Proyek Waste to Energy Danantara Dorong Harga Saham, Ini Daftar Jagoannya



KONTAN.CO.ID - Jakarta. Proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) atau waste to energy (WtE) milik Danantara mendorong kenaikan harga sejumlah saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Kondisi ini memicu minat investor untuk mencermati saham-saham yang berpotensi memiliki prospek cerah ke depan.

Sentimen penguatan saham tersebut sejalan dengan rencana Danantara yang akan mengumumkan pemenang lelang proyek PSEL pada Februari 2026.

Berdasarkan data, dari total 24 peserta lelang, seluruhnya merupakan perusahaan asing. Mayoritas berasal dari China dengan jumlah mencapai 20 perusahaan, sementara sisanya terdiri dari tiga perusahaan asal Jepang dan satu perusahaan asal Prancis.


Sejumlah emiten domestik tercatat memiliki keterkaitan langsung dengan proyek waste to energy ini, di antaranya PT Boston Furniture Industries Tbk (SOFA) dan PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA).

Baca Juga: Rekomendasi Saham Jumat (23/1), BRI Danareksa: Buy HMSP, AADI, SRTG dan Sell FUTR

SOFA melalui anak usahanya, PT Parivarta Energi Nusantara, telah menandatangani perjanjian pembentukan konsorsium dengan perusahaan asal China, Hunan Construction Engineering Group Co., serta perusahaan Malaysia, Kintan Usahasama Sdn. Bhd.

Sejak awal, konsorsium tersebut memang dibentuk untuk mengikuti tender proyek waste to energy Danantara. Adapun Hunan Construction Engineering Group Co. tercatat sebagai salah satu peserta lelang proyek PSEL.

Sementara itu, OASA juga membidik peluang berpartisipasi dalam proyek PSEL untuk wilayah Bogor Raya dan Denpasar Raya. Untuk merealisasikan target tersebut, OASA bergabung dalam konsorsium bersama Grandblue Environment Co. Ltd.

Selain SOFA dan OASA, terdapat pula emiten lain yang dikaitkan dengan proyek PSEL Danantara, yakni PT Multi Hanna Kreasindo Tbk (MHKI), PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA), PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI), dan PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC).

Pergerakan saham-saham tersebut terpantau kompak menguat sejak awal tahun, terutama menjelang pengumuman pemenang tender. Saham SOFA tercatat menguat 25,27% secara year to date (YTD) ke level Rp 466 per Kamis (22/1).

Saham OASA bahkan melonjak 80,30% secara YTD ke posisi Rp 476. Sementara saham TOBA naik 10,81% sepanjang tahun berjalan 2026 hingga mencapai harga Rp 830 per Kamis (22/1).

Baca Juga: Saham Konglomerasi 2026: Grup Lippo Melesat, Prajogo Justru Anjlok!

Ringkasan Saham Terkait Proyek PSEL Danantara:

- PT Boston Furniture Industries Tbk (SOFA)     Keterkaitan: Konsorsium proyek PSEL Danantara     Kinerja YTD: Naik 25,27%     Harga terakhir: Rp 466  

- PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA)     Keterkaitan: Konsorsium PSEL wilayah Bogor Raya dan Denpasar Raya     Kinerja YTD: Naik 80,30%     Harga terakhir: Rp 476  

- PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA)     Keterkaitan: Bisnis energi dan infrastruktur pendukung     Kinerja YTD: Naik 10,81%     Harga terakhir: Rp 830  

- PT Multi Hanna Kreasindo Tbk (MHKI)     Keterkaitan: Pengelolaan sampah dan limbah     Kinerja YTD: Positif     Harga terakhir: Rp 254

Baca Juga: Wall Street Ditutup Naik Kamis (22/1), Terdorong Pelonggaran Tarif dan Data Positif

Rekomendasi Saham

Senior Equity Analyst Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas, menilai kenaikan saham BIPI, IMPC, OASA, SOFA, MHKI, dan TOBA sejak awal tahun lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen proyek waste to energy.

Namun dari sisi fundamental, Sukarno menilai MHKI menjadi emiten yang menarik karena mampu mencatatkan pertumbuhan kinerja baik dari sisi pendapatan maupun laba bersih, dengan valuasi yang relatif masih murah.

Berdasarkan laporan keuangan per 30 September, MHKI membukukan pendapatan sebesar Rp 148,80 miliar, tumbuh 23,83% secara tahunan (YoY) dibandingkan Rp 120,16 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari sisi laba bersih, MHKI mencatatkan laba tahun berjalan sebesar Rp 27,12 miliar hingga kuartal III-2025, meningkat 20,35% YoY dari Rp 22,53 miliar.

“Prospek pertumbuhan kinerja MHKI pada tahun ini seiring pembangunan pabrik di Lamongan yang berpotensi menjadi katalis positif,” ujar Sukarno kepada Kontan, Kamis (22/1).

Sukarno pun menyarankan investor dengan profil risiko konservatif untuk berfokus pada emiten berfundamental kuat. Sementara saham berbasis sentimen dinilai lebih cocok untuk strategi trading jangka pendek dengan penerapan manajemen risiko yang ketat.

Bos BI Akui Gaduh Pencalonan Deputi Gubernur Pengaruhi Pelemahan Rupiah
© 2026 Konten oleh Kontan

Selanjutnya: Milku Tambah Varian Baru Rasa Marie Biskuit untuk Sarapan dan Camilan

Menarik Dibaca: Milku Tambah Varian Baru Rasa Marie Biskuit untuk Sarapan dan Camilan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News