. Untuk mendukung layanan pelatihan, perusahaan memiliki 14 pusat pelatihan.

Proxsis juga menyebut telah melayani sekitar 60%–70% perusahaan Fortune 500 yang beroperasi di Indonesia. Ke depan, perusahaan membidik peluang dari sektor yang semakin bergantung pada teknologi, terutama manufaktur berpresisi tinggi dan perbankan.

Di sektor perbankan, misalnya, Proxsis melihat peluang pengembangan sistem penilaian kredit (credit scoring) dengan memanfaatkan data alternatif. Data transaksi dompet digital dan pembayaran tagihan telepon dapat menjadi masukan untuk membantu perusahaan mengolah informasi serta mendukung pengambilan keputusan bisnis.

Baca Juga: Buntut Antrean Panjang SPBU, Bahlil Minta Kapolri Tindak Pengepul BBM Subsidi

Selain mengembangkan solusi bagi pelanggan, Proxsis juga mendorong inovasi dari internal perusahaan. Karyawan mendapatkan pelatihan dan pendampingan untuk membuat aplikasi berbasis AI. Sejauh ini, sekitar 16 unit kerja telah mengembangkan aplikasi masing-masing untuk mengikuti kompetisi internal.

Solusi yang dihasilkan dari kompetisi tersebut berpeluang dikembangkan lebih lanjut menjadi produk komersial yang dapat ditawarkan kepada pelanggan.

Bidik pertumbuhan bisnis 30% pada 2027

Di tengah transformasi bisnis dan pengembangan layanan baru, Proxsis menargetkan pertumbuhan usaha sekitar 30% pada 2027.

Co-Founder sekaligus Komisaris Utama Proxsis & Co Roni Sutrisno mengatakan, perusahaan ingin menjaga keseimbangan antara ekspansi dan kekuatan fundamental bisnis agar pertumbuhan tetap berkelanjutan.

“Sekitar 30%. Kalau terlalu cepat atau terlalu tinggi kan juga jelek. Tapi kami 30%. Itu menurut kami sweet spot-nya, sehingga fundamentalnya tidak terlewati, tetapi momentum pertumbuhan tetap didapat,” ujar Roni.

Ia menambahkan, Proxsis selama ini mencatat pertumbuhan bisnis yang agresif, dengan skala usaha hampir berlipat ganda setiap tiga tahun. Perusahaan ingin mempertahankan momentum tersebut melalui inovasi dan pengembangan solusi korporasi yang semakin terintegrasi dengan sistem cerdas.

Saat ini, Proxsis didukung sekitar 320 karyawan tetap. Jika tenaga asosiasi dan pelatih turut diperhitungkan, jumlah tenaga profesional yang terlibat mencapai lebih dari 500 orang.

Pengembangan bisnis berbasis AI dan rencana IPO menjadi bagian dari arah pertumbuhan Proxsis dalam beberapa tahun ke depan. Melalui strategi tersebut, perusahaan berupaya memperluas layanan sekaligus memperkuat fondasi bisnis untuk menangkap kebutuhan transformasi digital di kalangan korporasi.

Baca Juga: Mendag: Kewajiban 30% Promosi UMKM di Department Store Tetap Berlaku

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News