Proyek PLTS 100 GW Bakal Sasar Lahan 28.000 Hektare, Waduk, Hingga Jalan Tol



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah bersama PT PLN (Persero) terus mencari cara untuk merealisasikan target Presiden Prabowo Subianto mencapai kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 Gigawatt (GW). PLN telah menyusun quick wins untuk mulai mengeksekusi megaproyek tersebut.

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengungkapkan bahwa program quick wins mencakup 27,4 Gigawatt peak (GWp) PLTS dan Battery Energy Storage System (BESS) dengan kapasitas 82,5 Gigawatt hour (GWh). Dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI pada Kamis (2/7/2026), Darmawan membeberkan bahwa quick wins tersebut diturunkan ke dalam empat program.

Pertama, "Fat Burning Program" untuk mengeliminasi penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) di sistem kelistrikan besar. Melalui program ini, PLN menargetkan bisa mengganti penggunaan 1,9 juta kiloliter BBM dengan PLTS berkapasitas 6,9 GWp dan 15,5 GWh BESS.


Baca Juga: Danantara Klaim Restrukturisasi Dongkrak Kinerja BUMN, KRAS hingga KAEF Berbalik Laba

Kedua, pelaksanaana proyek PLTS yang tertuang dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 untuk meningkatkan keandalan sistem di Jawa. Pada program ini, PLN menargetkan tambahan kapasitas PLTS 7 GWp yang disertai dengan 28 GWh BESS.

Ketiga, pemanfaatan waduk untuk penguatan sistem listrik Jawa, dengan estimasi tambahan kapasitas 10,3 GWp PLTS dan 30 GWh BESS. PLN mengestimasikan proyek ini akan membutuhkan luas lahan sekitar 10.000 hektare (ha). 

Keempat, mengelimasi BBM di 741 lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) sistem isolated. Program ini akan mengganti 800.000 kiloliter BBM dengan 3,2 GWp PLTS dan 9 GWh BESS.

Selain itu, PLN juga menyiapkan program "super technology green corridor", yang memanfaatkan lahan di pinggir jalan tol untuk membangun PLTS. Darmawan mengatakan, PLN sudah berkomunikasi dengan PT Jasa Marga  (Persero) Tbk (JSMR) untuk membentuk kemitraan strategis (strategic alliance).

PLN dan Jasa Marga mengidentifikasi sekitar 802,2 kilometer (km) koridor jalan tol yang berpotensi dikembangkan sebagai PLTS corridor berbasis right-of-way. Dengan lebar kedua sisi sekitar 3 - 5 meter, maka ada potensi luas lahan sekitar 401 ha.

Baca Juga: Klaim Perbaikan Kinerja BUMN di Bawah Danantara Belum Tercermin pada Laporan Keuangan

Luas lahan di koridor jalan tol itu berpotensi dimanfaatkan untuk membangun PLTS dengan kapasitas sekitar 400 Megawatt peak (MWp). PLN mengidentifikasi pemanfaatan ruas jalan tol di Pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Kepulauan Riau. 

Darmawan optimistis pelaksanaan target PLTS 100 GW bisa memenuhi keekonomian proyek yang kompetitif. Sebab, ada komitmen dari pemerintah untuk membantu penyediaan lahan. Darmawan mengakui bahwa selama ini penyediaan lahan menjadi tantangan utama terhadap pelaksanaan proyek PLTS.

Dia menggambarkan, dengan estimasi harga lahan Rp 200.000 per meter, maka ada peningkatan harga listrik sekitar US$ 1 cent per kilowatt-hour (kWh). Jika harga lahannya mencapai Rp 600.000 per meter, maka tambahan harganya mencapai US$ 3 cent per kWh.

"Khusus untuk program ini, karena tanah sudah disediakan oleh pemerintah dan juga menggunakan waduk-waduk, tentu saja ini menjadikan program PLTS ditambah BESS dari program Presiden ini menjadi program yang secara keekonomian menjadi sangat kompetitif," kata Darmawan.

Baca Juga: Bogasari Perkuat Bisnis Pangan Lewat UMKM, Dorong Nilai Tambah Produk Lokal

Darmawan menambahkan, PLN terus berkomunikasi secara intensif dengan pemerintah terkait penyediaan lahan, Yakni dengan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Menurut Darmawan, Kementerian ATR/BPN menyiapkan lahan sekitar 28.000 ha.

Dari jumlah tersebut, PLN telah melakukan penyesuaian data (overlay) dengan peta jaringan transmisi dan gardu induk. Hasilnya, PLN mengidentifikasi ada sekitar 8.500 ha lahan yang siap digunakan untuk membangun sekitar 8,5 GWp PLTS.

Sedangkan untuk pemanfaatan waduk, PLN berkomunikasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dan Kementerian ESDM. sudah ada enam waduk di Pulau Jawa yang sudah teridendifikasi.

Keenam waduk tersebut adalah Waduk Jatiluhur (PLTS 2,27 GWp dan BESS 6,52 GWh), Waduk Cirata (PLTS 1,71 GWp dan BESS 4,90 GWh), Waduk Saguling (PLTS 1,48 GWp dan BESS 4,17 GWh), Waduk Jatigede (PLTS 1,13 GWp dan BESS 3,89 GWh), Waduk Kedung Ombo (PLTS 1,26 GWp dan BESS 3,61 GWh) dan Waduk Gajah Mungkur (PLTS 2,42 GWp dan BESS 6,91 GWh).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News