Proyek SWAP Station Bizhare Hasilkan Dividend Yield Lebih dari 40% di Tengah Tren EV



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Seiring dengan meningkatnya adopsi kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) di Indonesia, platform urun dana Bizhare turut menangkap ini sebagai tren yang positif.

Sepanjang tahun 2025 hingga awal 2026, Bizhare telah menjalankan pendanaan Environmental, Social, and Governance (ESG), terutama di sektor infrastruktur transisi energi melalui proyek SWAP Station atau tempat penukaran baterai untuk motor listrik yang didanai bersama SWAP Energi.

"Pendanaan ini dilakukan secara bertahap atau multi-batch agar eksekusi proyek dapat dimonitor secara lebih disiplin," jelas Founder dan CEO Bizhare, Heinrich Vincent kepada Kontan, Selasa (28/4/26).


Adapun batch pembukaan SWAP Station dilakukan dalam beberapa tahap, pertama adalah membuka 40 titik di wilayah Jakarta, kemudian 20 titik di wilayah Jakarta dan Tangerang, dan terakhir 9 titik di wilayah Jakarta dan Tangerang.

Baca Juga: Rupiah Melemah Jadi Rp 17.243, Tekanan Geopolitik dan The Fed Membayangi

Dari ketiga batch tersebut, Bizhare mencatat total pendanaan sebesar Rp6,04 miliar dengan 484 investor. Sementara secara return, bisnis SWAP Station ini tercatat menghasilkan dividend yield lebih dari 40% per tahun.

Menurutnya, proyek ESG dengan struktur yang terkurasi baik, pertumbuhan, dan model bisnis yang jelas berpeluang menghasilkan tingkat keberhasilan pendanaan yang sangat tinggi dan waktu pendanaan yang relatif singkat.

Dalam konteks SWAP Station, ia menilai proyek ini menarik karena memiliki potensi pendapatan berulang, didukung ekosistem kendaraan listrik, serta dikelola operator berpengalaman sehingga mampu menarik minat investor.

Selain itu, keberhasilan proyek SWAP Station juga didorong oleh langkah perusahaan dalam menerapkan skema pendanaan bertahap dan komitmen melakukan pembukaan pendanaan baru ketika batch sebelumnya sudah berhasil mencapai target dan menunjukkan kinerja operasional yang sehat.

"Hal inilah yang membuat investor terus menantikan project selanjutnya dari SWAP," katanya.

Lebih lanjut, Heinrich menyebut pendanaan ESG bukan sekadar tren musiman belaka. Apalagi dengan sejumlah indikator yang mendukung keberlanjutan bisnis ini, terutama dari sektor transisi energi.

Misalnya, regulasi pemerintah untuk kendaraan listrik, target Nationally Determined Contribution (NDC), dan dorongan OJK terhadap sustainable finance sebagai sikap jangka panjang dari kondisi gejolak harga bahan bakar minyak imbas perang di timur tengah.

Selanjutnya, dari sisi permintaan, kebutuhan infrastruktur battery swap diperkirakan akan terus meningkat seiring proyeksi PLN yang memperkirakan kebutuhan puluhan unit hingga 2030.

Terakhir, tren investor ritel Indonesia, khususnya generasi muda yang makin selektif dan tidak lagi semata berorientasi pada imbal hasil, tetapi juga mempertimbangkan dampak keberlanjutan dari investasi tersebut.

Baca Juga: Laba Phapros (PEHA) Melonjak di Kuartal I-2026, Cermati Rekomendasi Sahamnya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News