Proyek SUTT Bontang telan dana Rp 354 miliar



JAKARTA. PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Unit Induk Pembangunan X Kalimantan Timur akhirnya mampu  menyelesaikan proyek pembangunan saluran udara tegangan tinggi (SUTT) 150 kilo volt (kV) Sambutan–Bontang. Proyek SUTT ini akan masuk dalam sistem kelistrikan Mahakam, yang mencakup beberapa wilayah di sana.

Perlu diketahui, jaringan listrik SUTT 150 kV itu terpusat dari Samarinda melalui Gardu Induk (GI) Sambutan ke arah Bontang. SUTT sepanjang 90 kilometer (km) dengan jumlah menara 245 unit itu sudah mulai dibangun sejak tahun 2009 lalu.

Murtaqi Syamsuddin, Direktur Perencanaan dan Pembinaan Afiliasi PLN membeberkan, investasi dari proyek pembangunan GI dan juga SUTT Sambutan Bontang memang cukup besar. "Investasinya mencapai Rp 354 miliar," ungkap Murtaqi kepada KONTAN, Minggu (9/8).


Saat ini proyek tersebut sudah selesai dibangun dan sejak 25 Juli 2014 lalu sudah dioperasikan. Manajer Senior Komunikasi Korporat PLN, Bambang Dwiyanto, menambahkan, pihaknya memang sudah mengoperasikan jaringan listrik (transmisi) 150 kV tersebut mulai dialiri listrik setelah beberapa rangkaian pemeriksaan dan pengujian, baik di sepanjang jalur transmisi maupun di lokasi GI yang akan dihubungkan oleh jaringan tersebut.

Dengan beroperasinya transmisi 150 kV, pelanggan listrik di wilayah Bontang dengan beban puncak sebesar 21,4 megawatt (MW) akan mendapatkan suplai energi listrik yang diperoleh dari sistem Mahakam ataupun sebaliknya. Kebutuhan listrik di Samarinda dapat diperoleh dari kelebihan daya dari pembangkit di Bontang.

Bambang menjelaskan, dengan adanya kelebihan daya pembangkit listrik tenaga mini gas (PLTMG) sebesar 8 MW, pengoperasian transmisi tersebut akan mampu menyalurkan energi listrik ke sistem Mahakam yang mencakup wilayah Samarinda-Balikpapan dan Bontang. Adapun potensi penghematan dari penggunaan bahan bakar minyak (BBM) ke gas yang dilakukan PLN, kurang lebih sebesar Rp 300 juta per hari

Taksiran itu dengan basis hitungan selisih biaya pokok produksi (BPP) antara BBM (HSD) dan gas yang sebesar Rp 1.668 per kWh. "Jika transmisi 150 kV beroperasi dan masuk ke Sistem Mahakam dengan tambahan daya dari excess power PLTMG Bontang maka PLN diharapkan dapat melakukan penghematan sebesar Rp 9,4 miliar per bulan," terang Bambang.

Lanjutkan proyek lain

Dengan selesainya Pembangunan SUTT 150 kV Sambutan–Bontang, Bambang bilang, hal ini membuktikan bahwa PLN terus berusaha untuk memenuhi kebutuhan energi listrik di wilayah Kalimantan Timur. Selain itu PLN terus  memperluas jaringan interkoneksi dan sekaligus memperkuat sistem yang telah ada.

Kendati demikian pelaksanaan proyek ini bukan tanpa hambatan. Bambang menceritakan, molornya penyelesaian proyek SUTT tersebut karena mengalami beberapa kendala, seperti, sulitnya pembebasan lahan, pemberian ganti rugi dan penolakan masyarakat atau pengusaha tambang batu bara yang dilintasi jaringan 150 kV. "Pada tahun 2013 sebanyak lima titik tower terpaksa kami pindahkan (reroute) agar pekerjaan bisa dilanjutkan," jelasnya.

Selain itu, PLN saat ini tengah fokus menyelesaikan jaringan transmisi Palaran–Senipah, Tenggarong–Kotabangun, Karangjoang. Selain itu juga jaringan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Kaltim–Petung–Kuaro–Tanjung dan PLTU Kaltim 2x110 MW.

Agar rencana PLN di Kalimantan ini segera terwujud di PLN sangat berharap peranan dan dukungan dari masyarakat setempat, terutama dalam hal pembebasan lahan. Alhasil, semua wilayah ini bisa mendapatkan setrum. "Peran dan partisipasi aktif masyarakat dalam tahapan pembebasan lahan sangat menentukan keberhasilan target pembangunan kelistrikan tersebut," tandasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Hendra Gunawan